Sabtu, Juni 22, 2024
BerandaNasionalJakartaBKKBN Launching Gerakan Ayo Ikut ke BKB/Posyandu

BKKBN Launching Gerakan Ayo Ikut ke BKB/Posyandu

JAKARTA, balipuspanews.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menyelenggarakan “Launching Gerakan Ayo Ikut ke BKB /Posyandu & Kelas Tim Pendamping Keluarga yang Handal, Berempati dan Bersahabat (TPK Hebat) Seri 2 Tahun 2023” pada Selasa (18/7/2023).

Kegiatan ini dilakukan secara hybrid dengan peserta luring sejumlah 32 orang dan peserta daring lebih dari 1000 orang melalui platform zoom meeting dan youtube channel BKKBN dan youtube channel Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta.

Acara ini dihadiri dan diikuti oleh Dr. (H.C). dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) Kepala BKKBN; Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si Wakil Ketua Komisi IX DPR RI; Dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, PhD., SpOG(K) Sekretaris Pokja Penurunan Angka Kematian Ibu dan Stunting (PAKIAS) – POGI; Esti Nurwanti.,SGz.,RD.,MPH.,PhD Founder Gizi Nusantara, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Nopian Andusti, S.E, M.T, Para Pimpinan Tinggi Madya Kementerian/Lembaga; Para Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian/Lembaga; Para kepala OPDKB Provinsi dan Kab/Kota; Kepala Desa; Tim Pendamping Keluarga di Seluruh Indonesia.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK-BKKBN) Nopian Andusti, S.E, M.T menjelaskan, “Kelas TPK Hebat ini merupakan forum pembelajaran yang akan menjawab pertanyaan TPK terkait isu pendampingan keluarga beserta tata laksananya. Kelas TPK Hebat dilakukan setiap bulan mulai dari bulan Juni hingga bulan November 2023, dimana pada kegiatan hari ini, Kelas TPK Hebat telah memasuki seri ke-2 yang membahas tema “Masalah Kesehatan dan Mekanisme Rujukan Catin dan Ibu Hamil serta Optimalisasi Gizi Catin dan Ibu hamil untuk mencegah stunting,” kata Nopian.

BACA :  Maksimalkan Kepedulian Masyarakat untuk Cegah Kekerasan pada Anak

Acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan kehadiran keluarga yang memiiki ibu hamil dan balita pada kelompok BKB, maka dilaksanakan “Gerakan Ayo Ikut Ke BKB/Posyandu” pada Bulan Juli–Agustus 2023 yang sekaligus menjadi rangkaian dukungan kegiatan peringatan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli dan bulan penimbangan balita (0-59 bulan) di Posyandu.

Nopian juga menyampaikan, Sasaran dari Gerakan Ayo Ikut Ke BKB/Posyandu dan Kelas TPK Hebat adalah Pemangku Kebijakan, Keluarga dengan Anak Usia Dini (0-6 tahun), Pengelola Program BKB, dan Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari Bidan/Tenaga Kesehatan lainnya; Kader TP PKK; dan Kader KB Desa/PKB di seluruh Indonesia.

Sementara itu Kepala BKKBN Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) mengatakan, Anak Indonesia yang menempati hampir sepertiga total jumlah penduduk Indonesia merupakan generasi penerus bangsa yang harus dijamin pemenuhan hak dan perlindungannya. Untuk itu dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional ke-39 Tahun 2023 dengan tema Änak Terlindungi Indonesia Maju”.

“BKKBN melalui Gerakan Ayo Ikut Ke BKB/Posyandu, mengajak seluruh keluarga yang mempunyai baduta dan balita berkunjung ke BKB/Posyandu untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosialnya secara utuh,” ucap dr. Hasto saat menyampaikan arahan membuka acara.

BACA :  Peringati Idul Adha 1445H, Kesetjenan DPD RI Ajak Berbagi kepada Sesama

Secara khusus dr. Hasto juga mengapresiasi komitmen Kepala Desa yang masuk dalam praktik baik Desa/Kelurahan Bebas Stunting (De’Best) di 1000 HPK. Para Kepala Desa telah menyatakan deklarasinya untuk menjamin kegiatan BKB/posyandu terlaksana di wilayahnya mulai dari perencanaan, penganggaran, penyelenggaraan layanan, monitoring, evaluasi, pencatatan dan pelaporan dalam Sistem Informasi Keluarga.

Selain itu, juga dr. Hasto juga mengapresiasi Kader dari BKB yang mendapatkan penghargaan BKB Terbaik Tahun 2023. Para kader berkomitmen untuk melakukan layanan tumbuh kembang anak dan menyukseskan Gerakan Ayo Ikut Ke BKB/Posyandu.

Selanjutnya dr. Hasto mengingatkan kembali bahwa Target prevalensi stunting tahun 2023 sebesar 17%, artinya kita harus bekerja DUA KALI LIPAT untuk menurunkan prevalensi stunting sebesar 5,6% dari capaian 21,6% di tahun 2022. Stunting merupakan hasil interaksi berbagai faktor, antara lain, kurangnya asupan gizi, rendahnya pengetahuan dan pengasuhan orang tua mengenai ASI Eksklusif dan MPASI, pengaruh budaya dan ketersediaan bahan makanan setempat. Di samping itu, terbatasnya akses pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menyebabkan peningkatan risiko penyakit kronis berulang pada balita dan hal ini sangat mempengaruhi kejadian stunting di Indonesia.

BACA :  Ketua MPR Dukung Gelaran Indonesia Harley Davidson Fest 2024 di Bali

Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Komisi IX DPR RI) Dr. Kurniasih Mufidayati, M.Si juga menyampaikan apresiasinya, karena TPK ini telah melakukan pendampingan kepada kurang lebih ataupun lebih dari 5,7 juta keluarga berisiko yang tentu saja ini akan sangat membantu penurunan stunting dan memberikan apresiasi kepada BKKBN khususnya bapak kepala yang selalu konsisten dan komitmen dalam semangat untuk menurunkan angka stunting dan seimbang saat ini yang dalam rapat-rapat dengan komisi IX dan dilaporkan bahwa angka stunting sudah mulai menurun dan ini berkat kolaborasi dan kerjasama dengan ayah bunda sebagai parents dan sebagai keluarga dan juga kolaborasi dari seluruh pihak untuk mencapai target 14% di tahun 2024, maka di tahun terakhir ini memang perlu adanya intervensi dan juga intervensinya ini perlu menyasar langsung kepada penyebab dari stunting dan menyasar langsung kepada kelompok-kelompok sasaran.

Penulis/editor : Ivan Iskandaria.

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular