Ilustrasi kesunyian (ist google)
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Sekilas apa yang saya jadikan judul dalam tulisan ini kelihatannya sangat berat, sebab harus mengadakan Sunya atau sunyi. Sedangkan kita hidup di keramaian dengan hiruk pikuknya duniawi yang nyata. Jadi bagaimana Tattwa itu mengadakan Sunya atau kesunyian. Tetapi, bukanlah itu yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Tattwa mengadakan Sunya adalah bagaimana kita berjalan pada laku spiritual guna memunculkan Sunya dalam diri sebagai ruang yang tanpa batas dalam berkesadaran.

Sunya bukan pula sunyi atau kosong sebagaimana ruang yang hampa. Tetapi Sunya dalam konteks ini adalah sebuah kondisi yang sudah terlepas dari segala bentuk, atribut, wujud dan identitas yang selama ini menghalangi Sang Atma sebagai Atmikatattwa untuk kembali kepada Sunya; bahkan Paramasunya sebagai sumber Sunya.

Jadi Sunya Tattwa dalam hal ini bukanlah sesuatu yang kosong tidak ada apa-apa. Tetapi adalah ruang yang semuanya ada dan darinya semua ini mengada dan terlahir. Sangat paradoks ketika kita berada pada hal memahami Sunya, tetapi hanya itulah yang dapat menjelaskan keberadaan Sunya yang sesungguhnya tidak dapat dijelaskan dengan deskripsi apapun. Bahkan menyatakan yang Sunya itu dengan Sunya sesungguhnya kita memberikan batasan pada yang tidak terbatas.

Jadi, hakikat Sunya adalah sunyi yang Nirwujud, di mana semua keberadaan ini sudah kehilangan identiasnya, dan yang ada hanyalah esensi. Hal yang demikian, dalam teks Siwa Tattwa disebut sebagai Paramasiwatattwa, dan saya lebih sering menyebutnya sebagai Paramasunya, yakni suatu dimensi yang melampaui kesunyian itu sendiri. Melampaui pula pengertian sunyi sebagaimana dipahami orang sebagai yang nihilism.

Kemudian jika kita kaitkan Sunya itu dengan laku spiritual, maka akan muncul pertanyaan bagaimana mengadakan Sunya itu? Pertanyaan mendasar dari laku diri untuk mengecap nikmat Boga Paramasunya sebagai makanan bagi Sang Atma. Sebab selama ini kita mengabaikan keberadaannya sebagai yang murni, seperti tetesan embun yang berada pada ujung rumput ilalang berkilauan disentuh cahaya sang surya pagi.

Untuk itu, mengadakan Sunya adalah laku spiritual untuk kita memunculkan ruang sunyi itu di dalam diri sebagai kesadaran total yang tidak lagi terjebak oleh atribut dan identitas diri yang membelenggu dan menciptakan dinding tebal keakuan. Dan menghilangkan kadar kemurnian Sang Atma. Dalam hal ini tentunya hakikat dari mengadakan Sunya adalah berupaya menyelami diri lebih mendalam sehingga sampai pada sebuah pengalaman dimana semuanya dirasakan sama dalam pandangan yang sama.

Duka bukan lagi memunculkan kesedihan, kesenangan tidak lagi memunculkan kegirangan. Hitam bukan lagi sesuatu yang dirasa kotor, dan putih bukan lagi kesucian. Tetapi ketika kita dapat mengadakan Sunya, dualitas hanyalah sebuah keadaan yang sangat bergantung dari proyeksi yang muncul dari dalam pikiran kita yang masih terikat Trigunatattwa, yakni Satwam (kebaikan), Rajas (Keaktifan) dan Tamas (Kepasifan). Ketiga Guna inilah yang menodai Sang Atma sehingga memunculkan jarak antara Sunyaatma dengan Paramasunyatma.

Bertolak atas hal tersebut, mengadakan Sunya sesungguhnya adalah bagaimana kita mengikat ketiga Guna yang mengikat pikiran dengan menambatkannya pada kendali kesadaran akan Sunya. Dengan itu, Triguna akan terkelola dengan baik dan berada di bawah dominasi kesadaran penuh. Sadar bahwa unsur Satwam muncul dalam pikiran, sadar pula ketika guna Tamah sedang bergejolak dan sadar ketika Tamah dari guna muncul sedemikain rupa memberikan warna pada pkiran.

Dengan kita menyadari semua itu, maka pikiran tidak lagi dikendalikan oleh guna yang menyebabkan Sang Atma dan diri tentunya terombang-ambing dalam ketidaktahuan. Ketiga Guna ini sudah terkendali, maka kita segera bisa mengarahkan diri pada Sunya itu. Mengendalikan ketiga Guna tersebut tentunya tidak semudah yang saya tulis, tetapi kesediaan dan usaha yang tidak pernah putus untuk sampai pada Sunya hendaknya dilakukan, sehingga akan sampai nantinya pada Sunya itu sendiri.
Kemudian, bisakah dikehidupan ini mengadakan Sunya itu? iya, pada saat kita hidup dan menjadi manusialah kesempatan yang sangat baik untuk kita mengadakan dan sampai pada Sunya. Sebab hanya manusialah diberikan Sabda (suara), Bayu (tenaga) dan Idep (pikiran) untuk kita dapat berada dan memasuki ruang Sunya yang jelas-jelas membutuhkan keutuhan dari ketiga Pramana tersebut.

Mengadakan Sunya tidak mesti menunggu ketika ajal akan menjemput atau setelah kematian, tetapi bisa dilakukan di kehidupan ini ketika menjadi manusia sebagai makhluk utama. Dan, puncak tertinggi dalam evolusi kesadaran sehingga manusaia dapat menempuh laku Sunya sebagai cara untuk menikmati Boga Paramasunya sebagai kenikmatan yang kekal.

Ong Rahayu

Advertisement

Tinggalkan Komentar...