Apa Misteri Dibalik Tiga Hari Suci Waisak, Purnama dan Penampahan ?

Photo infogianyar

Relegi, balipuspanews.com-Terdapat 3 hari suci yang jatuh bersamaan pada hari ini, Selasa (29/5) yaitu Penampahan Galungan, Purnama Sasih Sadha, dan Waisak, apa misteri dikandung dalam hari Raya ini?
.
• Buddha Purnima (Waisak)
.
Umat Hindu tidak merayakan kelahiran Buddha meskipun corak Hindu di Bali menggunakan sinkretisme ajaran Śiva-Buddha. Di India, beberapa garis paramparā Vaişņava menghormati Buddha sebagai avatāra terkemuka ke-9 Śrī Hari Vişņu (Nārāyaņa) atau avatāra ke-21 versi Śrīmad-Bhāgavatam. Dalam Tantrisme, Buddha memiliki relasi dengan Dewi Tārā (salah satu dari 10 manifestasi Ibu Devī atau Durgā — Dāśa Mahāvidyā) yang dalam ajaran Buddha, Dewi Tārā dikenal sebagai salah satu perwujudan feminim Bodhisattva. Wujud Ibu Devī ini (Tārā) dihormati oleh garis paramparā Kaula Tantra dan Vajrayāna (garis ajaran Buddha eksoterik)
.
• Penampahan Galungan (Kalender Bali)
.
“Anggara Wage Wuku Dungulan disebut hari Penampahan. Pada hari itu Sang Bhuta Galungan makan. Maka pada hari tersebut oleh pemimpin Desa Pakraman disediakan suguhan, dengan cara memberi korban berupa Caru kepada Bhutakala bertempat di Desa Pakraman.” (Petikan Lontar Sundarigama)
.
Penampahan Galungan – berasal dari kata tampah atau sembelih (hal ini bermakna filosofis) hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan / keraksasaan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan untuk dijadikan korban atau persembahan apalagi untuk kepuasan indria lidah dan perut semata, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut.
.
• Purnama (Kalender Bali)
.
“Pada Purnama dan Tilem dipandang sebagai hari penyucian Sang Hyang Rwabhineda yakni Sang Hyang Śiva Surya dan Sang Hyang Ratih. Pada hari Purnama dikatakan Sang Hyang Ratihlah yang beryoga. Karena itu para Sulinggih dan Pinandita atau umat Hindu dan keluarganya patut melakukan penyucian diri lahir batin dengan mempersembahkan banten, wangi-wangian, canang dan puspa harum. Persembahan itu disampaikan kepada semua dewa sebagai permohonan pelebur cemer.” (Petikan Lontar Sundarigama)
.