Denpasar, balipuspanews.com – Bencana tsunami yang meluluhlantakkan wilayah Aceh pada tahun 2004, menjadi tonggak pembangunan rumah murah bongkar pasang (Ramah Karsa) yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
“Saat itu, saya tergabung dalam tim Kementerian PU, menyelesaikan 1.000 unit rumah bagi warga Aceh yang kehilangan tempat tinggal. Pembangunan Ramah Karsa menjadi solusi karena merupakan hunian tahan gempa,” ujar Ari Setiya Wibawa, pendiri perusahaan properti Uma Sapta di Denpasar.
Setelah proyek di Aceh selesai dan Ari menjalani seleksi dan pelatihan sejak tahun 2010, hingga akhirnya mendapatkan lisensi sebagai rekanan atau aplikator Kementerian PU untuk pembangunan Ramah Karsa.
Keunggulan Ramah Karsa, dijelaskan Ari sebagai bangunan yang terbuat dari beton bertulang yang kuat menahan beban antara 400 – 450 kg. Memiliki ketahanan menghadapi gempa hingga kekuatan 8.0 skala Richter. Pengujian kekuatan struktur dilakukan di Laboratorium Puslitbang Pemukiman Kementerian PU, Bandung.
Kelebihan lain dari Rumah Karsa, pembangunannya memakan waktu yang relatif singkat. Apabila membangun rumah secara konvensional tipe 36, maka membutuhkan waktu paling tidak 2,5 bulan. Jika tipe serupa dibangun model Ramah Karsa maka hanya memerlukan waktu 1,5 bulan saja, mengingat pembangunannya tergolong simpel dengan menggunakan konstruksi beton yang dirakit.
Metode konstruksi yang digunakan adalah Ruspin. Di mana Ruspin adalah produk konstruksi hasil penelitian dari Kementerian PU, berupa panel-panel beton bongkar pasang.
Proses perakitan dimulai dengan menyiapkan jumlah panel beton yang dibutuhkan. Panel kemudian dirakit menjadi modul 3X3 meter yang merupakan modul terkecil dari metode konstruksi ini. Modul itu kemudian dapat diperbanyak sesuai kebutuhan desain. Proses perakitan membutuhkan waktu 4-7 hari dengan tenaga maksimal empat orang.
Proses selanjutnya adalah pemasangan atap, lantai, dinding dan utilitas. Keseluruhan proses itu hanya membutuhkan waktu 1,5 sampai Ramah Karsa siap untuk dihuni.
Bangunan Ramah Karsa tidak hanya diperuntukkan bagi rumah tinggal. Bisa juga untuk diterapkan pada bangunan kos-kosan, kios persewaan, perkantoran, rumah ibadah dan lainnya.
Praktisnya membangun hunian ala Ramah Karsa, membuat peminat dari berbagai daerah mulai melakukan pemesanan, khususnya untuk membuat bangunan kantor dan rumah kos.
“Sekarang sedang dibangun pembangunan rumah kos di daerah Sesetan, Denpasar. Kos-kosan itu dibangun di atas lahan empat are dan bertingkat dua dan kamar keseluruhan 24 kamar sewa. Kalau dibangun secara konvensional, bisa menghabiskan dana di atas Rp1 miliar, tetapi dengan pembangunan Ramah Karsa akhirnya bisa dihemat hingga mencapai angka Rp700 juta,” kata Ari.
Dia menambahkan, jika peminat yang menyukai Ramah Karsa memang agak terbatas, khususnya ibu-ibu yang sering melihat kurang bersih penampilan dinding. Padahal ketahanan bangunan tak beda hunian konvensional yang mencapai 25 – 30 tahun setelah dibangun.
Meski demikian, tetap ada yang tertarik karena melihat berbagai kualitas yang dimiliki Ramah Karsa. Beberapa peminat ada yang berasal dari beberapa kota di Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Sumatera.
Sementara itu, beberapa proyek Ramah Karsa yang pernah dibangun Ari antara lain, Kampung Deret Petogogan – Jakarta, Puskesmas di Padang, bangunan sekolah SMPN1 Ciganlontang – Tasikmalaya, dan masih banyak lagi.
“Selama ini, kendala yang ditemui hanya pada masalah belum keterbiasaan dari masyarakat. Bukan keberatan sebenarnya, cuma Ramah Karsa ini kan sesuatu yang baru, jadi butuh proses untuk diterima sepenuhnya,” katanya.
Ari mengharapkan suatu hari nanti, produk Ramah Karsa bisa masuk supermarket di berbagai daerah di Tanah Air. Bahan baja yang digunakan pun diinginkan bisa lebih ringan lagi, namun dengan ketahanan dan kualitas yang sama.
Apabila sudah bisa diterima masyarakat dan bisa didapatkan dengan mudah, tak menutup kemungkinan nanti warga bisa membangun sendiri rumah impiannya. Seperti di Jepang, di mana masyarakatnya sudah terbiasa untuk merakit sendiri hunian yang akan ditempatinya.
Keberadaan Ramah Karsa, menurut Ari seharusnya menjadi solusi bagi warga yang masih bermimpi untuk menempati rumah tinggal. Jika seseorang sudah memiliki tanah, akan tetapi belum mempunyai biaya untuk membangun rumah, maka Ramah Karsa bisa menjadi pilihan karena memang relatif murah.
Sementara itu, bagi warga yang tinggal di kota, bisa menyewa tanah untuk kemudian dijadikan tempat Ramah Karsa. Jika masa sewa tanah telah selesai, maka Ramah Karsa bisa dibongkar kembali untuk dipindahkan ke tempat lain.
“Ketimbang kos dengan luas tempat terbatas, maka sewa lahan kemudian dibangun Ramah Karsa menjadi solusi yang praktis,” ujarnya.
Untuk mendukung kontinuitas usaha, maka Ari mendirikan ‘workshop’ pembuatan beton bertulang di wilayah Surabaya. Workshop itu memakai tenaga masyarakat setempat dan setiap bulan mampu memproduksi sekitar 15 unit beton bertulang.
Menyinggung soal promosi, Ari mengakui hanya menggunakan media sosial seperti Facebook atau Instagram saja, tidak melalui pameran secara gencar.
“Kan memang penggemar Ramah Karsa itu segmented. Jadi bagi mereka yang membutuhkan dan menghubungi, kami siap untuk mewujudkannya. Bahkan, kadang kami mencarikan solusi pembiayaan bagi masyarakat kurang mampu yang tidak mempunyai rumah tinggal,” ujarnya.
Di sisi lain, Ari menjelaskan selain produk Ramah Karsa, sejak tahun 2010 dirinya pun menjalankan bisnis properti konvensional, terkait selera masyarakat yang beragam. Pembangunan perumahan konvensional itu dilakukan di kawasan Dalung, Puri Gading – Jimbaran dan Kabupaten Tabanan.



