DENPASAR TIMUR, balipuspanews.com-  Waketum DPP Partai Hanura Bali, Gde Pasek Suardika (GPS) angkat bicara soal elektabilitas paslon Jokowi – Ma’ruf Amin di Bali.

Selama ini, pendukung begitu optimis dengan kemenangan jokowi, bahkan di Bali suara untuk jokowi digadang-gadangkan mencapai target 80 persen, dirinya pun setuju dengan optimisme tersebut.

Namun, ia menilai optimisme akan terealisasi apabila pendukung Jokowi tetap bermain cantik.

Istilah tersebut, kata GPS, dimaksudkan agar pendukung lebih lihai dalam menyikapi serangan kubu seberang.

“Serangan selama ini saya kira tidak terlalu substansial, tapi kalau tim Jokowi blunder, ya akan sulit mengawalnya,” ujarnya saat ditemui,  Rabu (12/2) di Renon.

Ia menilai, berbagai isu yang disematkan untuk melemahkan Jokowi tidak cukup kuat, sehingga harapan untuk menurunkan elektabilitas bisa disebut tak terarah.

Sejumlah isu tersebut, diantaranya penggunaan dana negara yang dinilai tidak maksimal, viralnya surat Menpora RI terkait menyanyikan lagu Indonesia Raya di bioskop, termasuk remisi kepada Susrama yang ditolak kalangan jurnalis.

“Penggunaan dana di era Jokowi dinilai tidak maksimal, saya kira di era sebelumnya banyak dana yang digunakan untuk subsisi,” kata GPS.

GPS mengibaratkan kondisi tersebut seperti pertandingan bulutangkis, dimana kubu Jokowi tidak membuat smash yang menyangkut pada net dan bola keluar sehingga lawan terlihat unggul, padahal bukan permainan lawan yang bagus namun karena kubu Jokowi yang blunder.

“Semua isu itu cepat diantisipasi Jokowi tidak perlu banyak janji, sebab selama 4,5 tahun kinerjanya sudah menjawab semua serangan yang ada,” jelasnya.

Sebaliknya, isu tersebut menunjukkan komitmen dan sikap agresif Jokowi dalam menegakkan aturan.

Tak cukup sampai disana, GPS menilai elektabilitas Jokowi dipastikan merangkak setelah debat putaran kedua 17 Februari mendatang, dengan tema yang membahas energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan infrastuktur.

“Tema debatnya memang bidangnya Jokowi, tinggal keluarkan data saja karena semua itu sudah di kerjakan, sekarang terserah rakyat apakah ingin dimaksimalkan,” kata politisi asal Buleleng.

Ia berharap, melalui gambaran tersebut koalisi pendukung jokowi bisa menentukan sikap, bilamana isu-isu negatif berikutnya kembali muncul.

“Suara Jokowi di Bali saya kira bertahan di atas 70 persen. Jika sebelumnya 72 persen sekarang mungkin 76 persen, selama kubu Jokowi menjaga ritme,” tandasnya. (bud/bpn/tim)