Jelang Hari Kemerdekaan : Menuntut Tanggungjawab Nasionalisme Lembaga Penyiaran

Radio
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, balipuspanews.com – Industri penyiaran sebagai sebuah bisnis tidak dapat lepas dari upaya untuk mengejar rating. Rating bagi lembaga penyiaran memang penting bila ditinjau dari sudut pandang bisnis penyiaran yang sarat padat modal.

Apalagi rating menjadi sebuah pedoman bagi pemasang iklan untuk membidik konsumen. Pengiklan juga selalu secara rasional memilih beriklan pada program siaran yang memiliki rating tertinggi.

Cukup disayangkan ditengah kepentingan bisnis, lembaga penyiaran melupakan tanggungjawab memandu publik pemilik frekuensi untuk menjaga dan meneguhkan semangat nasionalisme.

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran dengan jelas telah mengamanatkan pada pasal 3 bahwa tujuan penyiaran adalah untuk memperkokoh integrasi nasional. Pasal 5 poin c juga dengan tegas menyebutkan bahwa penyiaran diarahkan untuk menjaga dan mempererat persatuan serta kesatuan bangsa.

Ketentuan tersebut telah memberi penegasan bahwa penyiaran bukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi atau bisnis. Penyiaran lebih diarahkan untuk kepentingan nasional masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, ras dan agama.

Amanat bagi lembaga penyiaran untuk mengedepankan nasionalisme dan meneguhkan semangat persatuan juga tertuang dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3).

Dalam pasal 38 ayat (1) disebutkan bahwa lembaga penyiaran wajib memulai siaran dengan menyiarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengakhiri siaran dengan menyiarkan lagu wajib nasional. Pada ayat (2) disebutkan bagi lembaga penyiaran yang bersiaran 24 jam wajib menyiarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya pada pukul 06.00 waktu setempat dan menyiarkan lagu wajib nasional pada pukul 24.00 waktu setempat.  ( I Nengah Muliarta)

Tinggalkan Komentar...