29 Petahana Tumbang di Pilkel Serentak Buleleng

Pendatang baru Ketut Suadnyana (kemeja merah) berhasil menumbangkan petahana I Wayan Antara di Pilkel Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.

SINGARAJA, balipuspanews.com — Pelaksanaan Pilkel Serentak di Kabupaten Buleleng, menyedot animo masyarakat. Sejak Kamis (31/10) pagi, warga sudah mendatangi TPS guna menyalurkan hak pilih mereka. Warga memilih datang pagi-pagi, agar aktifitas pekerjaan tak terganggu. Maklum saja, tidak ada hari libur saat pemilihan perbekel.

Pada bagian lain, Pilkel Serentak yang diselenggarakan di 79 desa se-Kabupaten Buleleng itu, tercatat ada 62 orang calon petahana yang turun gelanggang. Sayangnya tak semua calon petahana, berhasil kembali melenggang. Dari 62 orang calon, sebanyak 33  orang diantaranya berhasil lolos kembali menjadi perbekel. Sementara 29 orang lainnya, terpaksa gigit jari.

BERITA TERKAIT:

Kecamatan Sawan, tercatat ada empat petahana yang kandas. Yakni Ketut Laksana, calon petahana Desa Bebetin yang harus mengakui keunggulan I Gede Susanta.

Desa Jagaraga, petahana Made Sumendra Nurjaya harus mengakui keunggulan Nyoman Partha.

Desa Lemukih, I Nyoman Singgih berhasil menang dengan perolehan 1.196 suara dibandingkan petahana I Ketut Budiarta yang mengantongi 1.158 suara.

Desa Suwug, petahana I Wayan Antara dikandaskan oleh pendatang baru Ketut Suadnyana.

Kecamatan Sukasada, tercatat ada empat (4) orang calon petahana yang terjungkal. Desa Kayuputih, pendatang baru Gede Gelgel Ariawan mengungguli calon petahana I Ketut Sumenaya.
Desa Panji, mantan anggota DPRD Buleleng Jro Mangku Made Ariawan unggul atas calon petahana Nyoman Sutama. Desa Wanagiri, petahana I Wayan Gumiasa kandas atas pendatang baru Made Suparanton. Desa Padangbulia, petahana I Gede Sudena kalah atas I Gusti Nyoman Suparwata.

Kecamatan Gerokgak, tercatat ada tiga (3) petahana yang kandas.Desa Penyabangan, petahana Made Santika akan digantikan oleh Nyoman Sudiarta. Desa Patas, I Kadek Sara Adnyana akan menggantikan posisi Nyoman Suberata. Desa Tinga-Tinga, Made Suwardipa harus akui keunggulan I Komang Adi Wirawan.

Sementara di Kecamatan Busungbiu, ada empat (4) calon petahana yang kandas. Desa Kekeran, petahana Putu Suarjaya harus mengakui keunggulan Komang Eva Wahyu Diatmika. Desa Pelapuan, Gede Agus Armika Yasa berhasil mengungguli calon petahana Gede Darmayasa. Desa Bengkel, pendatang baru Putu Artana mengandaskan Nyoman Raisa. Desa Tinggarsari, calon petahana Ketut Perbawa harus mengakui keunggulan Ketut Samiasa.

Kecamatan Seririt, ada lima (5) orang calon petahana yang kandas. Mereka adalah calon petahana Desa Munduk Bestala, I Gede Arya Astika yang kalah dari I Putu Sriyasa. Di Desa Kalianget Ketut Nanda Kusuma berhasil mengungguli calon petahana Made Sujana. Di Desa Ringdikit, pendatang baru I Made Sumadi berhasil mengantongi 1.145 suara, selisih 4 suara dibanding calon petahana I Gede Kawit Adnyana yang mengantongi 1.141 suara. Di Desa Kalisada, calon petahana I Nyoman Bagiarta harus mengakui keunggulan Wayan Widistra. Sedangkan di Desa Gunungsari, calon petahana Made Astawa juga kalah dari Ketut Pastika.

Kecamatan Kubutambahan, ada tiga calon petahana yang tumbang. Di Desa Tambakan, pendatang baru I Gede Eka Wandana mengalahkan petahana I Nyoman Surama. Di Desa Bengkala, petahana I Made Arpana kandas atas pendatang baru I Made Astika. Sedangkan di Desa Bontihing petahana Gede Ardika kalah atas Ketut Daging Arta.

Sedangkan di Kecamatan Tejakula, dari lima desa yang menyelenggarakan pemilihan perbekel, seluruh petahana tumbang. Di Desa Julah, petahana Ketut Kanis Tanaya tumbang atas I Wayan Suastika. Di Desa Madenan, petahana Komang Mudiartono kandas atas petahana Gede Mustika. Di Desa Pacung, Gede Kardiana mampu mengandaskan petahana Made Yasa. Di Desa Tejakula, petahana I Ketut Suardana kandas atas pendatang baru Gede Diarsa. Sedangkan di Desa Les, Gede Adi Wistara unggul atas petahana Gede Susila.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, perbekel terpilih harus lebih cerdas dalam menggunakan anggaran. Dengan APBDes yang besar, seharusnya perbekel bisa memberikan kemajuan terhadap desa yang lebih signifikan.

“Desa membutuhkan perbekel yang cerdas dan mau bekera. Sekarang modelnya sudah beda. Kalau dulu kan (desa) sekadar administratif saja. Tapi kalau sekarang, perbekel harus punya inovasi karena mengelola anggaran yang besar,” tukasnya