Anak Usia Dini
sewa motor matic murah dibali

LenteraJiwa, balipuspanews. com -Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun terkadang mereka kurang memahami kesiapan anak dalam mempelajari hal baru sehingga orang tua terburu-buru ingin agar anaknya bisa melakukan berbagai hal.

PENULIS : Psikolog IA Maitry Sanjiwani

Hal ini dapat membuat anak menjadi tertekan dan justru menjadi tidak berminat dalam belajar.

Membaca, menulis, berhitung (calistung) saat ini telah menjadi tolak ukur utama untuk melihat kemampuan kognitif anak. Hal ini menyebabkan adanya kekhawatiran pada orang tua jika anaknya belum mampu dalam calistung sehingga sebagian besar orang tua akan memberikan les pada anaknya.

Hal ini bahkan terjadi pada anak usia dini atau yang masih berada di TK. Para guru di TK pun mulai memasukkan calistung sebagai mata pelajaran utama dan bahkan sampai ada ulangannya.

Hal ini karena adanya tuntutan dari orang tua. Seperti salah satu TK dimana gurunya telah mengajarkan penjumlahan dan pengurangan 3 digit angka serta menyalin kalimat dengan 3 suku kata.

Anak usia dini belum waktunya untuk diajarkan mengenai calistung secara khusus sebagai mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang tercantum dalam Surat Edaran Nomor 1839/C.C2/Tu/2009 perihal “Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar” nomor 5 tentang pelaksanaan pendidikan TK, Menteri melarang TK untuk menggunakan metode calistung: “……TK tidak diperkenankan mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) pada anak-anak. Konteks pembelajaran calistung di TK hendaknya dilakukan dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan melalui pendekatan bermain.

Menciptakan lingkungan yang kaya dengan keaksaraan akan lebih memacu kesiapan anak untuk memulai kegiatan calistung (www.kemdiknas.go.id)”.

Pada anak usia dini pemberian stimulasi dengan bermain lebih penting untuk dilakukan agar seluruh aspek perkembangan menjadi optimal, yaitu aspek motorik, aspek kognitif, aspek sosioemosional dan aspek bahasa. Lalu apa penjelasan masing-masing aspek perkembangan, apa dampaknya jika kurang diberikan stimulasi, dan bagaimana cara memberikan stimulasi? Berikut penjelasannya.

Aspek motorik, dibagi menjadi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot besar seperti berdiri, berjalan, berlari, dan menendang.

Motorik halus adalah gerakan tubuh yang berhubungan dengan otot kecil dan koordinasi tangan serta mata seperti memegang benda, menulis, dan menggunting. Kurangnya stimulasi menyebabkan gerakan tubuh anak menjadi kurang seimbang, kaku, dan lincah. Stimulasi motorik kasar melalui kegiatan menendang bola, bermain lompat tali, menari, dan senam.

Motorik halus dengan meronce, mencocok, menggambar, dan menempel. Aspek bahasa yaitu kemampuan anak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kurangnya stimulasi menyebabkan anak kesulitan menyampaikan keinginan, mengekspresikan diri dan perasaannya.

Stimulasi melalui kegiatan mendongeng, melakukan diskusi sederhana, menyanyi, bersyair, dan meminta anak bercerita. Aspek sosioemosional yaitu kemampuan anak dalam mencapai kematangan sosial dan emosi yang ditandai dengan mau berbagi, bekerjasama, menolong, dan menunjukkan kasih sayang pada orang lain. Kurangnya stimulasi menyebabkan kesulitan beradaptasi, memiliki inisiatif, sulit berinteraksi dan memahami perasaan orang lain. Stimulasi dilakukan dengan pretend play atau menyelesaikan kegiatan secara berkelompok.

Aspek kognitif yaitu kemampuan anak yang berkaitan dengan pemahaman dan proses berpikir, pada anak usia dini ditandai dengan mampu membayangkan objek secara abstrak, menganggap sebuah benda mati memiliki kehidupan, perhatian terpusat pada satu karakteristik saja, dan munculnya egosentrisme. Kurangnya stimulasi menyebabkan anak menjadi pasif, kurang imajinatif, dan rasa ingin tahu yang rendah. Stimulasi dilakukan dengan mengurutkan atau mengelompokan benda, mendongeng, dan mengijinkan anak bereksplorasi dan menjawab pertanyaan anak (Sheridan, Sharma & Cockerill, 2008).
Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan setiap aspek perkembangan ini sama-sama penting, sehingga perkembangan kognitif tidak lebih penting daripada perkembangan sosioemosional. Selain itu aspek kognitif tidak diukur berdasarkan kemampuan calistung semata.

Kurangnya mendapatkan stimulasi pada setiap aspek perkembangan akan mempengaruhi kemampuan anak. Maka dari itu kembali pada pilihan orang tua, apakah ingin anaknya hanya sekedar bisa calistung atau seluruh aspek perkembangannya menjadi optimal?.

 

 

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here