Breaking News! Obyek Wisata Selfie Desa Wanagiri Sementara Ditutup

Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com – Pengunjung yang ingin singgah ke Obyek Wisata Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, siap-siap gigit jari lantaran pihak Desa Pakraman Wanagiri melayangkan surat untuk menunda segala bentuk atifitas ditujukan kepada seluruh pengelola obyek wisata selfie.

“Surat pemberitahuan sudah kami sebarkan kepada masing-masing pengelola tempat wisata selfie agar lokasi wisatanay ditutup sementara khususnya berada di areal BKSDA. Ya, terutama view Danau Buyan. Sudah, sejak Rabu (27/9) lalu suratnya diedarkan. Kalau lebih jelasnya, silahkan menghubungi pihak BKSDA,” singkat ketua Mitra Masyarakat Polhut (MMP) Desa Wanagiri, I Wayan Sutarka dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (1/10) sore.

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai KSDA Bali Drs. I Made Mastra membenarkan telah menerima surat pemberitahuan bahwa obyek wisata selfie sementara ditutup dari pihak Mitra Masyarakat Polhut (MMP) Desa Wanagiri berdasarka persetujuan Kelian Desa Pakraman setempat berdasarkan surat tertanggal 27 September 2017,bernomor 05/DP-WGR/IX/2017.

Mastra selaku penanggung jawab kawasan konservasi kemudian tak menampik, munculnya surat pemberitahuan dari MMP Desa Wanagiri berdasarkan dari rencana pihak BKSDA menertibkan beberapa obyek wisata selfie yang disinyalir sudah melanggar kesepakatan.

Lepas dari rencana penertiban, pihaknya sebenarnya merasa prihatin setelah sebelumnya sempat melakukan pengecekan, hingga menemukan fakta mencengangkan dilapangan.

BKSDA melakukan pengecekan di obyek wisata selfie puncak, cemara kembar, puncak banyumala, dan selfie danau kembar.

Kelompok-kelompok masyarakat di Desa Wanagiri mulai berlomba meraup keuntungan dengan mendirikan obyek wisata selfie di kawasan hutan milik BKSDA.

“Sudah semakin menjamur, dan sebenarnya kami dari Polhut Balai KSDA Bali sudah beberapa kali mengingatkan masyarakat agar tidak mendirikan obyek wisata lokasi selfie diluar kesepakatan yang sudah disetujui,” kata Mastra dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (1/10) malam.

Mastra akhirnya mengungkapkan bahwa sejatinya pihak BKSDA secara khusus sudah memberikan kelonggaran berupa sebuah kebijakan kepada empat banjar adat di Desa Pakraman Wanagiri untuk mendirikan obyek wisata selfie.

“Dalam rapat bersama Perbekel dan Kelian Desa Pakraman Wanagiri, pihak BKSDA memberikan rekomendasi, dimana per banjar adat hanya diperbolehkan membangun satu obyek wisata selfie. Jadi sebenarnya hanya ada empat obyek wisata selfie dikelola masing-masing banjar adat, dan tidak menjamur hingga berjumlah delapan seperti saat ini,” terangnya.

Pihak BKSDA sambung Mastra merekomendasi empat Banjar Adat di Desa Pakraman Wanasari, yakni Tirta Ketipat, Bhuanasari, Asah Panji Kaja, Asah Panji Kelod, untuk mengelola masing-masing satu lokasi wisata.

Nah, merujuk surat pemberitahuan pihaknya pun menegaskan tak akan bertanggung jawab jika nantinya terjadi temuan terhadap pihak pengelola oleh Saber Pungli.

“Ya, mau bagaimana lagi. Kalau ada temuan dari tim Saber Pungli, kami dengan terpaksa lepas tangan jika mereka masih membandel ingin mendirikan obyek wisata selfie dengan melabrak kesepakatan,” imbuhnya.

Meski demikian, pihaknya tetap berupaya menempuh langkah-langkah persuasif melalui pendekatan kepada kelompok-kelompok penggiat obyek wisata selfie di Desa Wanagiri.

“Kami sudah melakukan kordinasi ulang dengan Perbekel, Kelian Desa Pakraman juga Dinas Pariwisata, dan secepatnya kami akan menggelar rapat sebelum hal yang tidak diinginkan menimpa kelompok penggiat obyek wisata selfie,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Sutrisna dihubungi melalui telepon menjelaskan bahwa obyek wisata di Desa Wanagiri memang sepenuhnya pengelolaannya merupakan milik BKSDA.

“Kami berharap, masyarakat harus tunduk, dan mentaati aturan yang ditetapkan oleh pihak BKSDA,” singkatnya.

Tinggalkan Komentar...