BANJAR, balipuspanews.com — Hiswana Migas Kabupaten Buleleng terus menggenjot ketersediaan gas elpiji pangkalan di masing-masing desa. Alhasil, ketersediaan stok gas elpiji khususnya 3 Kg lebih dikenal dengan gas melon melimpah. Meski begitu, pihak Hiswana Migas Buleleng juga memperketat jalur distribusi gas melon untuk menghindari penyimpangan.

I Made Kariasa selaku Kordinator Agen gas elpiji 3 Kg mengatakan, pihaknya selaku panjang tangan Pertamina saat ini memperketat suplai gas melon dari dua SPPBE, SPPBE PT Gaya Investama di Kubutambahan dan SPPBE PT Sari Ayu Pertiwi berlokasi di Temukus kepada para agen dan pangkalan. Sejumlah agen hanya diperbolehkan menerima distribusi 200 tabung per hari.

sewa motor matic murah dibali

Nah, penerapan batasan itu bertujuan untuk menghindari tindakan kriminal dan permainan dari para agen atau pangkalan nakal.

“Sistem yang kami terapkan sudah berjalan. Astungkara saat ini pelanggaran berupa tindakan pengoplosan nyaris tidak ada. Kalau dulu sering terjadi penyimpangan, karena peluang ada. Sistemnya yang lemah dan tidak tertata. Sekarang tidak bisa, karena agen sudah tertata tidak boleh lebih dari 200 tabung. Jika lebih dari angka 200, di sistem akan terlihat. Apalagi akhir tahun pasti kena audit BPK,” kata Kariasa saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (18/3).

Kariasa menuturkan, sesuai program Pertamina pihaknya sudah membentuk pangkalan siaga yang tersebar di 148 desa/kelurahan se-Kabupaten Buleleng. Pangkalan ini diwajibkan tetap buka untuk melayani konsumen, sekalipun hari raya dan libur nasional, selama stok belum habis.

“Program Pertamina satu desa satu pangkalan tergolong sangat efektif memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya ditujukan bagi masyarakat tidak mampu yang berhak untuk mengkonsumsi LPG bersubsidi. Jumlah dropping gas melon per pangkalan cukup variatif, mulai dari 50 maksimal 200 unit. Ya, itu kan tergantung besaran jumlah pelanggan di masing-masing pangkalan itu,” jelasnya.

Soal Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 Kg, Kariasa menyebut harga masih mengacu pada Keputusan Gubenur Bali, yakni Rp 14.500 per tabung di pangkalan.

Nah, bagaimana jika di lapangan diketahui ada pangkalan yang menjual melebihi HET?

Kariasa menegaskan, masyarakat bisa melaporkan pangkalan tersebut kepada agen terdekat atau ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dagprin) Kabupaten Buleleng.

“Astungkara, selama ini tidak ada yang bermasalah. Namun, jika ada pangkalan yang menjual melebihi HET , maka kami akan memberikan pembinaan atau teguran terlebih dahulu. Jika sudah tiga kali ditegur masih melanggar, terpaksa kami akan melakukan tindakan pemutusan hubungan usaha,” ungkapnya.

Imbuh Kariasa, jangkauan tanggung jawab pengendalian harga dari agen hanya sampai pangkalan. Sehingga jika terjadi lonjakan harga pada pangkalan ataupun pengecer, maka itu di luar jangkauannya. Ia memastikan harga elpiji hingga detik ini masih belum ada lonjakan yang segnifikan. Menurutnya, pihaknya tetap menjual sesuai HET, yakni Rp 14.500 dari agen kepada pangkalan. Sejauh ini, harga eceran tertinggi masih di angka Rp 16 ribu.

“Selama ini, khusus di Buleleng belum kami temukan pengecer yang menjual Elpiji dari Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Namun jika ada, itu sudah di luar tanggung jawab kami. Mungkin saja ada, dan itu terjadi karena pengecer menjual ke pengecer lainnya sehingga mata rantai distribusi terlalu panjang. Selain itu mungkin juga karena jarak yang jauh biasanya. Saran kami, masyarakat bisa membelinya di pangkalan,” terangnya.

Kariasa menyampaikan, perputaran market di Buleleng hingga saat ini masih terlihat normal. Pihaknya mencatat, pendistribusian gas elpiji 3 kilogram terbesar berada di Kecamatan Seririt dan Kecamatan Buleleng. Pendistribusian gas elpiji 3 kilogram di dua kecamatan itu, sekitar 60 persen dari jumlah distribusi 60 hingga 70 ton.

Selaku koordinator agen gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Buleleng, Kariasa pun menjamin ketersediaan gas melon di Buleleng aman.

Tinggalkan Komentar...