Panen Raya, Petani Celuk Buluh Hasilkan Padi Hibrida 9,74 Ton per Hektare

Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com – Kelompok Tani Subak Celuk Buluh, Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng melakukan panen raya setelah mereka sukses menanam padi jenis Hibrida dan pada areal sawah seluas 10 hektare.

Dalam program tersebut juga ditanam secara berdampingan padi Inhibrida seluas 5 hektar untuk membandingkan hasil produksinya.

Nah, dalam panen raya dengan metode ubinan pada areal sawah seluas 10 hektare diperoleh hasil padi Hibrida 9,74 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Hasil panen kelompok kali ini dinilai meningkat dibandingkan dengan hasil panen padi sebelumnya.

Panen raya dilakukan langsung Petani bersama Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Nyoman Swatantra, Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf. Slamet Winarto, dan juga Perbekel Desa Anturan Made Budi Arsana, Jumat (18/8).

Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf. Slamet Winarto di sela-sela kegiatan mengatakan panen raya merupakan komitmen jajaran Kodim 1609 Buleleng mengawal program ketahanan pangan yang telah dicanangkan pemerintah dalam program Nawacita Presiden Joko Widodo.

“Kegiatan panen raya ini adalah sebagai upaya peningkatan kesejahteraan para petani sesuai dengan intruksi dari Bapak Presiden RI, Joko Widodo terkait ketahanan pangan,” kata Dandim Slamet, Jumat (18/8) siang.

Para petani sambung Dandim Slamet dikawal oleh babinsa juga diberikan informasi tentang cara perawatan dan pengelolaan pertanian serta pola tanam yang benar agar hasil yang dicapai bisa lebih baik.

“Melalui kegiatan ini, kedepan kami harapkan para petani harus benar-benar sejahtera lahir batin. Petani perlu sesuatu yang kongkrit untuk memecahkan masalah, salah satunya kami tugaskan pendampingan babinsa untuk meningkatnya hasil produksi padi seperti panen raya kali ini,” terangnya.

Untuk itu, dia pun berharap keterlibatan dari seluruh stake holder guna mendukung Program Nawacita, khususnya ketahanan pangan yang bertujuan kuat mewujudkan swasembada beras di Buleleng.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, I Nyoman Swatantra memaparkan sosialisasi penanaman padi hibrida yang baru berkembang dua tahun terakhir dilaksanakan secara bertahap.

Data Distan Buleleng, dari hasil panen tahap I di tahun 2017 berkisar pada masa tanam bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017, jumlah produksi beras di Buleleng sudah mencapai 55.293 ton dari 10.344 hektar luas tanam.

“Percontohannya sudah kami lakukan dua kali panen dengan sekarang. Sosialisasi padi hibrida ini memang penting untuk petani, kami dorong untuk menanam karena produksinya jauh lebih besar,” ujar Swatantra.

Dari hasil panen di lahan percontohan antara padi hibrida varietas pioneer dan sembada di atas lahan 10 hektar jika dibandingkan dengan padi inhibrida varietas ciherang seluas 5 hektar terdapat perbandingan hasil produksi yang sangat tajam.

Jika satu hektar lahan padi inhibrida jenis ciherang dapat menghasilkan 7,6 ton gabah, di satu hektar lahan padi hibrida dapat menghasilkan gabah kering hingga 9,74 ton.

Perbandingan hasil panen tersebut merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

“Ya, nantinya kembali lagi kepada masyarakat, apakah akan beralih ke padi hibrida dengan lahan percontohan ini atau tetap bertahan di padi inhibrida,” imbuhnya.

Selain memiliki kelebihan lebih produktif, padi hibrida juga sangat tahan dengan serangan penyakit dan hama.

Lebih jauh Swatantra kembali memaparkan, secara kasat mata, baik dari waktu tanam hingga panen dan pemeliharaan, maupun harga jual antara padi hibrida dengan padi inhibrida tidak ada perbedaan.

Hanya saja pemeliharaan padi hibrida memerlukan biaya lebih tinggi.

“Selisihnya sekitar Rp 2 Jutaan jika dibandingkan dengan biaya pemeliharaan padi inhibrida karena pemeliharaan padi hibrida memerluran paket penerapan pupuk, air dan pengolahan tanah yang sesuai dengan ketentuannya,” ungkapnya.

Meski demikian, selisih biaya pemeliharaan itu lanjut Swatantra tidak seberapa jika petani melihat dari selisih hasil produksi yang didapatkannya.

“Pada panen raya kali ini, hasil produksi 2,2 ton lebih banyak pada padi hibrida, petani bisa mendapatkan selisih lebih hingga Rp 5 Juta,” tandasnya.

Melihat fakta di lapangan, target untuk tetap mempertahankan status surplus beras di Buleleng tentunya lebih cepat terwujud.

Tinggalkan Komentar...