Jumat, Februari 23, 2024
BerandaNasionalJakartaBPOM Dorong Semua Unsur Bergerak Beri Edukasi Anak Agar Bijak Memilih Makanan

BPOM Dorong Semua Unsur Bergerak Beri Edukasi Anak Agar Bijak Memilih Makanan

JAKARTA, balipuspanews.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong dan meminta pelaku usaha melaksanakan tanggung jawab penting mensosialisasikan keseimbangan gizi kepada konsumen, terutama yang menyasar kepada anak-anak.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Rita Endang menegaskan selain pelaku usaha, semua stakeholder juga punya tanggung jawab sama untuk memberikan informasi terkait dengan gizi, gula, garam dan lemak.

“Pelaku usaha ini kan pemilik nomor izin edar yang juga memiliki informasi terkait dengan informasi nilai gizi. Jadi, pelaku usaha juga harus memberikan informasi kepada masyarakat,” jelas Rita dalam diskusi yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk ‘Bahaya Obesitas Dini, Apa Solusinya’ di Jakarta, Senin (24/7/2023).

Ia meyakini bila semua pemangku kepentingan dalam satu barisan bergerak bersama, maka angka obesitas pada anak yang selama empat terakhir kenaikannya mencapai 10 persen bisa diatasi.

“Jadi kalau semua unsur bergerak, mestinya prevalensi terkait diabetes ini bisa kita tangani bersama,” ujar Rita.

Di sisi lain, untuk mencegah bahaya obesitas dini pada anak diantaranya dengan cemilan sehat. Untuk itu dibentuk suatu wadah khusus Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Sadar Pangan Aman atau yang disingkat Germas SAPA.

BACA :  KPU Klungkung Pastikan Rekapitulasi Tuntas Lagi Dua Hari

“Pedoman yang kami buat sejak tahun 2011 membentuk suatu wadah yang sangat besar yaitu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Sadar Pangan Aman,” imbuhnya.

Melalui Germas SAPA, BPOM menyusun berbagai pedoman dan langkah-langkah strategis demi mencapai gizi seimbang pada anak dengan fokus utama penurunan gula, garam dan lemak (GGL).

Rita mengatakan, pedoman yang telah dibuat melalui wadah Germas SAPA ini diharapkan menginspirasi para pendamping kesehatan di lapangan, baik para kader maupun guru di sekolah dan juga para kepala sekolah, petugas kantin untuk mengedukasi anak-anak kita mencapai gizi seimbang dengan memilih makanan atau cemilan yang sehat seperti buah.

Demikian juga dengan orang tua. Anak-anak harus terbiasa dengan makanan yang rendah gulanya. “Artinya makanan harus betul-betul kita lihat komposisi gulanya rendah. Juga makanan harus rendah lemak, jangan sedikit-sedikit digoreng, tetapi usahakan direbus,” tegas Rita.

Sejauh ini BPOM telah memiliki sebuah program yang mengawal jajanan anak sekolah. Tak hanya itu, perilaku hidup bersih dan olahraga teratur juga dijaga ketat.

BACA :  Tumben, PDAM Tirta Amerta Jati Jembrana Untung

“Jadi dalam program ini jelas ada mengawal jajan anak sekolah yaitu harus makan makanan yang seimbang. Artinya makanan harus bervariasi di mana karbohidratnya harus ada, buahnya, sayurnya, lauk pauk dan proteinnya lengkap. Kemudian perilaku hidup bersih dan olahraga teratur harus tetap terjaga,” terang Rita.

Langkah dan Kebijakan Pemerintah

Di forum sama, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pemerintah berupaya untuk menurunkan angka obesitas menjadi 3 persen di tahun 2030. Upaya itu berpegang di SDGs bahwa tahun 2030 nanti angka obesitas akan menjadi 3 persen.

“Karena itu edukasi di tingkat masyarakat itu harus dilakukan secara masif,” katanya.

Selain itu, upaya pencegahan dilakukan pemerintah dengan menggodok beberapa peraturan dan kebijakan dalam kaitannya menekan angka obesitas.

“Beberapa hal yang sedang kita godok meski belum final adalah memberikan pajak pada makanan yang dikemas dengan kandungan GGL (gula, garam, dan lemak) yang melebihi batas. Itu salah satu usaha pemerintah yang digunakan untuk menekan angka obesitas untuk mencapai angka SDGs 3% 2030,” ungkap Dante.

BACA :  Bupati Sanjaya Resmikan Jembatan Penghubung Geluntung - SP. Uma Bali (Yeh Kajang)

Sementara itu, untuk usia anak-anak, belum ada target khusus dalam upaya menekan angka obesitas yang cukup masif tersebut. Berkaitan dengan itu, Dante mengakui pemerintah menyadari bahwa di masyarakat telah mengalami double burden of malnutrition.

“Di satu sisi kita mempunyai masalah kekurangan gizi stunting, di satu sisi kita mempunyai angka obesitas. Dua-duanya kita perbaiki sehingga angka stunting turun dan angka obesitas turun,” ungkapnya.

Dante menekankan hal yang juga penting adalah pengawasan terhadap jajanan anak sekolah yang bisa memberikan efek terhadap naiknya tingkat obesitas anak di Indonesia. Hal ini diakuinya masih belum mendapat perhatian serius dari pemerintah, apalagi industri kecil ini tidak semuanya teregistrasi.

“Ini memang sektor yang kadang-kadang tidak tersentuh oleh pemerintah. Karena industri UMKM ini tidak semuanya teregistrasi. Kebanyakan anak-anak itu beli di ‘abang-abang’ yang jualan, itu makanannya gak teregistrasi,” kata Dante seraya menegaskan pentingnya fungsi pembinaan agar anak-anak bisa membatasi jajanan ringan di sekolah.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

spot_img

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular