Pelatihan pembuatan biopori UNF 1 di Desa Baktiseraga.

SINGARAJA, balipuspanews.com — Pemerintah Kabupaten Buleleng bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menggelar pelatihan pembuatan biopori UNF 1 di Desa Baktiseraga. Nah, dipilihnya desa baktiseraga sebagai pilot projek tentang pembuatan biopori, lantaran setiap musih hujan Desa  Baktiseraga selalu tergenang banjir.

 

Kepala Dinas Lingkungan  Hidup Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, lubang ini berbentuk silidris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air. Lubang itu bertujuan mengatasi genangan air dengan cara meningkatan daya resap air pada tanah.

 

“Lubang Biopori memiliki ukuran tertentu yang telah ditentukan, yakni dengan kedalaman satu meter dan berdiameter 10 cm,” ungkap Kadis Ariadi.

 

Imbuh Kadis Ariadi, pelatihan pembuatan biopori dilakukan sebagai upaya mengurangi genangan air yang dapat menyebabkan banjir saat musim penghujan tiba.

 

“Kami memberikan penjelasan cara pembuatan biopori ke masyarakat, khusunya di Desa Baktiseraga, sekaligus memberikan peralatan untuk pembuatan biopori tersebut,” terangnya.

 

Menurutnya, selain berfungsi untuk mencegah banjir, biopori juga memiliki manfaat, salah satunya air yang tersimpan bisa dijadikan pupuk untuk tanaman.

 

“Teknik biopori menjadikan tanah akan menjadi lebih subur. Adanya lubang biopori, maka resapan air hujan yang mengandung lumpur dan bakteri akan dilarutkan menjadi mineral-mineral yang diperlukan dalam kehidupan tumbuhan,” jelasnya.

 

Pembuatan Agregat Biopori UNF 1 ini akan dikerjakan dibeberapa wilayah di desa baktiseraga.

 

“Setalah melaksanakan sosialisasi pembuatan Biopori ini, akan langsung dikerjakan lubang Biopori di beberapa titik di desa Baktiseraga. Kalau pelatihan ini berhasil, kedepan DLH Buleleng akan kembangkan dengan menyasar daerah-daerah riskan terdampak banjir,” tutupnya.