Air Terjun Campuhan Keruh, Wisatawan Kecewa, Pemandu Wisata Pasrah

824
Aliran air sejumlah obyek wisata di kawasan Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, keruh tercampur lumpur.

SUKASADA, balipuspanews.com — Aliran air terjun Campuhan tercemar. Air yang dulunya terlihat jernih, kini berubah keruh berwarna kecokelatan. Tak pelak, pemandangan itu menuai komplain dari wisatawan yang berkunjung ke objek wisata terletak di Dusun Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng tersebut.

Konon, aliran air tercemar akibat lumpur dari tanah penggalian lahan shortcut titik 5-6 atau yang kini disebut dengan jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani. Sejumlah pelaku pariwisata menyebut, tanah penggalian sengaja dibuang oleh pihak pekerja ke aliran Tukad Buleleng.

Ketut Rasna (32) selaku Ketua Pemandu Wisata Air Terjun Cempuhan mengungkapkan, keruhnya air di obyek wisata air terjun campuhan terjadi sejak sebulan lalu. Aliran air terjun terletak di bantaran Tukad Buleleng seketika berubah, diakibatkan tanah penggalian lahan shortcut.

Imbuh Rasna, berubahnya warna aliran air menjadi kecokelatan itu terjadi setiap hari, mulai pagi hingga malam hari. Bahkan jika hujan turun, air yang mengalir menebar aroma tak sedap. Akibat kondisi ini, wisatawan datang untuk mandi, terpaksa harus mengurungkan niatnya.

“Kondisi ini (air bercampur lumpur) tidak hanya terjadi di Air Terjun Campuhan, tempat wisata lain seperti Air Terjun Gigit, Gitgit Hot Spring dan Air Terjun Mekalangan Gigit pun terdampak. Pengunjung yang datang kecewa, karena tidak bisa mandi. Mereka (pengunjung) pun langsung balik. Ya, setiap hari ini airnya kotor. Apalagi hujan, air keruh dan bau tidak sedap,” ungkap Rasna, Minggu (24/2).

Melihat kondisi itu, Rasna mengaku sudah melaporkan hal tersebut kepada Kelian Dusun Pererenan Bunut. Namun hingga saat ini, ia merasa keluhan tersebut belum sepenuhnya ditanggapi oleh aparat desa.

Nah, bagaimana jika keluhan itu tidak direspon?

Rasna bersama kelompok pemandu wisata lainnya pun mengaku hanya bisa pasrah.

“Kami tidak mungkin melakukan demo. Karena kami tahu proyek shortcut itu untuk kebaikan Buleleng juga. Menurut saya tanah itu memang sengaja dibuang ke sungai. Makanya sekarang aliran sungai sudah tanah saja isinya. Mungkin itu (dibuang) untuk menghemat waktu bagi kontraktor. Karena kalau dia buang tanah ke tempat lain kejauhan dan makan waktu juga,” jelasnya.

Terpisah, Perbekel Desa Gitgit, I Putu Wardana membantah jika para pekeja proyek jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani membuang material tanah ke aliran Tukad Buleleng.

Perbekel Wardana menjelaskan, dari hasil koordinasi dengan pihak penggarap proyek, sejumlah warga yang memiliki lahan di dekat aliran sungai meminta pengurugan lahan miliknya.

“Tanah itu bukan sengaja dibuang ke sungai. Itu karena warga yang memiliki lahan agak terjal melakukan pengurugan. Mereka kepingin punya lahan biar agak datar sedikit. Kebetulan lahan milik warga yang diurug itu terletak diatas aliran Tukad Buleleng. Semua sudah sesuai prosedur yang benar,” kata Perbekel Wardana saat dihubungi melalui telepon seluler.

Perbekel Wardana pun meminta kepada para pelaku wisata untuk memaklumi atas kondisi yang terjadi. Meski dampak yang terjadi diprediksi akan berlangsung hingga selama satu tahun ke depan.

“Tujuan pemerintah juga bagus, dibuatkan jalan alternatif. Mengingat seperti itu maklum saja lah. Ya menurut prediksi memang agak lama, setahun lah, sampai tumbuh rumput-rumput. Pastinya secara perlahan warna sungai akan kembali normal,” pungkasnya.

Loading...