BKKBN Sosialisasikan KTT G20 agar Melekat di Keluarga

Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) disela-sela kegiatan senam dan flashmob secara hybrid di kantor BKKBN Pusat dengan mengusung tema Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20. (dok. Humas)
Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) disela-sela kegiatan senam dan flashmob secara hybrid di kantor BKKBN Pusat dengan mengusung tema Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20. (dok. Humas)

JAKARTA, balipuspanews.com — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendukung penuh kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20), di mana Indonesia menjadi presiden dan tuan rumah acara yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali 15-16 November mendatang.

Untuk menyambut kegiatan tersebut, BKKBN menggelar serangkaian kegiatan dengan mengusung tema Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20, dimana pada acara puncak digelar senam dan flashmob secara hybrid yang terpusat di kantor BKKBN Pusat, Jumat kemarin.

Adapun kegiatan ini dihadiri satu juta peserta dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 32 kantor perwakilan BKKBN di seluruh provinsi, 600 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK), ribuan remaja dari Forum Generasi Berencana (Forum Genre), 1,2 juta penyuluh desa dan masyarakat dari Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) di seluruh Indonesia.

Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) mengatakan, BKKBN sangat antusias menyambut kegiatan internasional tersebut dengan menggerakan keluarga Indonesia agar lebih terpapar informasi mengenai KTT G20.

“BKKBN punya mesin yang sampai ke tingkat grassroots, sampai ke tingkat desa dan sangat melekat dengan keluarga. Kita menggerakan ke seluruh perwakilan (BKKBN) sampai ke desa sampai ke kampung KB biar dia juga merasakan bahwa G20 ini bisa diterjemahkan tidak hanya ekonomi global tapi ekonomi rakyat, ekonomi mikro,” kata Hasto.

Hasto menjelaskan, tema Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20 diangkat oleh BKKBN karena berdasarkan data Bank Dunia atau World Bank, human capital indeks Indonesia masih sangat rendah yakni urutan ke 130 hampir mendekati Timor Leste. Sementara untuk kecerdasaan intelektual (IQ) ada di angka 78. Angka tersebut sangat jauh tertinggal jika dibandingan dengan Singapura yang berada di angka 102.

“Nah bagaimana G20 ini juga bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka bonus demografi, juga memperbaiki raw material sumber daya manusia, ya keluarga, ya anak, ya stunting, ya ibu hamil,” ujarnya.

Dia merinci, sebanyak 30% angkatan remaja yang saat ini usianya 25 tahun mengalami stunting atau gagal tumbuh dan berkembang. Jika Indonesia ingin menjadi empat besar negara dengan ekonomi tertinggi di dunia, maka pemerintah harus mencetak generasi yang unggul dalam hal ini bebas stunting.

“Jadi kalau seandainya balita-balita sekarang itu tetap menyusul stunting yang di atas 30 persen, terus 20 tahun lagi dia produktif ya sudah pas itu ditahun 2045. Kenapa saya berikan warning berat bonus demografi 2045 itu menutupnya tahun 2035. jadi dependensi rasio 2035 itu berat, 100 orang produktif bisa menanggung 50 lebih orang yang tidak produktif karena aging population atau orang-orang tua membanjiri pada saat Indonesia emas 2045,” ucapnya.

Oleh karena itu Hasto berpesan kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan stunting dan mengejar target pemerintah dimana prevalensi stunting harus 14% pada 2024 mendatang.

Sementara itu Direktur Bina Penggerak Lini Lapangan BKKBN I Made Yudhistira Dwipayama, S.Pai, M.Psi yang juga sebagai koordinator kegiatan Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20 menjelaskan, tema yang diambil berdasarkan fokus kerja BKKBN yakni pembangunan keluarga dan keluarga berencana. Selain itu berdasarkan survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukan bahwa informasi masyarakat mengenai penyelenggaraan KTT G20 di Bali masih sangat rendah yakni 24%.

“Kata-kata Keluarga Indonesia karena kita fokusnya ke keluarga, itu tentunya kita gunakan objeknya adalah keluarga. Kemudian Bangga itu kita ambil karena sebuah fakta yang menyatakan bahwa kita masih banyak yang belum mengetahui. Bagaimana mau Bangga kalau tau aja enggak, artinya bukan hanya sekedar meningkatkan pengalaman tapi bagaimana membuat ini menjadi rasa Bangga dan tumbuh di benaknya masyarakat dan keluarga Indonesia. Itu latar belakangnya kenapa kita ambil tema ini,” kata Made

Secara detil Made merinci, kegiatan Gerakan Keluarga Indonesia Bangga Menjadi Bagian G20 yang diselenggarakan oleh BKKBN antara lain dengan membuat video yel-yel Bangga G20 oleh Karyawan-karyawati Perwakilan BKKBN Provinsi, Tim Pendamping Keluarga dan Generasi Berencana (Genre), publikasi berita pelaksanaan KTT G20 dari perspektif program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting, promosi pelaksanaan KTT G20 melalui penanyangan video, billboard, banner, spanduk dan konten-konten di media sosial serta serta twibon yang diselenggarakan 7-10 November.

Made pun berharap dengan adanya KTT G20 dimana Indonesia menjadi presiden dan tuan rumah acara, menjadi momentum bangkit dan kuat bersama pascaPandemi Covid-19 yang merubah dunia dari berbagai aspek kehidupan sesuai tema besar yang diambil dalam KTT G20 yakni Recover Together Recover Stronger atau bangkit bersama bangkit lebih kuat.

Penulis/editor : Ivan Iskandaria.