Senin, Oktober 26, 2020
Beranda Bali Bangli Biaya Test Swab Dibebankan ke Wisatawan, Pariwisata Bali Sulit Bangkit Saat Kebijakan...

Biaya Test Swab Dibebankan ke Wisatawan, Pariwisata Bali Sulit Bangkit Saat Kebijakan New Normal Berlaku

BANGLI, balipuspanews.com – Kebijakan New Normal yang diwacanakan pemerintah disambut hangat pelaku pariwisata Bali.

Namun, syarat test swab yang dibebankan kepada wisatawan dengan biaya pribadi dinilai sangat memberatkan wisatawan yang datang berkunjung.

“Jangan bebani kami pelaku sektor wisata yang sudah sekarat dengan syarat dan aturan yang terlalu ketat. Ini tamu yang berkunjung saja belum tentu banyak yang akan datang, apalagi ditambah dengan berbagai beban syarat seperti tes Swab PCR yang mahal,” kata Wayan S, salah satu pelaku pariwisata Bali.

Menurutnya, harga PCR test swab perorang sekitar Rp 2,5 juta. Nantinya belum lagi ditambah biaya tiket yang mahal menyebabkan biaya berwisata lumayan mahal.

“Harga tiket sudah mahal. Terus ditambah harga test covid-19 yang mahal, siapa yang mau disuruh berwisata,” sebut Wayan.

Atas kebijakan tersebut, maskapai yang tergabung dalam Lion Air Group, yakni Batik Air, Wings Air dan Lion Air, akan menghentikan sementara operasional penerbangan penumpang domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Lebih jauh menurut Wayan, pihaknya menyadari kebijakan pemerintah tersebut demi mencegah penyebaran pandemik corona.

Hanya saja, beban biaya test swab yang dibebankan ke pribadi wisatawan akan memberatkan sektor pariwisata untuk bangkit.

“Ini dalam istilah Bali namanya Lega Seluk. Seolah- olah memberi harapan dan membantu. Namun sebenarnya membebani, tidak tulus kesannya membantu,” kritiknya.

Sementara itu ketua PHRI Bangli DR. I Ketut Mardjana mengapresiasi langkah pemerintah melakukan relaksasi sektor pariwisata. Menurutnya, hal itu bagaikan air hujan yang sangat diharapkan turun ketika musim kemarau berkepanjangan.

“Hampir tiga bulan lebih pariwisata dan sektor kehidupan lain di Bali berhenti total. Pelaku sektor pariwisata seperti saya harus bertahan hidup dengan beban bulanan operasional seperti biaya listrik, iuran BPJS pekerja, biaya pemeliharaan dan lain-lain. Sementara penghasilan tidak ada sama sekali, perputaran modal juga harus kami pikirkan di saat usaha wisata kami buka kembali,” Ketut Mardjana.

Pun demikian, menurut Marjana yang juga GM Toya Devasya Hot Spring Waterpark itu, kebijakan relaksasi itu masih diikuti berbagai syarat yang dirasakan sangat membebani seperti surat tes Swab PCR yang berbiaya mahal. Ini belum ditambah harga tiket pesawat yang juga mahal sehingga berlibur menjadi tidak feasible bagi wisatawan.

“Bali dominan tergantung pada wisatawan luar negeri namun sesuai keputusan pemerintah baru akan dibuka bulan Oktober 2020. Jadi sementara waktu kita mengharapkan kunjungan wisatawan lokal Bali yang utama dan kemudian wisatawan dari berbagai wilayah di Indonesia. Tapi kalau mereka dibebani berbagai syarat masuk ke Bali yang sangat membebani dan harga tiket pesawat yang mahal tentu sulit mengharapkan mereka akan berkunjung,” kata Ketut Mardjana.

Bersama berbagai komponen pariwisata yang lain, Ketut Mardjana berharap pemerintah memikirkan soal beban tanggungan wisatawan yang bisa berdampak pada keengganan wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Dia berharap pemerintah yang sigap menyiapkan protokol kesehatan penanganan wabah covid-19 dan jika pun harus memberlakukan tes Swab PCR dan Rapid Test kepada wisatawan yang berkunjung ke Bali bisa difasilitasi dan dibiayai oleh pemerintah.

“Sedapat mungkin hilangkan segala bentuk biaya yang membebani pariwisata, termasuk pungutan biaya retribusi di Bangli yang dilakukan di jalan raya,” usulnya.

Dengan demikian, lanjut Marjana, kebijakan pemerintah soal relaksasi di sektor pariwisata di Bali bisa memberi manfaat betul-betul bagi sektor dan pelaku pariwisata di Bali.

“Harapan kita bersama, protokol kesehatan pencegahan penularan covid-19 bisa berjalan dengan baik dan ekonomi masyarakat khususnya sektor pariwisata di Bali bisa menggeliat hidup kembali,” pungkas Ketut Mardjana.

PENULIS : Kontributor Bangli

EDITOR : Artayasa

- Advertisement -

Diduga Sopir Mengantuk, Mobil Pick Up Oleng Seruduk Mobil Avanza Parkir

BANGLI, balipuspanews.com – Akibat mengantuk dan hilang konsentrasi, mobil Pick Up bernopol DK 9670 KZ, yang dikendarai Kocong, 42, Pria asal Desa Songan B,...

Tak Hiraukan Teguran, Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh Akhirnya Ditutup Paksa

Sebuah tempat usaha penyulingan daun cengkeh yang berada di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ditutup paksa oleh tim Satpol PP Kabupaten Buleleng. Hal itu dilakukan sebab pemilik tempat tidak menghiaraukan teguran petugas, sehingga Pol PP lalu bertindak tegas menutup paksa usaha penyulingan daun cengkeh yang beroperasi dan dianggap menimbulkan polusi udara.
Member of