12 Orang di Buleleng Meninggal Suspek Rabies, Terbanyak November 2022

Ilustrasi (Civas.net)
Ilustrasi (Civas.net)

BULELENG, balipuspanews.com – Kasus meninggal dunia dengan status suspek rabies di Kabupaten Buleleng terbilang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan catatan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng selama Januari sampai akhir November 2022 sudah ada 12 orang pasien dinyatakan meninggal dengan status suspek rabies.

Terbaru kasus pasien meninggal dunia dengan status suspek rabies menimpa seorang warga dari Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Buleleng berinisial KS,35. Dengan begitu total pasien meninggal dunia telah menjadi 12 orang selama 2022.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr Sucipto mengatakan bahwa pasien asal Desa Patas itu dinyatakan meninggal dunia Senin (28/11/2022) setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Buleleng.

Awalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng menerima informasi dari RSUD Buleleng bahwa ada pasien datang ke rumah sakit didiagnosis suspek rabies, pada 26 November 2022 sekitar pukul 18.31 wita sore, dengan keluhan demam, pusing, nafas sesak, gelisah, takut air, takut angin, mual.

Kemudian sebelum dibawa ke rumah sakit awalnya pada Kamis (24/11/2022) pasien mengeluhkan badan meriang, demam dan sakit seluruh tubuh, dan terdapat pembengkakan pada daerah selangkangan.

“Pasien berobat ke bidan lalu malam hari susah menelan. Awalnya keluarga menyangkal korban pernah digigit anjing, namun kembali dikonfirmasi bahwa korban pernah digigit anjing dengan luka kecil dua bulan lalu,” terang Sucipto.

Namun kemudian anjing yang telah menggigit itu justru dibunuh. Hanya saja, pasien saat itu tidak diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR).

“Ya saya menyayangkan korban (pasien) tidak diberikan VAR usai digigit anjing. Padahal anjingnya itu dibunuh tapi kenapa korban tidak diberikan VAR, itu lah yang saya sayangkan,” ujar Sucipto.

Sementara Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, dr Putu Arya Nugraha, Sp.PD, tak menampik, ada seorang warga meninggal dengan keluhan suspek rabies. Saat dirujuk, pasien sudah menunjukkan gejala suspek rabies. Pasien pun sempat dirawat selama dua hari sebelum akhirnya meninggal pada Senin (28/11/2022) pagi.

Dari keterangan pihak keluarga, sebut Arya Nugraha, pasien ini memang sebelumnya sempat digigit anjing liar pada bagian jari tangannya.

“Jazad pasien sudah dibawa keluarganya ke Desa Patas. Kami juga sudah melakukan tracing keluarganya untuk diberikan VAR. Ada tiga orang dari keluarga yang memiliki kontak erat dengan korban diberikan VAR,” jelas Arya Nugraha.

Tercatat, sejak Januari 2022 hingga akhir November 2022, kasus kematian akibat gigitan anjing rabies menjadi 12 kasus. Maka melihat banyaknya kasus rabies yang terjadi, masyarakat pun tetap diingatkan agar sadar untuk tidak meliarkan anjing peliharaannya.

Jika ada anjing yang menggigit manusia, agar perlu dikandangkan untuk bisa dilakukam observasi. Sebab, jika anjing itu tertular rabies maka akan mati dalam waktu tidak lebih dari satu minggu. Jika anjing harus dibunuh, paling tidak korban yang digigit anjing itu sudah harus diberikan VAR.

Selain itu Arya Nugraha berharap, agar dilakukan upaya pencegahan dengan out come, mengingat kasus kematian akibat rabies di Buleleng sangat tinggi.

“Kalau ini dianggap gawat, mestinya dibuatkan aturan semacam Perda agar masyarakat terikat dengan aturan, sehingga lebih serius memperhatikan anjing peliharaannya masing-masing,” pungkas Arya Nugraha.

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan