Alami Hemangioma, Mohon Uluran Tangan

Singaraja, (Balipuspanews) – Komang Wahyuni Suciani (3), balita perempuan mengidap penyakit Hemangioma sejak lahir. Saat ini, benjolan berwarna merah itu memiliki ukuran hampir satu setengah kepal tangan orang dewasa dan posisi benjolan berada di leher bagian kiri.

Balita malang ini adalah buah hati pasangan suami istri (pasutri) Made Ardika (39) dan Luh Muliastrini (36) yang merupakan warga Banjar Dinas Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng.

”Ada bercak kemerahan dibawah telinga kiri sejak lahir, sekilas tampak seperti bekas gigitan nyamuk. Bahkan saat itu, sejumlah kerabat dan tetangga bilang, itu tanda lahir,” ucap Muliastrini..

Ia pun mengatakan, dalam kondisi tertentu, kadang-kadang tanda ini tampak lebih bengkak, memerah dan menonjol. Kondisi ini pertama kali disadari setelah beberapa pekan kelahiran putrinya. Merasa khawatir dia pun memutuskan untuk membawa putrinya tersebut ke Puskesmas terdekat. Benar saja, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, Komang didiagnosis mengalami hemangioma.

Baca Juga :  Wawasan Kebangsaan Digaungkan Menjelang Pemilu 2024

Namun karena keterbatasan peralatan, pihak Puskesmas kemudian memberikan surat rujukan untuk segera dibawa ke RSUD Buleleng. Diagnosa itu tentunya mengguncangkan hati pasutri ini. Harapan, impian, dan segalanya tampak menjadi sia-sia. Perasaan tak berdaya, sebab hidup di bawah garis kemiskinan memaksanya harus pasrah.

Masalahnya  untuk makan sehari-hari, keluarga ini hanya mengandalkan upah harian dari sang suami yang bekerja sebagai petani penggarap. Saat menginjak usia enam bulan, bercak kemerahan yang dulunya tampak seperti bekas gigitan nyamuk, semakin membesar. Keluarga pun mulai panik, tanpa disadari ternyata tumor sudah mulai mengalami pembesaran.

Tumbuh dan menyebar semakin cepat bukan hanya bersarang di leher bahkan menyerang bagian dada, hingga Komang mengalami sesak nafas. Ia mengungkapkan, Komang diwajibkan dirujuk ke rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar karena peralatan di RSUD Buleleng kurang memadai.

Baca Juga :  Petani di Desa Bengkala Diajak Menanam Jagung Sorghum

Pihak keluarga pun kebingungan menyiapkan biaya. Hingga akhirnya, satu-satunya harta yang tersisa berupa sepeda motor pun ikut dijual untuk membiayai ongkos perjalanan selama Komang menjalani operasi di RSUP Sanglah Denpasar.”Sebelum operasi, dokter memencet benjolan di bagian dada, keluar nanah bercampur darah.

Operasi di dada disebabkan jantung Komang lecet hingga menyebabkan sesak nafas. Goresan ini bekas luka operasi. Semua barang yang kami punya sudah dijual, termasuk sepeda motor untuk biaya perjalanan dan pengobatan selama operasi,” tutur Mudiastrini sambil berkaca-kaca, saat ditemui di rumahnya.

Kebingungan yang dialami Muliastrini tampak dari tatapan matanya yang terlihat kosong. Pikirannya yang kalut terpancar dari sorotan matanya. Sesekali ia mengalihkan pembicaraan dengan memangku putri kesayangannya. Ia pun sepertinya sedang memikirkan nasib putrinya.

Baca Juga :  Sekda Buleleng Tinjau Pelaksanaan Seleksi PPPK Guru Tahun 2022

”Saya hanya takut kelak tumor di lehernya Komang akan menjadi bahan ejekan teman-temannya saat sekolah. Saat ini, ia benar-benar anak yang periang dan selalu tersenyum,” imbuhnya, sambil mengusap linangan air mata di pipinya. Adanya hal itu pihaknya juga sangat mengharapkan adanya bala bantuan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika guna memperingan yang dialami oleh korban.

Bahkan hingga kini pihaknya berencana ingin mengadukan nasibnya ke Gubernur Bali dan berharap agar mendapatkan bantuan namun pihaknya tidak mengetahui seperti apa caranya dirinya mengadukan nasibnya kepada Gubernur Pastika.

”Harapan kami ingin sekali diberikan bantuan guna memperingan nasib anak kami namun kami berfikir bagaimana caranya kami mengadu dengan pak gubernur? Keinginan kami hanya dalam angan-angan saja,”katanya.