Sabtu, Oktober 24, 2020
Beranda Bali Tabanan Berawal dari Penyerangan Panji Sakti, Dapur Di Wilayah Ini Menjadi Unik

Berawal dari Penyerangan Panji Sakti, Dapur Di Wilayah Ini Menjadi Unik

TABANAN, balipuspanews.com – Paon, perantenan atau pewaregan (dapur, red) bagi krama Hindu Bali bukan hanya sekedar sebagai tempat memasak, namun juga memiliki fungsi sakral. Yakni diyakini dibawah “kekuasaan” Dewa Brahma, salah satu Dewa dalam Tri Murti.

Dengan fungsinya tersebut, dapur bagi krama Hindu Bali umumnya berlokasi pada sisi selatan dalam sebuah pekarangan. Penempatan posisi seperti itu menyesuaikan bahwa Dewa Brahma berstana pada arah selatan, mengacu dari konsepsi Dewata Nawa Sanga.

Namun berbeda halnya dengan penempatan dapur pada beberapa desa di lereng selatan Gunung Batukaru ini. Beberapa desa yang dimaksudkan adalah desa-desa yang dibatasi sebagai berikut.

Seorang tokoh masyarakat Penebel, Drs. I Wayan Risma, Selasa (28/7) mengatakan, adapun batas-batas tersebut, pada arah utara berbatasan langsung dengan hutan atau Gunung Batukaru. Batas sisi timur dan selatan Tukad Kilang Kilung.

“Sedangkan untuk sisi barat berbatasan dengan Tukad Yeh Ngikih. Wilayah ini dari Desa Sangketan ke utara,” ungkap in Ketua Panitia Pembangunan Pura Luhur Muncaksari ini.

Adapun keunikan dapur yang dimaksud pada beberapa desa yang ada didalam batas-batas tadi adalah posisinya yang tidak mengacu pada Asta Kosala Kosali dan juga penempatan dapur yang tidak mengacu pada konsepsi Dewata Nawa Sanga yakni menempatkan dapur sesuai stana Dewa Brahma, arah selatan dari pekarangan. Penempatan dapur di desa-desa yang masuk dalam batas-batas tadi justru berlawanan arah, yaitu pada arah utara.

Risma menceritakan, hal ini bermula dari cerita penyerangan Panji Sakti ke Tabanan. Dalam penyerangan itu, pasukan Panji Sakti sempat merusak Pura Luhur Batukaru. Namun pada saat itu muncul segerombolan “nyawan dingding ai” (lebah hutan) dan menyerang pasukan Panji Sakti.

“Pasukan Panji Sakti akhirnya kocar kacir oleh serangan lebah tersebut. Tidak sedikit pula yang mengalami kematian,” sebutnya.

Panji Sakti kemudian dikisahkan mengeluarkan sebuah bhisama bahwa wilayah yang termasuk dalam batas-batas tadi adalah panjak Dewa dan berhak menggelar yadnya tanpa tanpa dipuput brahmana atau cukup hanya dipuput oleh pemimpin umat di desa yang bersangkutan. Bhisama lainnya adalah posisi dapur tidak berdasarkan Asta Kosala Kosali, tetapi pada posisi hulu (kaja/utara).

“Sehingga kami dan warga yang masuk dalam batas-batas tadi menempatkan dapur pada posisi hulu,” jelasnya.

Lebih jauh Risma mengatakan, apabila hal ini dilanggar atau dengan bahasa lain penempatan posisi dapur tidak pada arah hulu atau kaja (utara), dapat berpengaruh negatif bagi keluarga bersangkutan. Seperti misalnya sering ribut dalam rumah tangga atau salah satu anggota keluarga mengalami sakit aneh.

“Biasanya, setelah dilakukan upacara dan dapur dibuat pada arah kaja, ketidakharmonisan ataupun penyakit aneh yang diderita akan kembali pulih. Beberapa kali hal ini pernah saya saksikan langsung,” tutupnya.

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan

- Advertisement -

Warga Temukan Orok di Parit Areal Jogging Track Sanur Kauh

SANUR, balipuspanews.com - Penemuan orok membusuk berlangsung di pinggir parit areal jongging track di Jalan Prapat Baris, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Jumat (23/10/2020) sekitar...

Tak Hiraukan Teguran, Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh Akhirnya Ditutup Paksa

Sebuah tempat usaha penyulingan daun cengkeh yang berada di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ditutup paksa oleh tim Satpol PP Kabupaten Buleleng. Hal itu dilakukan sebab pemilik tempat tidak menghiaraukan teguran petugas, sehingga Pol PP lalu bertindak tegas menutup paksa usaha penyulingan daun cengkeh yang beroperasi dan dianggap menimbulkan polusi udara.
Member of