Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Drs I Nengah Sukasta
Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Drs I Nengah Sukasta
sewa motor matic murah dibali

SEMARAPURA, balipuspanews.com.
Diketahui ada 6 perusahaan boat belum menyetorkan pungutan retribusi wisatawan, saat wisatawan yang hendak berwisata ke Nusa Penida dipungut melalui perusahaan boat tersebut. Dari 6 perusahaan boat, total tunggakan mencapai Rp 1,5 miliar,namun baru ada 2 perusahaan Boat yang berjanji akan segera mencicil kekurangannya ke Kas Daerah.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Drs I Nengah Sukasta . Dirinya dihubungi Senin(12/8/19) mengakui ada 6 perusahaan boat yang menunggak retribusi yang telah dipungutnya melalui wisatawan yang datang ke Nusa Penida.

Namun dari 6 perusahaan boat tersebut sudah ada datang ke Kantor Dinas Pariwisata, baru berjanji bakal mencicil kekurangan yang disetor perusahaan boat tersebut.

Menurutnya dari enam perusahaan boat yang menunggak retribusi ini hampir seluruhnya berpusat di Benoa. Bahkan retribusi yang ditunggak ada yang sejak bulan September 2018 lalu.

“Ini yang ditunggak merupakan retribusi terhadap wisatawan yang tarif lama. Jadi retribusi dari wisatwan itu, tidak disetorkan oleh pengusaha ke daerah,” tegas Nengah Sukasta rada heran.

Jumlah tunggakan retribusi dari 6 pengusaha boat tersebut mencapai angka fantastis berkisar Rp 1,5 miliar. Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Pariwisata sudah tiga kali melanyangkan surat ke pengusaha boat, karena masih belum ada yang datang lagi dirinya bakal menjadwalkan ulang pemanggilan mereka.

Disisi lain pemkab Klungkung masih menemukan beberapa kendala, terkait penarikan retribusi Perda Nomor 5 Tahun 2018 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga yang dimulai sejak Juli 2019 lalu. Misalnya minimnya petugas pemungutan retribusi, menjadi celah bagi sopir yang membawa wisatawan untuk tidak membayar tiket retribusi.

“Di beberapa pos pemungutan retribusi, ada sopir yang membawa wisatawan justru kucing-kucingan dengan petugas kami. Kami meminta kepada pelaku pariwisata, khususnya sopir yang membawa tamu untuk mentaati peraturan ini,” ujar Sukasta.

Para sopir biasanya memanfaatkan kelengahan dan terbatasnya petugas pungut, untuk langsung mengangkut wisatawan ke mobilnya tanpa membayar tiket retribusi terlebih dahulu. Kecurangan ini lebih berpeluang terjadi ketika wisatawan secara berbondong-bondong turun dari boat dan secara bersamaan menuju pos untuk membayar retribusi.

“Hal ini kedepan akan kami evaluasi terus, sehingga tidak ada kebocoran. Saya tidak mengerti apa alasannya sopir itu main kucing-kucingan dengan petugas, padahal yang bayar kan tamunya bukan sopirnya,” imbuh Sukasta nada heran.Roni.