14 pelajar begal diancam 7 tahun penjara
14 pelajar begal diancam 7 tahun penjara

DENPASAR, balipuspanews.com- Polisi menunjukkan ketegasannya menahan belasan pelajar SMP dan SMA komplotan begal dan jambret yang tergabung dalam geng Motor Donky. Kejahatan para pelajar ini dianggap sudah melampaui batas dengan menganiaya dan merampas barang-barang milik pengendara motor.

Ketegasan itu dibuktikan Polisi dengan menjerat belasan pelaku dengan Pasal berlapis. Yakni Pasal 363 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara dan Pasal 365 KUHP pencurian dengan kekerasan ancaman paling lama 9 tahun penjara.

“ Mereka semua kami tahan. Kami kenakan pasal 363 dan 365 ancaman 9 tahun penjara,” tegas Kapolresta Denpasar Kombes Pol Ruddi Setiawan, Jumat (24/1/2020).

Kombes Ruddi mengakui kejahatan yang dilakukan 14 pelajar SMP dan SMA ini  sudah sangat meresahkan. Bahkan, belasan pelajar di Denpasar ini melakukan tindak pidana pencurian disertai aksi kekerasan.

“ Mereka ini kelompok kejahatan jalanan mayoritas pelajar. Mereka sudah beraksi di 5 TKP dengan target menghadang dan mengambil barang-barang pengendara motor seperti handphone dan sebagainya. Mereka juga melakukan pemukulan ” ujar mantan Kapolres Badung ini.

Dalam aksi kejahatan jalanan ini, belasan pelaku mendapatkan hasil sebesar Rp 35 juta. Uang hasil kejahatan itu dibagi-bagi dan sisanya dibelikan minuman keras. “Uang tadi dibelikan minuman keras dan mabuk-mabukkan, ujarnya.

Mantan Wadireskrimsus Polda Bali ini menerangkan, kejahatan yang menimpa anak dibawah umur di Bali, sudah sangat memprihatinkan sekali. Apalagi baru-baru ini, pihak Polresta Denpasar menangkap 4 anak dibawah umur terlibat jaringa  peredaran narkoba.

“ Saya lihat dari 14 pelajar ada 3 yang memiliki tato dilengannya. Ini merupakan bibit-bibit premanisme yang akan muncul setelah mereka dewasa,” terangnya.

Untuk itu, Kombes Ruddi berharap adanya peran orang tua untuk menjaga generasi muda itu agar tidak terlibat kriminal yang merugikan orang lain. Imbauan ini juga disampaikan kepada guru-guru dimana pelajar tersebut bersekolah.

“ Mari kita sama-sama dengan para guru dan orang tua untuk menjaga anak anak kita ini agar menjadi orang baik dan terhindar dari kejahatan,” tegasnya.

Ditanya apakah selama ini orang tua pelaku tidak mengetahui kegiatan anak-anaknya di luar sehingga melakukan kejahatan ? Kombes Ruddi mengatakan orang tuanya tidak mengetahui sama sekali. Bahkan, mereka hanya mengetahui anak-anaknya mengikuti less diluaran.

“ Jadi, orang tuanya sudah kami panggil dan mereka sudah mendampingi anak-anaknya selama menjalani pemeriksaan,” tegasnya.

Kombes Ruddi juga berharap agar para orang tua murid selalu berkoordinasi dengan para guru untuk mengetahui kegiatan anaknya selama mengikuti pelajaran di sekolah. Jika perlu buku buku pelajaran di cek untuk mengetahui apakah mereka bersekolah atau tidak.

Selain itu, diimbau untuk tidak memberikan anak mengendarai sepeda motor karena belum cukup umur. “Kalau anak anak diberikan naik motor, mereka akan trek-trekkan dan ugal-ugalan di jalan raya, tandasnya. (pl/tim/bpn)