Blue Bird Bali dan WWF Tandatangani MoU Bidang Lingkungan Hidup

Komit lakukan Perbaikan Lingkungan dan Penanganan sampah Plastik

43
Pihak Blue Bird Grup dan World Wide Fund for Nature (WWF) saat tandatangani MoU di kantor Blue Bird Jimbaran, Badung, Sabtu (8/12).

Jimbaran, balipuspanews.com-Mempunyai visi yang sama untuk memperhatikan lingkungan dan menangani sampah plastik, Blue Bird  Group bersama Word Wide Fund for Nature (WWF) sepakat menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding ( MoU), Sabtu (8/12) di kantor Blue Bird Jimbaran, Badung.

President Direktur Blue Bird Group, Noni Sri Ayati Purnomo mengatakan, Bali dijadikan percontohan untuk program penanganan sampah khususnya sampah plastik. Dimulai dari memilah dan mengurangi sampah plastik, sebagai upaya memulai langkah kecil dan untuk memonitor seberapa besar kesuksesan program yang dilakukan.

“Kita tidak menyediakan tempat sampah plastik di mobil, karena kita menghindari tempat plastiknya, tetapi kami memberi inisiatif pada pengemudi untuk memberi pengarahan kepada penumpangnya agar tidak membuang sampah sembarangan, dan membuang pada tempatnya,” jelasnya.

Bali yang dikenal kreatif dengan ide-ide dan program baru yang nantinya bisa ditiru di 19 kota cabang Blue Bird daerah lain.

Untuk program lingkungan hidup, Blue Bird banyak mempunyai program-program seperti Blue Bird Peduli, salah satu contohnya masalah daur ulang, ganti oli yang limbahnya sudah diatur, daur ulang air cuci mobil, dan memilih kendaraan yang efisiensin bahan bakar. Bahkan hal ini dilakukan sejak tahun 1990, sebelum pemerintah mencanangkan penanggulangan sampah.

“Masalah sampah bukan tanggung jawab Pemerintah saja, melainkan masalah kita bersama. Mari bersama menjaga lingkungan, mulai dari hal kecil yang berdampak besar,” katanya.

Sementara itu, Direktur Konservasi WWF Indonesia, Lukas Adhyakso, mengatakan dirinya sudah memulai dengan program Saining Blue yang pada intinya mengajukan prinsip wisata yang lestari, dimaksudkan tidak merusak lingkungan dan menimbukkan dampak lingkungan negatif

“Saining Blue mengajak pelaku pariwisata untuk melakukan penanganan sampah yang baik bersama-sama dan jika dilakukan sendiri tidak akan bisa,” ujarnya.

Dipilihnya Bali sebagai percontohan, karena Bali sebagai garis depan atau wajahnya Indonesia ada di Bali.

Kenapa di Bali, karena Bali sebagai garis depan dan wajahnya Indonesia. Kami sangat berbahagia karena Blue Bird mau untuk melangkah ke depan, mau diajak kerjasama dan berharap yang lain seperti itu. Ini merupakan suatu komitmen, bukan mencari dukungan pendanaan,” tegasnya.

Hal senada dikatakan Putu Panca, selaku General Manager Blue Bird. Menurutnya, proses penanganan sampah prosesnya sangat panjang

“Program ini sudah dijalankan sejak empat tahun lalu, yang sekarang hanya sekedar seremoni. Sudah lama menanamkan ke pengemudi, program tidak akan jalan kalau mainsetnya belum diperbaiki, dan ktivitas dibangun dari sebuah komitmen,” pungkasnya.

“Adapun salah satu upaya penanganan sampah dilakukan dengan bekerja sama dengan pengelola bank sampah, dimana sampah yang ada di kantor khususnya tidak dibuang kemana-mana, kalau bisa penggunaan plastik dieliminasi atau disubstitusi dengan yang lain,” paparnya. (budiartana/bpn/tim)

Loading...