258 Napi Lapas Kerobokan Bebas Bersyarat Melalui Proses Asimilasi

Kalapas Kerobokan Yulius Sahruzah saat menghadiri sebuah acara di PN Denpasar, beberapa waktu lalu
Kalapas Kerobokan Yulius Sahruzah saat menghadiri sebuah acara di PN Denpasar, beberapa waktu lalu

DENPASAR, balipuspanews.com – Hingga saat ini jumlah warga binaan di Lapas Kelas IIA Kerobokan yang telah menjalani putusan hukum tetap dan bebas bersyarat melalui proses asimilasi tercatat ada 258 orang.

Pembebasan tersebut didasarkan pada peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi Narapidana dan Anak dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran COVID-19.

Serta Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No.M.HH-19 PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

Hal tersebut juga tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan No: PAS-497.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang hal yang sama.

Terkait ini, Kalapas Kelas II A Kerobokan, Yulius Sahruzah, Bc IP SH MH, menyatakan bahwa warga binaan yang dibebaskan seluruhnya telah sesuai melalui proses persyaratan yang ada.

“Ada 294 penghuni di Lapas Kerobokan yang diajukan untuk di keluarkan dan seluruhnya telah melalui proses asimilasi. Hingga saat ini sudah 258 yang keluar. Kita lakukan bertahap,” kata Yulius, Sabtu (25/4/2020) melalui pesan WA.

Lanjut Yulius, bahwa warga binaan yang telah diusulkan asimilasi di rumah telah mendapat hak integrasi berupa pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti bersyarat.

“Itu khususnya yang masa 2/3 pidananya jatuh tanggal 1 April 2020 hingga 31 Desember 2020 serta tidak terkait dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2019 dan bukan warga negara asing,” tegasnya.

Secara rinci, ditambahkannya bahwa di dalam pembebasan tersebut yang pembatasan tidak terkena PP 99/2012.

“Seperti halnya untuk pidana narkotika di atas 5 tahun, terorisme, Tipikor dan bukan orang asing. Mereka tidak dapat pembebasan dari program ini,” sambungnya.

Tidak hanya itu, sejak pemerintah menyatakan kondisi saat ini dalam setatus darurat Covid-19. Pihak Lapas Kerobokan juga tidak lagi menerapkan adanya jam kunjungan temu langsung.

Kata dia, kunjungan dari luar untuk warga binaan di Lapas ditiadakan bertemu langsung.

“Pengunjung bisa berkomunikasi dengan menggunakan vidio call. Tapi kami tetap hanya melayani penitipan berupa makanan,” singkatnya.(ari/tim/bpn)