Kupu-Kupu Kuning Penunjuk Arah Perajurit Kerajaan Karangasem Saat Menyerang Kerajaan Selaparang

Tari Kupu-kupu Kuning saat dipentaskan oleh laki laki warga Dukuh Penaban

Karangasem, balipuspanews.com –Tari Kupu-Kupu Kuning merupakan salah satu tarian unik berusia ratusan tahun yang berada di Desa Pakraman Dukuh Penaban, Kabupten Karangasem. Tidak hanya unik, tarian ini juga sarat akan makna sejarah dan nilai spiritual yang tinggi. Konon setiap tarian ini dipentaskan di Pura Puseh, maka akan muncul kupu-kupu berwarna kuning dari langit timur sebagi pertandan Ide Betara Alit Sakti datang ke pura puseh.

Dari penuturan Bendesa Dukuh Penaban I Nengah Suarya,SE. Tarian kupu-kupu kuning tersebut menceritrakan sebuah kisah tentang sekelompok Kupu-kupu berwarna kuning yang mengawal perjalanan prajurit raja Karangasem ketika menyerang Kerajaan Selaparang, Lombok yang di pimpin oleh I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.

Lanjut suarya, dahulu pada hari “Anggara umanis Perangbakat saka 1614”, dipagi hari prajurit raja Karangasem yang di pimpin oleh I Gusti Anglura Ketut Karangasem bersama Arya Kertawaksa beserta 40 prajurit kebal dari Desa Seraya berangkat menggunakan empat buah perahu layar dari pesisir pantai Jasri. Dalam perjalanannya di tengah samudra selat Lombok muncul ribuan kupu-kupu kuning terbang bergelombang dari angkasa dan ikut menyebrangi lautan seolah olah menjadi penunjuk arah di tengah ganasnya gelombang selat Lombok.

Kupu-kupu kuning tersebut merupakan anugrah dari Ida Betara Alit Sakti di Pura Bukit untuk mengiringi keberangkatan laskar Karangasem ke medan pertempuran. Dimana setelah perahu-perahu tersebut berangakat, seketika daun-daun kayu kepel yang berada di Pura Bukit berguguran dan menjelma menjadi kupu-kupu kuning untuk mengiringi keberangkatan perahu tersebut. Konon kayu kepel yang berdiri kokoh hingga masa ini merupakan tongkat milik dari Ibunda Betara Alit Sakti yang diceritakan dalam perjalanannya dari Puri Amlaraja menuju ke arah timur hingga sampailah di sebuah dataran tinggi yang kini disebut Pura Bukit, di Pura Bukit inilah tongkat tersebut ditancapkan dan di percaya kayu tersebut adalah perwujudan dari tongkat beliau.

Tarian sacral yang ditarikan oleh 12 orang laki-laki dengan memakai pakaian serba kuning dan menggunakan senjata berupa keris hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu saja seperti saat berlangsungnya piodalan di Pura Puseh setempat yang dilaksanakan setahun sekali pada saat purnama kapat. Pementasan tari Kupu-kupu kuning tersebut diiringi dengan sebuah tabuh sejenis lelambatan yang saat ini nama tabuhnya belum diketahui pasti namanya.

“Sampai saat ini kami masih mencari tau tentang nama tabuhnya, selama ini warga kami hanya mendengar tabuh saja dan secara langsung bisa menirunya tanpa ada latihan yang pasti, selain itu sebenarnya gerak tarian Kupu-kupu Kuning ada setandar geraknya namun pada saat dipentaskan segigih apapun untuk menyamakan gerakannya tidak akan bisa, jika dipaksakan maka gerakannya akan kaku,” ujar Suarya, sabtu (15/7).

Dirinya juga mengatakan, setau saya, jika tarian tersebut tidak dipentaskan saat “aci atu piodalan” maka akan ada warga yang secara otomatis menangis dan mengatakan agar tarian tersebut dipentaskan. Ini merupakan warisan dari leluhur kita sebagai generasi muda wajib untuk melestarikan keberadaan tarian tersebut, ditambahkan Suarya.

Tinggalkan Komentar...