Bertani, Berternak, Pilihan Pelaku Pariwisata Nusa Penida Dimasa Pandemi Covid-19

Salah seorang pelaku pariwisata Nusa Penida, I Made Sukrata alih profesi kembangkan pertanian
Salah seorang pelaku pariwisata Nusa Penida, I Made Sukrata alih profesi kembangkan pertanian

NUSA PENIDA, balipuspanews.com – Dimasa pandemi Covid-19 sekarang ini para pelaku pariwisata di Nusa Penida, Klungkung banyak beralih profesi menjadi petani dan peternak.

Salah seorang pelaku pariwisata, I Made Sukrata ketika di konfirmasi balipuspanews.com, Selasa (19/01/2021) mengungkapkan, di masa pandemi sekarang ini pihaknya mengakui membuat konsep penginapan dengan nuansa hijau yang dipadukan dengan pertanian dan peternakan.

Sukrata menjelaskan bahwa secara konsep ia sengaja mengkombinasikan pertanian, peternakan dengan pariwisata. Dimana ketiganya saling keterkaitan.

Dalam bertani, Sukrata mengungkapkan pihaknya mengembangkannya dengan modul-modul selang untuk mensuplai air dari penginapannya.

Tak hanya pertanian yang dikembangkan, peternakan ayam dan ikan lele juga dikembangkan ditempat yang sama.

Masalah yang dihadapi bertani di Nusa Penida, lanjut Sukrata adalah air tetapi dengan ide yang berlian ia memanfaatkan limbah air penginapan dengan mengubahnya jadi air bersih dengan proses pemurnian.

“Bertani di Bali berhasil itu wajar tetapi ketika bertani di Nusa Penida berhasil itu sesuatu hal yang luar biasa dengan kondisi panas dan kering,” serunya.

Berbekal pengalaman sebagai pelaku pariwisata di Denpasar, I Made Sukrata banyak memiliki pengetahuan tentang konsep akomodasi pariwisata. Ditambah memiliki pengalaman pertanian, ia kemudian membuat Villa dan Restoran yang dipadukan dengan pertanian dan peternakan.

Dalam melakukan pengairan untuk pertanian dan peternakannya, Sukrata mengungkapkan menggunakan air limbah buangan dan sampah yang diolah.

“Disini pertanian dan peternakan ikan dan lele air, pupuk dan makanan ikannya menggunakan air limbah dan sampah yang tak menanggalkan bekas sama sekali atau Zero Waste. Air untuk menyiram tanaman berasal dari limbah kamar mandi dan dapur,” ungkap Sukrata.

“Lele dan nila makan lumut azola yang kami biarkan melalui proses pengolahan sampah dapur. Sedangkan peternakan ayam juga hasil pembuatan BSF yang berasal dari sampah Villa dan restoran,” tambahnya.

Disinggung cukup besarnya peternakan ayam dan posisinya yang dekat dengan Villa dan Restorannya, apakah tidak berbau tak sedap yang dapat menggangu tamu di sekitar, Sukrata mengatakan tak ada bau.

“Peternakan ayam kampung dengan kecepatan tumbuh seperti boiler itu tak menimbulkan bau sama sekali. Itu karena teknik kotoran ayam dipermentasi kemudian digunakan pakan lele dan pupuk tanaman yang dialirkan melalui pipa fertigasi di semua kebun,” ungkap Sukrata.

Dari pengamatan balipuspanews.com terlihat disana terdapat tiga buah green house, kolam lele dan nila, pertanian tomat, sayur mayur, Kol, kopi, terung, jeruk, dan peternakan ayam, 14 kamar private Villa dengan restoran berkonsep bambu dan satu buah Spa yang berada diatas 2 pohon bunut.

Penulis/Editor : Roni/Budi