Buleleng Secara Bertahap Mulai Program Pengelolaan Sampah Berbasis Desa

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat melakukan penandatanganan peresmian TPS3R Sanker Bersehati di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng 
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat melakukan penandatanganan peresmian TPS3R Sanker Bersehati di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng 

BULELENG, balipuspanews.com – Persoalan penanganan sampah berbasis desa terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng secara bertahap. Program pengelolaan sampah berbasis desa ini tentunya sejalan dengan apa yang menjadi program Gubernur Bali, Wayan Koster dalam hal penanganan permasalahan sampah.

Menyusul hal itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana kembali meresmikan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sandi Kerta Bersih, Sejuk, Halamannya Luas, Asri Tertib dan Indah (Sanker Bersehati) Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Senin (6/9/2021).

Agus Suradnyana mengatakan bahwa pada berbagai kesempatan dirinya telah menyampaikan bahwa program pengelolaan sampah berbasis sumber khususnya di desa menjadi sangat penting.

Maka dengan begitu program akan dilakukan secara bertahap di Kabupaten Buleleng. Sehingga kedepan desa diharapkan bisa untuk mengelola sampah secara mandiri serta tidak sampai kembali menginginkan sampahnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan volume yang cukup besar.

“Kalau tetap volume sampah ke TPA besar maka dapat menimbulkan masalah baru, tapi kalau pengelolaan ini berhasil nanti akan ada penilaian. Diberikan BKK yang lebih besar kepada desa yang mampu mengelola sampah dengan baik,” jelasnya.

Lebih lanjut diterangkan jika setiap tahun, akan ada penilaian terhadap masing-masing desa. Desa mana program pengelolaan sampahnya sudah baik. Sesuai dengan penilaian tersebut, ditentukan desa mana yang bisa diberikan tambahan BKK karena sudah melakukan berbagai upaya untuk menjaga lingkungan. Semangat menjaga lingkungan oleh seluruh pihak ini tidak boleh surut untuk kebaikan bersama.

“Walaupun saya sebentar lagi selesai menjadi kepala daerah, namun semangat saya tetap membara. Saya selaku kepala daerah beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Buleleng mengucapkan selamat kepada Desa Pejarakan yang telah berhasil membangun TPS3R,” paparnya.

Disisi lain, Perbekel (Kepala Desa) Desa Pejarakan I Made Astawa menyebutkan penduduknya berjumlah 3.417 Kepala Keluarga (KK). Dengan jumlah jiwa sebanyak 11.872.

Desa Pejarakan terdiri dari Sembilan wilayah banjar dinas dan Sembilan wilayah banjar adat. Semua itu menjadi sasaran dalam upaya penanganan sampah berbasis sumber yang akan dikelola dengan baik.

“Upaya awalnya ya pembangunan TPS3R ini dimana merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) RI,” ujarnya.

Untuk operasional TPS3R, pada tahun 2022 dialokasikan khusus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Pejarakan sebesar Rp155 Juta. Untuk biaya operasional setelah diresmikan Bupati Buleleng masih tersisa Rp18 juta. Jumlah ini tentu kurang untuk tiga bulan. Maka dari itu, diupayakan sasaran dari tahun terdahulu. Awig-awig (aturan) desa adat juga memberikan subsisdi bagi warga.

“Ini upaya bersama untuk mewujudkan Desa Pejarakan yang bersih. Kita upayakan pula untuk menggandeng perusahaan untuk memberikan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk menghidupkan TPS3R,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Pejarakan Ketut Sarta mengungkapkan sampai saat ini ada 86 KK yang sudah melakukan pemilahan sampah berbasis sumber.

Efisiensi biaya pengelolaan sampah juga dilakukan dengan berbagai upaya. Seperti memaksimalkan peran teruna-teruni, sekaa bajang, dan dibantu pihak ketiga yaitu Pure Project. Pihak ketiga ini yang membantu edukasi ke rumah-rumah.

“Dalam hal penanganan dan pemetaan pengelolaan sampah berbasis sumber di rumah tangga,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya bersama desa dinas dan desa adat sedang berbenah dalam hal pengelolaan sampah. Dengan adanya TPS3R Sanker Bersehati, lima banjar dinas dijadikan pilot project. Masing-masing banjara da sekitar 400 KK. Lima banjar dinas ini adalah Marga Garuda, Batu Ampar, Sandi Kerta dan Pejarakan.

Pengelolaan sampah dilakukan dengan berbagai strategi atau cara. Pengelolaan sampah di rumah diberikan tong sampah. Nantinya, sampah akan dijemput per hari. Setelah itu, sampah dikelola di dua tempat yaitu di rumah pilah dan TPS3R.

“Dua tempat ini kita jadikan satu manajemen, tapi pekerjaan pengelolaan sampah termasuk compostingnya bersama. Compostingnya ada di rumah pilah dan TPS3R ini,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan