BLAHBATUH, balipuspanews.com -Dunia seni Gianyar kembali kehilangan senimannya, setelah Wayan Ngenteg, 93 tahun, meninggal dunia akibat sakit stroke selama 17 tahun.

Almarhum langsung dimakamkan di setra adat desa pakraman Bedulu, Rabu (9/1) kemarin.

sewa motor matic murah dibali

Wayan Ngenteg warga Banjar Margabingung Desa pakraman Bedulu ini, banyak terlibat dalam berbagai karya seni di tanah air. Diantaranya pembuatan area anjungan Bali di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Dalam penggarapan dilibatkan belasan seniman ukir asal desa Pakraman Bedulu, dan merupakan binaan almarhum.

Selain menuntaskan pembangunan objek wisata di jantung ibukota Negara Republik Indonesia, Wayan Ngenteg juga ikut dalam pembuatan patung Catur Muka di Denpasar. Mascot ibukota Denpasar ini dikerjakan dibawah koordinator Gusti Mangku Rangkus, seniman yang jugaa warga Banjar Margabingung desa pakraman Bedulu.

Menurut Wayan Weca warga desa Bedulu, setelah menyelesaikan pembangunan anjungan Bali TMMI yang sarat dengan seni ukir Bali itu seniman asal Bedulu yang dikoordinir Wayan Ngenteg ini, langsung ditunjuk membangun kawasan pemakaman keluarga Presiden Suharto di kawasan Gunung Mangadeg Jawa Tengah.

“Mungkin Pak Harto (Presiden Suharto) puas dengan karyanya almarhum (Wayan Ngenteg), Pak Harto langsung menunjuk Bapa Ngenteg bersama para seniman Bedulu yang merupakan anak didiknya dibidang seni ukir,” tutur Wayan Weca tentang kegiatan almarhum untuk penggarapan pemakaman keluarga Presiden Soeharto yang memanfaatkan seni ukir Bali itu.

Selain seni ukir dan patung, almarhum Wayan Ngenteg yang meninggalkan seorang istri dengan tiga orang anak, 10 cucu dan tiga cicit ini, juga dikenal sebagai penabuh andal. Sejumlah sekaa gong di desanya selalu mencatat namanya. Bahkan beberapa desa tetangga sempat memintanya melatih tabuh maupun sekadar berbagi kepiawaian memainkan gambelan.

Dari perjalanan sebagai penabuh, Wayan Ngenteg sempat melanglang benua Eropa bersama sekaa gong Ganda Manik Desa Bedulu, sekitar tahun 1950-an. Bahkan almarhum yang kini menularkan anak cucunya menekuni seni ukir dan tabuh ini, dalam lawatannya di benua Eropa sempat mengiringi salah seorang anaknya bernama Ni Wayan Lemes, yang piawai menarikan legong khas dengan gaya lelaseman Bedulu.

Dalam perjalanan panjangnya di dunia seni Bali ini, seorang Wayan Ngenteg yang kini meninggalkan puluhan anak didik berkesenian, memang tidak pernah berharap imbalan layaknya seorang pendidik yang iklas membagikan ilmunya. Demikian juga saat masih sehat dalam perbincangannya, sempat mengaku ikut bangga justru anak didiknya yang diberikan piagam penghargaan oleh pemerintah dibandingkan dirinya.

Selamat jalan sang guru dalam senyap, semoga jasanya justru dibalas dalam ketulusanmu berbagi termasuk selalu iklas melengkapi setiap yadnya. (rls/bpn/tim)

Tinggalkan Komentar...