Kepala BAPETEN Prof Jazi Eko Istiyanto, Direktur Pengaturan Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif BAPETEN Ishak dan pihak IAEA memberikan keterangan pada awak media tentang penggunaan tenaga nuklir di sektor kesehatan dan industri, di Hotel Haven, Seminyak, Badung
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Badung, balipuspanews.com – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) menjamin bahwa penggunaan teknologi nuklir di Indonesia terbilang aman, karena sepenuhnya dalam pengawasan, baik penggunaan di sektor industri maupun kesehatan.

“Selama ini, berbagai hal mengenai teknologi nuklir, selalu dalam pemantauan atau pengawasan BAPETEN. Misalnya, kalau di rumah sakit, bagaimana tentang paparan radiasi berlebih, atau orang terlalu sering diterapi, maka bisa membahayakan. Termasuk SDM, orang yang mengoperasikannya,” ujar Kepala BAPETEN, Prof Jazi Eko Istiyanto, yang memberikan keterangan pada awak media di Hotel Haven, Seminyak, Senin (12/2).

Dia melanjutkan, sebagai pengawas tenaga nuklir di Indonesia, maka BAPETEN perlu memperbaiki insfrastruktur pengawasannya. Antara lain, berupa peraturan-peraturan terkait pengawasan tenaga nuklir untuk menjamin keselamatan dan keamanan bagi pengguna masyarakat dan lingkungan.

Terkait dengan hal ini, maka BAPETEN mengundang ‘Integrated Regulatory Review Service (IRRS) Mission of the IAEA (International Atomic Energy Agency). Hal ini guna mendapatkan evaluasi yang objektif mengenai fungsi dan aktivitas pengawasannya sesuai dengna standar keselamatan internasional.

IAEA-IRRS Mission telah dilakukan pada 2015 lalu, dan telah menghasilkan beberapa rekomendasi yang harus ditindaklanjuti Bapeten. Langkah selannjutnya setelah pelaksanaan IAEA-IRRS Mission adalah IAEA-IRRS Follow-up Mission yang biasanya dilakukan sekitar 4 tahun kemudian, yakni tahun 2019.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap tindakan yang perlu direncanakan atau dilaksanakan BAPETEN, untuk memenuhi rekomendasi atau saran yang diperoleh dari kegiatan IAEA-IRRS Mission,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Pengaturan Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif BAPETEN, Ishak menyatakan, bahwa energi nuklir memiliki manfaat yang sangat banyak, termasuk di bidang industri dan kesehatan.

Ishak melanjutkan, seperti untuk mendiagnosa penyakit dan mengobati penyakit kanker. Bahkan, radiasi itu mempunyai manfaat yang sangat penting bagi manusia. Hal ini dikarenakan untuk pemeriksaan kesehatan, maka sangat efektif jika menggunakan teknik radiasi.

Malah sudah lama dilakukan, tindak kemoterapi yang dilakukan dengan radiasi. Kalau organ sehat memang bisa rusak jika terkena, tetapi bagi kanker maka efek radiasi itu dapat mematikan penyakit tersebut.

“Mengingat manfaatnya itu, maka hingga Februari 2018 ini, sudah ada 117 izin penggunaan teknologi nuklir untuk kesehatan dari 43 instansi. Juga 7 izin dari 5 fasilitas industri. Ini semua perizinan di Bali. Kalau di Indoensia, ya ada ribuan izin. Bagi masyarakat, yang paling sedernaha penggunaan teknologi nuklir adalah untuk rontgen di rumah sakit. Nah, khusus untuk isu keselamatan radioasinya, yang menangani adalah BAPETEN sebagai badan pengawas tenaga nuklir,” ujar Ishak. (Vivi)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...