Petani jeruk menjerit karena harga jual menurun. Ditambah belakangan kebun dipenuhi abu akibat erupsi gunung agung
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Bangli, balipuspanews.com- Abu erupsi Gunung Agung yang menyebar sampai ke wilayah Kintamani, Bangli berdampak pada kebun jeruk milik warga. Warga harus kontinyu menyemprotkan air ke buah jeruk agar tidak gagal panen.

“ Kalau tidak dibersihkan. Nanti buahnya bisa gugur sebelum panen,” kata Nyoman Munduk, salah satu warga Abuan, Kintamani, kepada Balipuspanews.com.

Menurutnya, abu vulkanik erupsi gunung agung saban hari semakin tebal. Hal itu menyebabkan petani jeruk harus rajin membersihkah kebun agar tidak mengalami kerugian terlalu banyak.

Baca Juga: Hancur Dihantam Gelombang, Tanggul Air Sanih Diperbaiki

Lantas bagaimana dengan harga buah jeruk? Nyoman Munduk mengakui harga buah jeruk perkilonya mengalami penurunan. Jika sebelumnya harga Rp 4 ribu perkilo, kini turun menjadi Rp 2 ribu perkilo.

“ Turunnya sangat keras. Tapi ini sudah resiko,” kata pria yang mengarap lahan pertanian sekitar tiga hektar itu.

Hal yang tidak jauh beda juga disampaikan oleh petani jeruk asal banjar Pisang, Taro, Tegallalang Gianyar. Made Merta salah satu petani jeruk mengakui kebun jeruknya dipenuhi abu akibat erupsi Gunung Agung.

“ Sejak dua hari belakangan ini, abunya semakin tebal. Saya selalu menyemprot buah jeruk agar buahnya tidak busuk dipohon,” kata Merta.

Merta mengaku untuk mencegah kerugian terhadap panen jeruk dikebunnya, dirinya langsung memetik buahnya untuk dijual.

“ Buahnya banyak bisa dipanen. Karena sudah masak,” ujar Merta sambil membersihkan buah jeruk yang berisi abu.

Petani jeruk dikawasan Kintamani sejak beberapa bulan belakangan menjerit karena harga jual terus mengalami penurunan. Bahkan, penurunannya sangat signifikan. ( sur)

Tinggalkan Komentar...