KARANGASEM, balipuspanews.com – Hak pendidikan anak binaan tetap menjadi perhatian Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIB Karangasem.
Selain mengikuti pendidikan formal melalui program kejar paket, para anak binaan juga diberikan berbagai kegiatan pembinaan karakter dan pengembangan keterampilan. Namun, pelaksanaan pelatihan kerja masih terkendala minimnya sarana dan peralatan.
Kasi Pembinaan LPKA Kelas IIB Karangasem, Putu Yogi Hithawati baru-baru ini mengatakan bahwa setiap anak yang baru masuk ke LPKA terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan di klinik. Setelah itu mereka diberikan perlengkapan yang telah disediakan oleh LPKA.
“Setiap anak yang baru datang wajib menjalani pemeriksaan kesehatan di klinik. Setelah itu mereka diberikan pakaian. Pakaian dari luar dibatasi hanya satu sampai dua stel, karena kebutuhan seperti seragam olahraga dan seragam sekolah sudah kami sediakan di LPKA,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh anak binaan diwajibkan mengikuti pendidikan. Bagi yang putus sekolah, mereka diarahkan mengikuti program kejar paket sesuai jenjang pendidikannya.
“Semua anak wajib sekolah. Ada yang awalnya tidak bisa membaca meskipun sudah lulus SD. Banyak yang memiliki berbagai alasan tidak mau melanjutkan pendidikan, tetapi kami dekati terus hingga akhirnya bersedia mengikuti sekolah lagi,” katanya.
Proses belajar mengajar dilakukan dengan mendatangkan guru ke dalam LPKA sebanyak dua kali setiap minggu. Sementara saat pelaksanaan ujian, anak binaan dikawal menuju Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) untuk mengikuti ujian bersama peserta kejar paket lainnya.
“Guru datang mengajar ke sini. Saat ujian kami mengawal mereka ke SKB agar mengikuti ujian bersama peserta lainnya. Astungkara tahun 2026 ini anak-anak binaan kami juga berhasil meraih prestasi,” ungkapnya.
Selain pendidikan, LPKA juga memberikan pembinaan karakter melalui kegiatan pramuka serta latihan baris-berbaris yang bekerja sama dengan Kodim 1623/Karangasem guna membentuk kedisiplinan.
Yogi mengatakan pihaknya juga berupaya mengembangkan keterampilan sesuai bakat dan minat masing-masing anak binaan. Saat pertama masuk, mereka didata mengenai hobi dan keterampilan yang diminati.
“Ada yang bercita-cita menjadi barista, ada juga yang ingin belajar potong rambut. Sayangnya kami belum memiliki peralatan yang memadai untuk pelatihan tersebut. Saat ini yang rutin baru pembinaan berkebun dengan bibit yang kami siapkan sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, sebenarnya sudah ada yayasan yang bersedia memberikan pelatihan barista secara gratis. Namun, pelatihan belum bisa berjalan maksimal karena keterbatasan peralatan pendukung.
“Yayasannya sudah siap mengajar, tetapi untuk belajar menjadi barista tentu membutuhkan mesin dan perlengkapan. Itu yang masih menjadi kendala kami saat ini. Kami berharap bisa berkoordinasi dengan dinas terkait agar pelatihan keterampilan dapat lebih lengkap,” katanya.
Yogi menambahkan, hasil pembinaan di LPKA cukup menggembirakan. Sejumlah alumni binaan telah berhasil kembali ke masyarakat, bahkan ada yang bekerja di sektor usaha kuliner.
“Beberapa anak yang sudah bebas saya ajak bekerja di usaha kuliner yang saya miliki di Denpasar. Astungkara mereka benar-benar berubah dan mampu menjalani kehidupan dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, setelah selesai menjalani masa pembinaan, anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan formal seperti biasa. Bahkan bagi yang berasal dari keluarga kurang mampu, tersedia kesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Setelah keluar mereka bisa kembali bersekolah. Bagi yang memenuhi syarat juga ada kesempatan memperoleh beasiswa agar tetap bisa melanjutkan pendidikan,” pungkasnya.
Penulis: Gede Suartawan
Editor: Oka Suryawan




