Tradisi “Ngangon”, Krama Tirukan Suara Hewan Saat Ngelungsur Ajang

Tradisi "Ngangon di Desa Pakraman Geriana Kangin

Karangasem, balipuspanews.com -Masyarakat Desa Pakraman Geriana Kangin, Selat, Karangasem melaksanakan tradisi unik yang disebut upacara “ngangon”. Upacara yang dilaksanakan setahun sekali tersebut dipercaya mampu menghindarkan hewan ternak warga dari segala macam penyakit atau disebut juga “grubug”.

“Prosesi “ngangon” sendiri hampir mirip dengan upacara mecaru, ini dilaksanakan setahun sekali setiap nemuning rahina Kajeng Kliwon uudan atau Kajeng Kliwon Kresna Paksa Sasih Karo,” ujar I Nyoman Sudartana selaku Penyarikan Desa Pakraman Geriana Kangin didampingi Kubayan Jero Mangku Ketut Diatmika, Minggu (13/8).

Upacara “Ngangon” tersebut dilaksanakan  sekali setiap tahunnya di empat titik pojok Desa secara bergilir. Setiap upacaranya dilakukan bergilir mengikuti arah jarum jam.

Ngangon kali ini dilaksanakan di pojok tenggara Desa yang dipuput oleh Ide Pedanda Gede Ngenjung dari Geria Gede Duda, Selat, Karangasem, menggunakan upakara Banten Adandanan, Banten pebangkit, Caru manca pitu memakai sarana hewan sapi dan Bebek belang kalung.

Nantinya seluruh daging Sapi akan dibagikan kepada warga sementara untuk upakara hanya diambil blulangnya saja seperti, kepala, kulit, kaki, ekor dan beberapa bagian tulang yakni  bagian tulang iga, kaki dan tulang belakangnya.

Selain itu, juga dipersiapkan “ajang” berupa nasi yang dicacar menggunakan alas daun tutub yang berjumlah sesuai dengan jumlah kerama. Nantinya seluruh nasi ajang dijejerkan diseluruh areal tempat upacara ngangon dilaksanakan.

Diakhir upacara, seluruh kerama akan dipersilahkan untuk ngelungsur ajang tersebut untuk dibawa pulang dan diberikan kepada ternak yang dipeliharanya. Namun ada yang unik saat ngelungsur ajang tersebut yakni krama harus berteriak menirukan suara binatang seperti kambing dan sapi.

“Secara tidak langsung kita mendoakan hewan pliharaan agar selamat terhindar dari penyakit dan gerubug,” ujar Jero Mangku Diatmika.

Dirinya juga mengatakan, total penghabisan untuk upacara tersebut lebih dari 10 juta, dimana seluruh perlengkapan upakara seperti kelapa, nasi acatu dan peturunan dana seluruhnya dari krama. Selain kerama asli Geriana Kangin hal yang sama juga dibebankan kepada warga pendatang yang tinggal di Desa Pakraman Geriana Kangin.

“Upacara ini termasuk upacara pelemahan Desa Pakraman Geriana Kangin yang memang sudah dikonsep oleh leluhur sejak turun temurun,” ungkapnya.

Tinggalkan Komentar...