Lokasi Villa bule asal Prancis bernama Roussel mengusir warga lokal Jem Tatto untuk tidak beraktivitas di pesisir Pantai Pemaron.
sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspnews.com — Seorang warga negara asing (WNA) asal Prancis bernama Roussel Gil Pascal Andre (51) yang menempati sebuah villa di wilayah pantai Desa Pemaron, Buleleng, berulah. Bule ini mengusir salah seorang musisi muda Buleleng Ketut Suadnyana alias Jem Tatto (33) saat beraktifitas di pantai Pemaron di Banjar Dinas Dauh Marga, Desa Pemaron, pada Minggu (1/9) kemarin.

Kejadian pengusiran yang dilakukan seorang WNA terhadap warga lokal, sebelumnya sempat terjadi beberapa bulan lalu di Desa Temukus, Kecamatan Banjar. Dimana, warga lokal dilarang mandi di pantai oleh turis asal negeri timur tengah yang menginap di salah satu Villa Desa Temukus.

Kejadian yang terjadi di Pemaron, seolah mengulang kejadian sebelumnya yang terjadi di Desa Temukus. Pengusiran yang dilakukan Roussel terhadap Jem Tatto ini sempat viral setelah di unggah diakun miliknya. Pasca kejadian itu, pada Senin (2/9) villa yang ditinggali oleh Roussel akhirnya didatangi warga Pemaron, aparat kepolisian, aparat desa dan pihak Imigrasi Singaraja. Hanya saja di lokasi villa tersebut, Roussel sedang tidak ada ditempat.

Menurut penuturan Jem Tatto, kejadian itu terjadi saat dirinya bersama rekan-rekannya sedang beraktifitas membakar ikan di pesisir pantai Desa Pemaron tepat didepan villa yang ditempati oleh Roussel sekitar pukul 17.30 wita.

Saat itu, Roussel keluar dari villanya dan melarang Jem Tatto bersama temannya beraktifitas di pantai. Bahasa larangan itu disertai dengan bentakan dan ancaman dari Roussel kepada Jem Tatto.

“Pergi, jangan bakar dan beraktivitas disini. Kalau tidak mau saya boleh dong bakar rumah juga,” ujar Jem Tatto menirukan ucapan Roussel saat itu ketika ditemui di depan villa yang ditempati oleh Roussel.

Tak hanya melarang, Roussel bahkan sempat menantang Jem Tatto berkelahi.

“Kami heran, kok beraktivitas di pantai kami dilarang dan pantai ini malah ingin dikuasai. Kami warga lokal berhak untuk mendapatkan hak untuk bisa menikmati pantai di Desa Pemaron ini,” kata Jem Tatto dengan nada kesal.

Untuk itu Jem berharap, pihak berwenang mengambil sikap agar peristiwa ini tidak terus menerus menimpa warga lokal.

“Saya berharap bule itu dideportasi oleh pihak Imigrasi, karena telah membuat onar dan resah dengan melarang warga beraktivitas di Pantai Pemaron,” tegasnya.

Sementara, Perbekel Desa Pemaron, Putu Mertayasa, tidak menampik jika bule asal Prancis bernama Roussel kerap membuat ulah di desanya. Bahkan sebelumnya, Roussel sempat melarang masyarakat untuk bermain, mandi dan mancing di pantai tersebut. Bahkan melarang warga mencari kerang pantai ketika musim air laut surut.

Bukan itu saja, saat ada lomba kicau burung yang berlokasi tidak jauh dari villa tersebut, Roussel sempat berbuat ulah dengan menggembosi ban sepeda motor milik warga dan pasang papan pengumuman yang meminta agar warga tidak beraktivitas di pantai dekat lokasi villa miliknya. Untuk tidak mengulangi ulahnya, pihak desa telah meminta Roussel membuat surat pernyataan agar tidak melarang warga beraktivitas di pantai dan tidak membuat ulah lagi.

“Villa itu ada tahun 2016 dan diurus istri Roussel termasuk IMB. Saat ini dia (Roussel) sendiri disana tinggal dan menunggu proses perceraian. Kami sudah buatkan surat pernyataan, jika lagi Roussel membuat ulah, kami akan melayangkan surat ke Imigrasi Singaraja agar ditindaklanjuti. Paling tidak akan ada sanksi kepada wisman tersebut,” jelas Perbekel Mertayasa.

Menyikapi hal tersebut, Kasi Intelejen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Thomas Aris Munandar mengaku, sudah melakukan langkah-langkah mendalami kasus ini, dengan mendatangi lokasi pantai dan villa tempat Roussel tinggal.

“Kami akan pelajari kasusnya apakah akan diberi sanksi berupa deportasi atau tidak. Jadi ini belum dapat kami simpulkan. Kami harus meminta keterangan terhadap Roussel terlebih dahulu,” singkatnya.