Bawaslu Catat 18.668 Pelanggaran di Pilkada Serentak 2020

Pengawasan Pilkada Serentak 2020 yang dapat dipantau secara cepat oleh Bawaslu RI melalui laporan Petugas Pengawas TPS di seluruh Indonesia melalui Sistem Informasi Pengawasan Pemilu (Siwaslu) Pilkada 2020
Pengawasan Pilkada Serentak 2020 yang dapat dipantau secara cepat oleh Bawaslu RI melalui laporan Petugas Pengawas TPS di seluruh Indonesia melalui Sistem Informasi Pengawasan Pemilu (Siwaslu) Pilkada 2020

JAKARTA, balipuspanews.com – Hasil pengawasan tahapan Pengumutan dan penghitungan suara di Pilkada serentak oleh Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu), terdapat ribuan pelanggaran protokol kesehatan yang terjadi di Tempat Pengumutan Suara (TPS) di seluruh daerah yang menggelar Pilkada, pada Rabu (9/13/2020).

Bawaslu RI mencatat ada 18.668 pelanggaran yang terjadi dari total 122.700 TPS di Pilkada Serentak.

Dari jumlah itu sebanyak 2.626 merupakan pelanggaran protokol kesehatan Covid-19.

Hasil pengawasan tersebut dilaporkan secara cepat oleh pengawas TPS di seluruh Indonesia melalui Sistem Informasi Pengawasan Pemilu (Siwaslu) Pilkada 2020.

Data yang dirilis oleh Bawaslu RI merinci pelanggaran prokes Covid-19. Yaitu sebanyak 1.454 TPS tidak menyediakan tempat cuci tangan bagi para pemilih sebagaimana diatur dalam aturan Pilkada dimasa pandemi Covid-19.

Selain fasilitas cuci tangan, Bawaslu RI mendapati laporan dari tim pengawasan ada Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang positif Covid-19 di 1.172 TPS tetap bekerja.

Baca Juga :  Dukung Calon Pilkada dan Rangkap Jabatan ASN, 2 Penyelenggara Pemilu Diberhentikan Tetap

Selain pelanggaran protokol kesehatan, Bawaslu RI juga menemukan berbagai pelanggaran di Pilkada serentak ini, seperti perlengkapan pemungutan suara yang terjadi di 1.803 TPS.

Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak terpasang di sekitar TPS terjadi di 1.727 TPS, informasi tentang daftar pasangan calon yang berisi visi misi dan program, serta biodata singkat tidak dipasang sebanyak 1.983 TPS.

Ada juga surat suara tertukar terjadi di 1.205 TPS, surat suara kurang terjadi di 2.324 TPS, pembukaan pemungutan suara dimulai lebih dari pukul 07:00 waktu setempat terjadi di 5.513 TPS dan saksi mengenakan atribut pasangan calon terjadi di 1.487 TPS.

Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar menambahkan beberapa laporan spesifik yaitu perlengkapan pemungutan suara yang kurang misalnya formulir C hasil tertukar. Insiden ini terjadi di Pesisir Barat dan Lampung.

Baca Juga :  Meriahkan HUT RI ke-77, Pemkab Tabanan Gelar Lomba Ngibing

Juga ditemukan surat suara yang kurang ditemukan di Kabupaten Mamuju dan Mamuju Tengah (Sulawesi Barat), Kabupaten batanghari Kerinci (Jambi), Kota Semarang (Jawa Tengah), Minahasa, Minahasa Selatan (Sulawesi Utara), Pasaman (Sumatra Barat), Bandar Lampung, Pesisir Barat (Lampung), Batam (Kepulauan Riau), Barru (Sulawesi Selatan).

“Ditemukan pula surat suara yang tidak di tandatangani KPPS seperti yang terjadi di Samarinda,” kata FRitz.

Selain itu, permasalah TPS yang tidak menyediakan bilik khusus dengan suhu 37,5 derajat celcius ditemukan di Sleman, Daerah Istimewa Yogayakarta.

“Ada pula KPPS positif terinfeksi Covid-19 namun masih bertugas di Tomohon Utara, hanya saja yang bersangkutan mendapat hasil uji swab sebelum bertugas yang hasil tes cepat sebelumnya adalah reaktif,” kata Fritz.

Baca Juga :  Diduga Lakukan Pelecehan Terhadap Pelajar, Oknum Driver Ojol Dipolisikan

Selain itu juga ditemukan pelanggaran TPS yang dibuka setelah pukul 07.00 waktu setempat di Bolaangmongodow Timur, Tomohon, Sulawesi Utara.

“Selain ada TPS yang dimulai setelah pukul 7 pagi, tetapi ada juga TPS yang sudah dimulai sebelum pukul 7 pagi,” kata Koordinator Divisi Hukum, Humas, Data, dan Informasi itu.

Pelanggaran lain yang ditemukan pengawas TPS di daerah, yaitu saksi pasangan calon tidak menyaksikan pemungutan suara bagi pemilih di lokasi karantina, TPS roboh karena tertiup angin. Lalu ada pemohon yang tidak menandatangani daftar hadir, pengawas TPS dilarang membawa ponsel ke TPS oleh KPPS, dan pemilih yang membawa ponsel dan memotret surat suara.

Penulis : Hardianto 

Editor : Oka Suryawan