Ada Perbaikan Saluran Air, Puluhan Hektar Sawah di Desa Kedisan Kekeringan

Lahan persawahan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar kekeringan
Lahan persawahan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar kekeringan

GIANYAR, balipuspanews.com – Bagaikan telor diapit batu, ratusan Petani di Desa Kedisan, Tegalllang benar-benar pasrah di tengah pandemi ini. Bertani ke sawah yang kini dijadikan tumpuan hidup justru tiba-tiba kering, disaat mereka sedang proses membajak. Kondisi ini terjadi karena kurangnya sosialisasi perbaikan saluran irigasi.

I Ketut S, salah seorang pekerja wisata yang kini jadi petani mengaku terpukul. Di saat dirinya bertumpu dengan bertani, kini pupus dan malahan merugi. Karena saat sedang menggarap lahan, air tiba-tiba terputus.

“Kini tanah sawah sawah saya kering. Katanya ada perbaikan saluran irigasi di Desa Sebatu, Tegallalang. Saya sudah kena biaya traktor dan kini harus saya hentikan,” terangnya.

Sempat Ketut berencana untuk beralih ke tanaman lain untuk sementara. Namun, karena perbaikan saluran irigasi itu dilaksankan saat musim kemarau, sehingga bertani menjadi sangat sulit. Bahkan, tanaman jagung yang selama ini dijadikan alternatif tanaman karena membutuhkan air sedikitpun, tidak bisa hidup di sana.

Meskipun mengeluhkan proyek irigasi tersebut, para petani di Desa Kedisan tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya berharap proyek tersebut bisa secepatnya rampung.

Secara terpisah, Perbekel Kedisan, Dewa Ketut Raka, Rabu (2/6/2021), membenarkan saat ini, sejumlah subak di wilayah sedang tidak bisa ditanami padi. Hal tersebut dikarenakan sedang ada perbaikan saluran irigasi di kawasan Desa Sebatu. Dimana selama ini, subak-subak di Desa Kedisan, memanfaatkan air yang mengalir dari kawasan Sebatu.

“Sekarang di Sebatu ada proyek, sehingga otomatis aliran irigasi air sungai sebatu tertutup, sehingga subak yang memanfaatkan air dari sana, kini kekeringan. Di antaranya Subak Pakudui, Subak Kedisan Kaja, Kedisan Kelod, dan Subak kebon. Otomatis kekeringan,” ujarnya.

Kata dia, proyek tersebut diprediksi sampah akhir tahun ini. Karena itu, selama proyek berlangsung, pihaknya meminta agar petani di wilayahnya, menanam tanaman alternatif, dengan harapan supaya lahan persawahan di sana tidak terbengkalai. Diperkirakan air baru akan mengalir akhir tahun ini.

“Selama menunggu itu, kami arahkan petani untuk menanam apa yang bisa ditanam,” ujarnya.

Dewa Raka mengungkapkan, antusiasme warganya untuk menekuni bidang pertanian relatif besar. Sebab banyak warga yang sebelumnya bekerja di sektor pariwisata, yang kehilangan penghasilan. Karena itu, merekapun berharap pada pertanian.

Penulis : CaturĀ 

Editor : Oka Suryawan