Nyoman Wija
Nyoman Wija

DALAM memasuki peradaban global era revolusi industri ke-empat (Industri 4.0) dengan kemajuan dan perkembangan teknologi serba canggih, kehidupan kita dan bahkan dunia pun harus beradaptasi dengan sebuah perubahan dahsyat dan maha besar.

Hal ini tentunya akibat terjadinya pandemi global wabah virus corona, COVID – 19. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan sebagai ancaman sangat serius dan cukup besar bagi dunia. Dimana, hampir seluruh negara telah terpapar dan bahkan memicu angka kematian sangat dramatis dan relatif mengerikan.

WHO pun menegaskan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk dapat menghapus virus corona, COVID – 19 dari bumi dalam waktu cepat.

Atas dasar itulah, kita dituntut berbenah diri dalam berbagai tatanan kehidupan secara terus menerus, terutama lebih fokus kepada upaya menjaga kesehatan personal atau pribadi dan kebersihan lingkungan, serta interaksi publik yang sangat berbeda dari biasanya seperti selama ini.

Dengan begitu, setidaknya dapat mencegah terinfeksi atau terpapar COVID – 19, sehingga tidak mudah jatuh sakit dan sampai nyawa terancam dari kematian. Artinya, kita dituntut harus mampu “berdamai’ atau “bersahabat” dengan COVID – 19, bahkan harus terbiasa dianggap sebagai “penjaga” terbaik dan paling setia bagi kehidupan di masa depan.

Pada akhirnya, kita pun harus bisa selalu bersama, saling menguatkan untuk menjaga kesehatan, dan kebersihan, serta tetap produktif secara aman dan nyaman.

Tatkala, pandemi global wabah virus corona, COVID – 19, yang termasuk jenis baru ini terdeteksi di Wuhan, China pada akhir 2019, telah bermunculan berbagai istilah, seperti pengujian massal, jumlah kasus, hingga angka kematian.

Hal ini, tentunya untuk menggambarkan situasi yang sangat berbeda di setiap negara. Tapi, tak jarang istilah ini kerap memicu beragam pendapat, sehingga terjadi konflik kepentingan para elit di pemerintahan, serta kebingungan dan kepanikan di tengah masyarakat.

Bahkan, dampaknya dapat berpengaruh terhadap implementasi langkah penanganan dalam pencegahan pandemi wabah virus corona, COVID – 19 ini.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk memahami istilah tersebut agar memudahkan dalam mengetahui perkembangan pandemi wabah virus corona, COVID – 19 secara cepat dan tepat tanpa memicu konflik sosial secara publik.

Kini, untuk mengatasi penyebaran pandemi global wabah virus corona, COVID – 19, pemerintah pun telah mengeluarkan berbagai kebijakan publik dengan tagline atau slogan belajar, beribah dan bekerja di rumah saja.
Pada dasarnya kebijakan tersebut merupakan himbauan yang secara sukarela wajib untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi kebaikan bersama. Diantaranya, wajib pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak (social distancing), serta lainnya.
Implikasinya, dinamika perekonomian bangsa termasuk Bali pun mengalami gejolak perubahan sangat dasyat. Begitu pula, kehidupan sosial ekonomi publik semakin kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan finansialnya.
Pelaku bisnis, industri kreatif, dan pariwisata sebagai indikator utama penghidupan perekonomian bangsa mengalami kondisi sangat meresahkan. Intinya, daya beli masyarakat pun kian menurun, akibat adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) berskala besar.

Nah, untuk mengalahkan pandemi wabah global virus corona, COVID – 19 ini, tentunya semua pihak terkait dituntut harus selalu bersatu dan saling berbagi peran secara terbuka dan adil, sesuai prinsip keadilan dan kesetaraan demi kepentingan publik.

Meski pun sesungguhnya tidak mudah beradaptasi dengan perubahan global kekinian akibat adanya pandemi ini, hendaknya dalam kesadaran dan kesabaran kita selalu mematuhi kebijakan pemerintah demi kebaikan bersama tentunya.

Ingatlah dibalik musibah pasti selalu ada berkah yang patut dijadikan refleksi sebagai proses pembelajaran sekaligus upaya bijak dalam berbenah diri menuju kebaikan secara terus menerus.
Jika menyikapi berbagai kebijakan pemerintah untuk dirumah saja ternyata punya kesan kebaikan tersendiri dan bahkan patut dimaknai secara bijak terutama dalam tatanan sosial kehidupan publik, tetutama aturan wajib pakai masker dan jaga jarak.

Daya tarik berbeda itu adalah sulitnya melihat senyum diantara kita ketika saling bertemu sebab tertutup masker. Dan, kita pun harus mampu melihat senyum tersebut dari tatapan mata saja.

Selain itu, keakraban publik pun seakan harus berjarak dan tak ada jabat tangan ataupun saling berpelukan, dan cipika – cipiki. Diantara kita hanya bisa saling sapa pakai salam jarak jauh, sedikitnya sekitar se-meter atau lebih, seperti salam namaste atau salam om suastyastu cara Hindu dengan mengatupkan kedua tangan di dada, dan lambaian tangan, serta salam dari hati dimana telapak tangan kanan diletakkan di dada kiri setelah itu badan sedikit membungkuk.

Hal ini mengingat bahwa tangan sebagai salah satu penyebab penularan virus corona diantara kita, dari orang ke orang lain. Dimana, secara medis tangan kita dianggap dapat menempelkan berbagai virus, bakteri, juga kuman lainnya, tak terkecuali virus corona, COVID – 19.

Dari fakta itulah, terbesit istilah kekinian berupa budaya corona, seperti senyum corona, dan rajin corona, serta sehat corona. Artinya, kita dituntut jaga jarak tapi tetap ramah dan santun, juga harus selalu sehat atau jangan sakit, dan harus selalu bersih atau tak boleh malas.
Lantas, sudahkah saran bijak dari “saudara” kita COVID – 19 tersebut kita lakukan demi kebaikan bersama. Semuanya, tentunya kembali dari kesadaran dan kemauan kita secara personal atau pribadi. Sementara itu, untuk urusan lainnya sudah pasti menjadi tanggungjawab pemerintah tentunya.

Patut disadari tatkala COVID – 19 sudah bisa kita anggap sebagai “sahabat” ataupun “penjaga” jiwa sudah semestinya kehidupan ini harus dapat beradaptasi secara normal dalam batasan tertentu. Artinya, tidak harus terjebak urusan aneka administrasi kepedudukan selain e-KTP (Kartu Tanda Penduduk) berskala nasional. Hanya berdalih pencegahan penularan pandemi COVID – 19.

Hal ini tentunya sebagai langkah antisipasi terjadinya praktik melanggar hukum yang dilegalkan di tengah pandemi COVID – 19, seperti pemerasan dan pungutan liar (pungli) berdalih keamanan dan kenyamanan bersama, demi kepentingan pihak tertentu baik personal atau pribadi maupun kelompok/golongan.

Intinya, jangan sampai budaya corona melahirkan budaya pungli yang selama ini sudah menjadi rahasia publik, disinyalir telah terjadi pembiaran, sehingga semakin mengakar dan tumbuh subur dalam birokrasi lembaga desa pakraman (desa adat) di Bali.
Pada akhirnya, kita semua harus peduli dengan budaya corona. Bijak dalam menguatkan kehidupan ini. Tetaplah selalu mematuhi kebijakan pemerintah.

Lakukan tiga langkah mandiri secara terus menerus dan jadikan sebagai kebiasaan dengan kesadaran dan kesabaran demi kebaikan bersama. Seperti selalu pakai masker, dan selalu cuci tangan, serta selalu jaga jarak dalam tatanan sosial di tengah kehidupan publik.

Ayo, marilah kita bangkit saling menguatkan. Bersama kita pasti bisa. Salam budaya corona.***

Penulis : Nyoman Wija – Jurnalis – Kritikus Seni Budaya – Dosen Ekonomi.