Petapa Dievakuasi, Puskor Hindunesia Layangkan Surat Protes

Denpasar, balipuspanews.com – Ketua Umum Pusat Koordinasi (Puskor) Hindunesia, Ida Bagus Susena angkat bicara, dan mengecam keras tindakan dari petugas Dinas Kehutanan Provinsi Bali yang mengevakuasi seorang petapa bernama Maha Guru Aertrya Narayana.

Selain, tindakan itu sudah merupakan pemberangusan hak dalam menjalankan agama.

Hari ini, Senin (21/8), Susena bersama Puskor Hindunesia akan melayangkan surat protes ke Dinas Kehutanan Provinsi Bali.

Point utama, mempertanyakan mengapa Dinas tersebut tidak berkoordinasi dahulu dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebelum mengevakuasi Maha Guru Aertrya.

“Ini langsung menggebrak seorang spiritualis, sehingga ibaratnya seperti mengkerdilkan agama Hindu. Selama memang benar bertapa, seharusnya dibiarkan. Tapi kalau terbukti merambah hutan, kami pasti salahkan apalagi melakukan penebangan liar,” kata Susena, Senin, (21/8)

Disebutkan Susena, ajaran Hindu mengenal empat tingkatan kehidupan atau catur asrama, yang satu diantaranya adalah wanaprasta asrama, yakni pengasingan terhadap kehidupan duniawi.

“Kami sangat sesalkan sikap Dinas Kehutanan, apalagi ini terjadi di Bali. Kami akan mintakan perhatian kepada gubernur. Semestinya petugas berkoordinasi dulu dengan lembaga umat sebelum mengambil langkah ini. Miris, sungguh memprihatinkan,” keluhnya.

Kasus ini, sambung Susena bisa melemahkan nilai-nilai Hindu, terutama kebebasan berkeyakinan.

“Ini juga sebuah diskriminasi dari orang kita terhadap umat kita sendiri,” imbuhnya.

Di zaman moderen, memang tidak banyak orang yang melakukan pertapaan. Meski demikian, tindakan evakuasi atau pengusiran secara halus terhadap petapa baru ia dengar di Bali.

Berita Terkait:

Di Jawa, Susena mencontohkan, di kaki-kaki sejumlah gunung dan hutan pertapa menjalankan semadi. Tetapi, tidak pernah terdengar ada pihak yang turut campur dengan urusan itu, karena bertapa terikat dengan keyakinan seseorang.

“Hal sepele kemudian dieskpos, dan dilakukan penindakan. Bagi saya lucu, dan ini dilakukan di Bali. Kalau Bali masih menjunjung etika moral Hindu, saya yakin hal ini tidak mungkin terjadi,” ungkapnya.

Susena kembali menjelaskan bahwa spiritualitas dalam Hindu adalah dengan cara bertapa, dan bertapa identik dengan keyakinan Hindu. Bertapa adalah satu dinatara jenis keyakinan, dan seharusnya tidak dilarang oleh negara yang mengakui keberadaan Hindu.

“Kalau Hindu diakui, maka dalam Hindu diketahui ada empat tingkat kehidupan yang harus diakomodasi. Kalau petugas itu mengerti agama, pasti tahu catur asrama. Itu hak si petapa melaksanakan wanaprasta, walaupun saat ini konteksnya kita berhadapan di era modern,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar...