Minggu, Juli 21, 2024
BerandaDenpasarAlih Fungsi Lahan Pertanian Harus Disetop

Alih Fungsi Lahan Pertanian Harus Disetop

DENPASAR, balipuspanews.com- Maraknya alih fungsi lahan pertanian dijadikan pemukiman oleh masyarakat, menjadi perhatian banyak pihak karena semakin hari semakin berkurang jumlah lahan yang ada di Bali yang disebabkan oleh alih fungsi lahan.

Melihat situasi seperti ini, akibat dari virus COVID- 19 ini membawa ibas terhadap pariwisata Bali, dimana sektor pariwisata yang menjadi sektor unggulan di Bali, kini mengalami kendala, maka sektor pertanian yang satu-satunya bisa menjadi bantalan saat situasi sepertu ini.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan Bali Made Mangku Pastika mengungkapkan ada beberapa poin yang ditangkap dari pertemuan dengan HKTI Bali saat
menyerap aspirasi masyarakat dalam masa Reses ke II, adanya persoalan alih fungsi lahan, persoalan pasca panen, persoalan bibit, pupuk dan persoalan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Melihat perkembangan dewasa ini, dimana para pemuda yang enggan untuk terjun ke sektor pertanian, lantas siapa yang akan menggantikan generasi petani sakarang yang rata-rata usianya 50an tahun,” seru Pastika, Rabu (11/3).

BACA :  Harganas, Sekda Ingatkan Arti Penting Keluarga

Disebut Pastika, lama kelamaan lahan akan menjadi tidak produktif, lahan dijual atau tidak ada yang menggarap. Bagaimana peristiwa ini akan berdampak pada ketahanan pangan di Bali.

Selain itu, masih menurut Pastika, bahwasannya pertanian itu identik dengan makanan ada didalamnya tanaman, peternakan, tambak ikan, ini semua termasuk dalam pertanian dalam arti luas, menyangkut keberlangsungan hidup manusia.

Dirinya berharap kepada semua stake holder, pemerintah, pemimpin, tokoh masyarakat harus memikirkan persoalan ini.

Selain itu, dirinya juga menyarankan agar para petani memperhatian pasca panen yang acap kali ketika panen melimpah harga turun, sehingga petani merugi.

Dalam hal ini, Mantan Kapolda Bali ini menyebut perlu adanya peralatan yang canggih, dan mengundang pakar-pakar untuk diajak mencarikan solusi, serta pemimpin memberi pelayanan yang optimal yang menyangkut izin, yang kerap kali menjadi kendala.

Hal senada juga disampaikan Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Bali Prof. Dr. Ir. Nyoman Suparta, Ms, MM, memandang dialog yang dilaksanakan ini bermanfaat dan penting dilakukan untuk untuk membahas pertanian di Bali.

BACA :  Wali Kota Jaya Negara Buka Turnamen Futsal Kusuma Praja Cup VIII

Secara ringkas poin yang disampaikan terhadap Anggota DPD RI Perwakilan Bali yaitu harus dilakukan penyetopan alih fungsi lahan pertanian. Kalau hal ini tidak dilakukan, lahan pertanian akan habis.

” Hal ini harus dilakukan, kalau tidak, Denpasar, Badung, dan Tabanan akan jabis,” tegasnya.

Masalah sumber air juga menjadi sorotan dalam dialog tersebut, pasalnya keberadaan air ini sangat penting. Tanpa air petani tidak akan bisa menjalankan keberlangsungan di sektor pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, air harus perlu dipikirkan.

Kedua hal tersebut memang penting yang harus diperhatikan. Namun, yang tidak kalah menarik bagaimana agar anak muda mau terjun pada sektor pertanian di wilayahnya masing-masing.

Disamping itu, pemasaran juga menjadi ujung tombak dari pertanian. Kalau pemasarannya bagus, hingga harga yang dicapai tinggi, tentu ini akan menjadi daya tarik para generasi muda untuk mau terjun bertani di wilayahnya. (bud/bpn/tim).

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular