Sabtu, Juli 20, 2024
BerandaGianyarBangkitkan Seni di Kampung Payangan

Bangkitkan Seni di Kampung Payangan

Gianyar, (Balipuspanews) – Ini satu contoh indah bagaimana living culture pedesaan di Bali menjadi daya tarik dan menjadi tourist spot. Nama desanya Payangan, lokasinya Jero Pengaji, di rumah tradisional ini dihuni oleh dua bersaudara Dewa Rai dan Dewa Putra.

Semua pemusik, penari, petugas, pemasak, dari warga di desa itu, setiap kali ada kunjungan turis, mereka berkumpul dan seakan otomatis semua koordinasi pelayanan dan performance terlaksana dengan sendirinya.

Pemilik rumah tradisional Dewa Rai memang pernah berbisnis travel agent di Jakarta, sebelumnya pernah bekerja di Jerman, dan Dewa Putra pernah bekerja di Perancis. Pekarangan rumah dengan tata letak – layout –bangunan-bangunan sesuai arsitektur dan karakter tradisi Bali, di situ diolah menjadi arena wisata alam cum wisata budaya. Semua kegiatan berada di tengah alam desa, terbuka, tentu ada panggung juga.

Terdaftar pesanan akan berkunjungnya 65 grup wisman untuk periode Januari-November 2016. Booking itu datang dari Kanada, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, China. “Rata-rata 25 orang per grup,” ujar Dewa Rai. Jadi, total mendekati jumlah 2000 orang. Dia mengenalkan “aktivitas” bagi wisman selama berada di kompleks rumah desanya.

BACA :  Pemberitahuan Rencana Pengadaan Tanah untuk Pembangunan GOR dan Sarana Penunjang Lainnya di Desa Bakbakan, Gianyar

Jika datang untuk makan siang, dikenalkan demonstrasi memasak dan belajar memasak. Dance performance setelah makan siang, termasuk selalu tari Barong. Ada pula wisman yang menikmati mempraktekkan bagaimana memainkan gamelan Bali.

Jika datangnya untuk makan malam, maka program dinner culture show pun disajikan di tengah alam desa, di pekarangan beratapkan langit, tentu saja sayup-sayup angin malam, angin gunung, angin pedesaan dan persawahan, semua membuat sejuk suasana.

Di pekarangan kompleks rumahnya yang beralaskan rumput itu dijadikan arena table dinner, dance show, bercengkerama. Berkat kesabaran dan ketekunannya memulai kegiatan itu sejak lebih dua tahun yang lalu,

“booking langsung dari luar negeri memang mengalir, tapi dari teman-teman kita handling agent di Bali pun memulai bawa tamu ke sini,” kata Dewa Rai. Sampai sekarang paket aktivitas wisman di desanya itu, di kompleks rumah desanya itu, beredar cerita pengalaman dari mulut ke mulut.

Ya antara peserta ya antara agen-agen di Eropa, lalu menyebar dan bertambahlah booking grup. Hitung-hitungannya sederhana, satu turis kalau bisa menceritakan pengalamannya lalu menghasilkan 10 turis datang, itulah promosinya,—maka yang akan berkunjung bisa mencapai sekitar 20.000 turis. Lokasinya 40 menit berkendara bis dari Sanur, atau 10 menit dari Ubud.

BACA :  Pelaksanaan APBD Gianyar 2023 Berjalan Sesuai Norma, Dewan Sepakat Dijadikan Perda

Saat ini seluruh yang terlibat dalam kegiatan di Jero Pengajinya itu 60 orang termasuk pemusik, penari, dapur, petugas dan setiap periode tertentu, tiga atau empat bulan, masing-masing menerima honorarium dari kerja gotong royong itu. “Indahnya berbagi,” ujar Dewa Rai, sambil senyum.

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular