Bom Diri di Polsek Astana Anyar Bandung Sehari Setelah Pengesahan UU KUHP

Markas Polsek (Mapolsek) Astana Anyar, Bandung, pada Rabu (7/12/2022) rusak akibat ledakan yang diduga kuat berasal dari aksi bom bunuh diri. (Foto: ist)
Markas Polsek (Mapolsek) Astana Anyar, Bandung, pada Rabu (7/12/2022) rusak akibat ledakan yang diduga kuat berasal dari aksi bom bunuh diri. (Foto: ist)

JAKARTA, balipuspanews.com – Aksi teroris kembali dilakukan dengan target Kantor Kepolisian. Kali terjadi di Markas Polsek (Mapolsek) Astana Anyar, Bandung, pada Rabu (7/12/2022) pagi. Ledakan diduga kuat berasal dari aksi bom bunuh diri.

Terduga berinisial AS,34, merupakan mantan napi teroris (Napiter) yang mendekam di penjara pada 2017 dan bebas bersyarat pada 2021. Pelaku diduga menggunakan motor bebek berwarna biru. Pada motor tersebut tertempel pesan yang bertuliskan ‘KUHP Hukum Syirik’.

Serangan bom bunuh diri dilakukan sehari setelah DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang disahkan DPR RI, pada Selasa (6/12/2022).

“Terlepas dari apapun motif pelaku melakukan tindakan bunuh diri, masyarakat diharapkan tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya kepada Polri untuk menuntaskan peristiwa ini,” ucap Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang mengutuk keras aksi teroris tersebut, Rabu (7/12/2022).

Menurutnya, tindakan bom bunuh diri tidak dibenarkan dari sudut pandang manapun, baik dari sudut pandang konstitusi kewarganegaraan maupun dari sudut pandang ajaran berbagai agama yang diakui oleh bangsa Indonesia.

Selain menewaskan pelaku, serangan teroris ini juga menewaskan satu orang petugas polisi. Sedikitnya 10 orang polisi terluka, serta seorang warga sipil mengalami luka ringan akibat serpihan bom bunuh diri tersebut.

“Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita bahwa upaya mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya melalui tindakan teror yang merugikan banyak pihak, masih belum berhenti dilakukan oleh berbagai pihak.

Jika terkait tindakan radikal dan teror, melawannya tidak cukup hanya sekadar dengan melakukan penangkapan dan penegakan dari sisi hukum. Mengingat yang kita lawan bukan orang ataupun kelompok, melainkan ideologi,” ujarnya.

Bamsoet menjelaskan secara khusus di Asia Tenggara termasuk Indonesia, saat ini terdapat tiga tren transisi terorisme.Yakni pelibatan kelompok perempuan dan anak-anak, menurunnya kapasitas destruksi aksi teror dan penggunaan media internet sebagai komunikasi dan penyebaran terorisme.

“Khusus penggunaan media, Laporan Global Terrorism Index 2022 menekankan bahwa salah satu penyebabnya adalah pandemi Covid-19. Kondisi sosio-kultural yang serba terbatas di seluruh dunia membuat masyarakat menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya. Ideologi harus dilawan dengan ideologi,” tegas Bamsoet.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Penyidik Densus 88 sudah di lokasi untuk melakukan investigasi pengumpulan keterangan dan olah tempat kejajuga telah berhasil mengiddian perkara (TKP). Pihak kepolisian sedang mengotentifikasi terduga pelaku bom bunuh diri.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan