Mengedukasi Anak demi Menghijaukan Nusantara

Ilustrasi alam menghijau (Ist)

Opini, balipuspanews.com – Kesadaran untuk menghijaukan bumi, masih teramat minim di kalangan generasi muda. Padahal kondisi bumi belakangan ini begitu memprihatinkan: banyak dataran yang kering gersang, sungai kering kerontang, bahaya longsor mengancam keselamatan penduduk dan sederet bencana alam yang sewaktu-waktu dapat menimpa tanpa terduga.

Gerakan menghijaukan bumi, masih belum menjadi perhatian serius bagi generasi muda. Merujuk survei yang dilakukan Kaspersky Lab tahun lalu menunjukkan, bahwa anak-anak di berbagai belahan dunia menghabiskan sebagian besar waktu dengan cara menggunakan alat komunikasi seperti jejaring sosial, e-mail, serta chatting, atau sebesar 67% dari keseluruhan mereka berkecimpung di aktivitas online.

Apa ketimpangan ini dibiarkan berlarut-larut, di mana kondisi bumi sudah carut-marut, sementara generasi muda bangsa justru sibuk dan tenggelam dengan kegiatan online? Tanpa memperdulikan kondisi bumi, tempat mereka berpijak dan menyandarkan hidup?

Marilah, kini saatnya. Saat ini juga, gerakan menyingsingkan lengan baju, bahu-membahu menghijaukan bumi mesti dimulai. Dan gerakan ini bisa dimulai dari skala terdekat, dari lingkungan rumah tinggal masing-masing. Di mana kali ini, peran orang tua sangat dominan sebagai perintis atau pemberi inspirasi bagi anak-anak, untuk mendekatkannya pada langkah penghijauan.

Kegiatan penghijauan ini, bisa dilakukan pada saat senggang di sore hari, atau ketika hari Minggu tiba, dengan cara membuat program tamasya halaman rumah.

Saat itulah, waktu yang tepat bagi Anda untuk mengenalkan pada anak-anak mengenai jenis-jenis tanaman di halaman. Misalnya, bahwa ada tanaman kumis kucing, yang tidak hanya berfungsi sebagai penghias halaman. Namun, tanaman kumis kucing dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal yang mumpuni.

Selain pengenalan tanaman, kegiatan tamasya halaman rumah bisa diagendakan dengan bertanam aneka tanaman. Seperti bunga matahari, jambu air, belimbing atau jeruk. Apabila halaman tergolong sempit, bisa disiasati dengan bertanam di dalam pot, atau membuat rak tanaman bertingkat sehingga tetap bisa bertanam di lahan minim.

Alternatif lain yang bisa menjadi pilihan untuk mengakrabkan anak pada lingkungan sehingga menumbuhkan kecintaan terhadap bumi, yakni dengan mengajak terjun langsung ke alam ketika musim liburan panjang. Ganti kegiatan jalan-jalan atau belanja di mall dengan gerakan penghijauan, karena ini dapat memicu sikap konsumtif di kalangan anak-anak.

Mengajak terjun ke alam, bisa dengan melakukan bersepeda di alam terbuka, atau sekalian melewatkan malam di bumi perkemahan. Tidur di dalam tenda sekeluarga, tentu menjanjikan pengalaman spektakuler bagi anak.

Melihat kelebatan kunang-kunang yang beterbangan, bintang-bintang berkilauan, deru suara angin di ujung dahan cemara dan suara jangkerik yang bersahutan, menjadi irama malam yang benar-benar memberikan pengalaman mengasyikkan bagi seorang anak.

Malam hari tatkala menghidupkan api unggun, tiba waktunya mengedukasi anak-anak tanpa terkesan menggurui, tentang betapa penting peran tanaman bagi kehidupan. Apa jadinya bumi jika tidak ada tanaman yang tumbuh di atasnya, dan akibat dahsyatnya jika sampai tidak ada lagi pepohonan di muka bumi.

Di antara keremangan malam dan kibaran api yang menggeretak, orang tua bisa menggambarkan betapa bumi telah semakin terancam dengan adanya penebangan liar yang mengakibatkan banjir dan longsor di mana-mana. Lebih parah lagi, suku-suku di pedalaman tidak memiliki habitat mencari makanan dan tidak memiliki lagi tempat tinggal, karena hutan sudah menjadi gundul.

Bayangkan jika Indonesia, tidak lagi memiliki bentang hutan sebagai pelindung warganya. Apa jadinya negeri ini, bila hutan harus dihabisi karena faktor pembukaan lahan tambang, penebangan kayu untuk diperdagangkan dan alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman? Kemana generasi mendatang nanti akan berlindung, jika udara sudah sedemikian pekat karena tidak ada tanaman penghasil oksigen?

Kesadaran seperti inilah yang semestinya ditumbuhkembangkan sejak dini. Dengan harapan, generasi muda tidak lagi bergelimang kehidupan online dan sibuk di dunia maya, tapi alangkah lebih baiknya jika melakukan aksi di dunia nyata. Menghijaukan bumi Nusantara.

Dan ketika hari telah semakin larut dan tiba waktunya kembali ke tenda, sebagai lagu pamungkas, ajaklah anak-anak mengumandangkan kidung bersama-sama :

Lihat kebunku … penuh dengan bunga … ada yang putih dan ada yang merah … setiap hari kusiram semua … mawar melati semuanya indah … (Tri Vivi Suryani)

Tinggalkan Komentar...