BNPT: Moderasi Beragama Dapat Meluruskan Cara Berpikir Intoleran Tindak Terorisme

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) Komisaris Jenderal Pol. Boy Rafli Amar dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/2021). (Foto : DPR RI)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) Komisaris Jenderal Pol. Boy Rafli Amar dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/2021). (Foto : DPR RI)

JAKARTA, balipuspanews.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Pol. Boy Rafli Amar mengajak para pemuka agama dan para pemangku kepentingan untuk terus mengedukasi masyarakat dan sosialisasi tentang moderasi dalam beragama.

“Dalam hal ini penekanannya intoleransi dalam tindak terorisme,” tegas Boy Rafli Amar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/2021).

Menurutnya, peran pemuka agama sangat penting untuk membina umatnya masing-masing sehingga apabila terjadi perdebatan atau pandangan yang berbeda dari umatnya, para pemuka agama bisa segera meluruskannya apabila pandangan dari umat tersebut dinilai telah menyimpang dari nilai-nilai agama.

“Khusus diantara kita semua kalau terjadi perdebatan dengan bimbimngan parapemuka agama para cendikiawan, yang berpikir secara moderat tentu tidak ada tempat bagi saudara kita yang berpikir intoleran,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pimpin Perayaan HUT RI ke-77, Bupati Sedana Artha Sebut Moment Kebangkitan Kabupaten Bangli

BNPT akan terus mendorong dan mensosialisasikan tentang pentingnya moderasi beragama kepada semua lapisan masyarakat dan tiap umat beragama.

“Maka dalam hal ini diperlukan peran para pemuka agama untuk mesosialisasikan moderasi dalam beragama,” tegasnya.

Boy Rafli mengatakan tidak kemungkinan masyarakat terpengaruh, terbawa-bawa mengikuti ajakan pihak tertentu sehingga melakukan tidak kekerasan bahkan membunuh sesama umat sendiri. Padahal tindakannya itu justru bertentangan dengan agama yang dianut.

“Jangan sampai masyarakat kita terprovokasi propaganda hal-hal yang disampaikan pihak tertentu yang seolah mereka sedang berjuang atas nama agama tetapi sebenarnya mereka menghalalkan segala kekerasan,” ingatnya.

Ia mencontoh, seperti kelompok ISIS yang mendeklarasikan sebagai pejuang dengan mengatasnamakan agama tetapi tindak tanduk yang dilakukan adalah kekerasan yang bertentuangan dengan niai-nilai agama Islam sendiri. Penyimpangan ajaran ini yang perlu pencerahan bersama.

Baca Juga :  Sering Berobat, Alit Bersyukur Selalu Dijamin JKN

“Kita menyadari bahwa isu agama ini isu yang sangat sensitif dan sangat mudah mengangkat sentimen agama dan menyasar masyarakat kita yang belum tercerahkan,” ucap Boy Rafli Amar.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan