Singaraja, balipuspanews.com – Sembilan kecamatan di Buleleng mengirimkan wakilnya untuk adu ketangkasan dalam Lomba Ngelawar antar kecamatan. Kegiatan lomba ini dilaksanakan di Zona E, tepatnya areal Rumah Jabatan Bupati Buleleng.

Setiap peserta diberikan keleluasaan membuat berbagai macam adonan lawar, mulai dari Lawar Kuwier, Lawar Klungah,Lawar Putih, Lawar Nangka, Lawar Nyawan,kemudian ada juga yang membuat Sate Lilit, Sate Kablet, hingga Jukut Ares.

Nah, lomba Ngelawar rangkaian perayaan Bulfest bertepatan dengan perayaan ulang tahun (ultah) Bupati Agus Suradnyana.

Di tengah suasana gembira, Bupati kelahiran 4 Agustus 1963 ini merayakan ulang tahunnya dalam kondisi cedera kaki.

Kelingking kaki bagian kananya harus dioperasi karena patah tulang. Bupati Agus, pun terlihat hanya bisa duduk diatas kursi roda saat merayakan ulang tahunnya.

Saat Ngelawar, tiap kecamatan diwakili oleh satu tim, terdiri dari 10 orang. Mereka membagi tugas dalam mengolah Kuwir menjadi aneka hidangan. Ada yang memarut kelapa, memotong daging, mencincang bumbu, memotong batang pisang, hingga memanggang sate.

Ketua Panitia Ngelawar Made Sriwati, menjelaskan tujuan diadakannya tradisi nglewar ini adalah untuk melestarikan berbagai ragam kuliner yang dimiliki oleh Buleleng. Sesuai dengan tema Buleleng Festival yakni The Power of Buleleng, jika cita rasa ragam kuliner di Buleleng begitu kuat sehingga merepresentasikan tema yang diangkat.

“Buleleng memiliki ragam kuliner yang khas, rasanya enak dan berani berimprovisasi. Cocok jika dikaitkan dengan tema Bulfest kali ini yakni The Power of Buleleng. meski lawar dan jukut ares itu ada di mana-mana, tetapi di Buleleng memiliki cara mengolah dan rasa yang khas dibandingkan dengan wilayah lain di Bali” kata Sriwati.

Sriwati pun menjelaskan bahwa ada beberapa kriteria dalam penjurian ketika lomba ngelawar digelar. Dewan Juri yang terdiri dari tiga orang tidak hanya fokus pada urusan rasa. Namun juga sisi lain seperti cara mempersiapkan, kebersihan peralatan, ketepatan waktu, tata cara penyajian, kreativitas, tradisi dan kelenturan.

“Lawar sudah menjadi makanan yang sangat populer di Bali. Semua orang sudah tahu menu lawar yang tidak harus terbuat dari babi, melainkan berbagai bahan pokok seperti ayam, kuwir, bahkan ikan. Ini harus dilestarikan dan tetap berinovasi dalam proses penyajian,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan jika lomba ngelawar Kuwir dan Ayam ini dibiayai sendiri dari kantong pribadinya. Sebab kegiatan lomba ngelawar ini tidak dianggarkan dalam Bulfest, lantaran minimnya biaya. Bupati Agus Suradnyana menjatah setiap tim sebesar 2,5 juta. Dari dana itulah yang dipergunakan tim untuk membiayai ngelawar.

“Kami kemas ini murah meriah. Saya mengeluarkan dana pribadi per desa (tiap tim) 2,5 juta yang berani untuk berlomba. Mereka ikut lomba ngelawar, dan makanannya dimakan oleh banyak orang. Jadi dengan mengeluarkan uang total 22,5 juta, maka ratusan orang sudah bisa menikmati. Sedangkan hadiahnya saya keluarkan 10 juta untuk para pemenang dari dana pribadi, karena memang tidak dianggarkan dalam Bulfest,” kata Bupati Suradnyana.

Usai penilaian, seluruh hasil olahan lawar tersebut disantap bersama seluruh undangan dalam perayaan ulang tahun Bupati Agus Suradnyana.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here