Gede Glori perkenalkan seni Aquasceping di Karangasem
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Karangasem, balipuspanews.com – Seni Aquasceping atau seni menciptakan sebuah lanskap didalam akuarium nampaknya belum begitu populer di Kabupaten Karangasem. Padahal jika ditekuni selain indah dipandang peluang ekonomi Aquasceping juga cukul menjanjikan.

Gede Blori, salah satu penghobi Aquasceping asal Karangasem mencoba memperkenalkan hoby uniknya tersebut di Bumi Lahar dengan cara memamerkan Aquasceping serta cara membuat dan memeliharanya disalah satu stan di pojok barat pameran pembukaan PKB Karangasem serta memeriahkan hut kota Amlapura.

“Untuk di Karangasem sebenarnya sudah ada peminatnya, hanya saja sedikit dan belum ada komunitasnya,” kata Blori.

Menurutnya, hobi Aquasceping ini hampir mirip dengan hobi bonsai, perawatan dan segala sesuatunya hampir sama hanya saja Aquascaping menggunakan media aquarium sebagai tempatnya bukan di pot.

Selain itu, Aquasceping ini berbeda dengan aquarium yang menonjolkan ikan hiasnya sebagai pemandangan utama. Aquasceping justru lebih menonjolka  sisi lanscap keindahan disain pemandangan bawah air dengan perpaduan tanaman air seperti lumut, anubias serta tanaman hias air lainnya sehingga ikan ikan yang dipergunakan kebanyakan mempergunakan ikan yang berukuran kecil.

Bagi para pemula yang ingin membuat sendiri aquasceping ini, perlu memperhatikan beberapa faktor seperti, jenis tanaman air yang dipilih, bahan yang ingin dipergunakan seperti untuk bebatuan, pasir hingga jenis kayu yang akan dipergunakan. Setelah semua itu dipersiapkan rangkai sesuai dengan yang diinginkan.  Setelah semuanya selesai selanjutnya untuk pemeliharaan dan kelangsungan hidup tumbuhan air yang mulai ditanam tersebut perlu juga diperhatikan sistem pencahayaanmya karena cahaya salah satu unsur penting yang berfungsi sebagai pengganti sinar matahari yang diperlukan oleh tumbuhan untuk befotosintesis. Selain itu, asupan Carbon Dioksida (Co2) juga harus diperhatikan karena menjadi makanan bagi tanama.

Hal tersebutlah yang menjadi penentu aquasceping itu berhasil atau tidaknya. Setelah tanaman air mulai tumbuh, harus diberi pupuk secara teratur. Temperatur air didalam aquasceping ini juga sangat penting untuk menjaga kelangsungan tanaman didalamnya sehingga dalam jangka waktu beberapa hari sekali harus dilakukan penggantian air. Jika semua itu sudah dilakukan maka dalam waktu dua mingguan tanaman baru mulai terlihat tumbuh

“Kalo lihat kondisi dan temperatur air yang ada, untuk aquascaping cocok di Karangasem,” ujarnya.

Sementara itu, di Karangasem sendiri ada beberapa jenis lumut air tawar yang ditemukan, seperti di Tirta Gangga, dirinya mengatakan ada 4 jenis lumut yang ditemukan diantaranya Ricardia, Java mose, Spiki dan Wiping. Hanya saja untuk batang pohon miniatur yang dipergunakan cukup sulit ditemukan. Kebanyakan pohon yang ada di Karangasem meski memiliki karakter keras namun setelah didalam air jadi cepat hancur, untuk itu para peminat aquasceping disarankan menggunakan pohon import jenis Rasa mala. Pohon ini menurut Glori cukup tahan didalam air meski tak sebagus kayu Sentigi namun bisa bertahan sekitar 5 tahunan.

” Untuk satu aquasceping jadi berukuran 45 x 40x 40 cm, dihargai sekitar Rp. 1,5 juta,” akunya. ( igs/sur)

 

 

Tinggalkan Komentar...