Bangun Peradaban Era Digital (2) Gubernur Lemhanas : IWO Harus Jadi Garda Terdepan Tangkal Berita Hoax

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Letjend (Pur) Agus Widjojo mengungkapkan, Ikatan Wartawan Online (IWO) memiliki peran untuk mencerahkan publik mengenai berita yang benar dan menjadi garda terdepan dalam menangkal berita bohong (hoax).
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Jakarta, balipuspanews.com- Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Letjend (Pur) Agus Widjojo mengungkapkan, Ikatan Wartawan Online (IWO) memiliki peran untuk mencerahkan publik mengenai berita yang benar dan menjadi garda terdepan dalam menangkal berita bohong (hoax).

Agus mengaku, membaca berita dan cerita dari media sosial merupakan tren yang menjadi kebutuhan masyarakat pengguna media sosial saat ini. Namun masyarakat harus bisa menilai dari kebenaran berita tersebut agar tidak terpengaruh dengan berita hoax yang menebar kebencian.

Agus mengatakan, kini masyarakat harus punya kapasitas menangkal berita kebencian dan hoax.

“Bagi publik, secara umum untuk menilai informasi itu ada dua aspek yang bisa dinilai, pertama melihat sumber berita tersebut, apakah sumber itu kredibel atau informasi tersebut pernah didengar sebelumnya,” kata Agus dalam diskusi bertema ‘Teknologi Digital dan Cyber Crime dalam Media Online’ yang diselenggarakan Ikatan Wartawan Online (IWO) di Jakarta Pusat, Sabtu (9/9).

Agus menjelaskan, ada dua aspek yang dinilai bisa dinilai bahwa informasi yang diterima itu patut diduga benar atau tidak. “Pertama adalah memastikan kredibilitas sumber berita,” jelasnya.

Kedua, lanjut Agus, bersikap kritis terhadap konten berita dengan mengeceknya dari sumber-sumber berita lainnya. “Bila informasi yang diterima, publik harus kritis dan bertanya apakah logis atau tidak. Logis apa tidak jika info ini saya terima. Jika tidak logis, maka patut dipertanyakan terhadap berita seperti ini,” imbuhnya.

Menurut Agus, ada poin yang perlu ditingkatkan untuk memberikan efek jera bagi mereka yang menyebarkan berita kebencian, selain dari segi penegakan hukumnya.

“Teknologi bisa sebanding dengan kompetensi, teknologi mereka yang menyebarkan hoax, di samping itu penegakan hukum harus kongkrit dan bisa diukur untuk mengatakan siapa yang melanggar dan harus ditindak,” papar Agus.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Hukum Henri Subiakto mengungkapkan teknologi pada masa sekarang ini ibarat perpanjangan dari hidup manusia. Pasalnya, generasi milenial seperti tidak bisa hidup tanpa teknologi atau perangkat seperti ponsel di tangannya.

“Hanya 7 menit kita bisa pisah (dengan HP), tapi lebih lama kita akan mencari-cari itu. Sekarang karena ini bagian dari kehidupan masyarakat, apapun harus melalui teknologi digital,” ungkapnya.

Henri mengatakan, semua kabar, apalagi yang menjadi topik yang sedang tren, berasal dari media online ataupun media sosial dan bukan dari media massa seperti televisi. “Kalau dulu mass communication, kalau sekarang komunikasi yang menjangkau banyak orang melalui self to self,” kata Henri.

Menurut Henri, banyaknya orang yang mengakses berita dari media online dikarenakan kecepatan yang dimiliki media online yang tidak dimiliki oleh media cetak ataupun televisi. “Ada media online yang cepat sekali naik, karena dia banyak dimana-mana mereka punya buser,” ujar Henri seraya menambahkan media televisi, saat ini sepertinya lebih banyak diisi oleh adegan-adegan drama ketimbang berita.

TPPT menggunakan TPPU berbasiskan teknologi mengunakan sumber dana tanpa batas, dan itu kata dia sulit dicegah dan sulit dilacak.

Sedangkan web gelap atau Darkweb kerap digunakan oleh pengguna, penjual dan pembeli Anonymous dan transaksi berbagai barang dan jasa yang ilegal atau dilarang di Surface Web.

“Sedangkan, identitas palsu, senjata, bahan kimia, narkoba, pornografi anak, jasa pembunuh bayaran, dan lain-lain. Sementara, peretas menggunakan Dark Web untuk berkomunikasi, berbagi informasi, menjual jasa peretasan, malware, hacking software, password, data curian, dan lain sebagainya,” paparnya.

Dalam diskusi bertema Teknologi Digital dan Cyber Crime dalam Media Online hadir pembicara lainnya adalah Tenaga Profesional Bidang Kewaspaan Nasional Lemhanas, Mayjen TNI (Purn) I Putu Sastra Wingarta, S. IP, M.Sc, Staf Khusus Menkominfo Prof. Henri Subiakto, Budayawan/Mantan Dirut LKBN Antara Mohamad Sobari, serta Dosen Komunikasi Politik dan Kebangsaan Universitas Muhamadiyah Makassar, yang juga Dewan Etik IWO Sulawesi Selatan, Arqam Azikin.

Tinggalkan Komentar...