Bulfest “The Power Of Buleleng” Resmi Ditutup

Singaraja, balipuspanews.com – Setelah dilangsungkan selama 5 hari, hajatan event tahunan Buleleng Festival (Bulfest) ke-V tahun 2017 resmi ditutup, Minggu (6/8) malam.

Penyelenggaraan Bulfest yang dimulai sejak Rabu (2/8) hingga minggu (6/8) ini ditutup oleh Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, yang didampingi Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, Sekkab Buleleng Dewa Ketut Puspaka, dan Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Putu Tastra Wijaya ditandai dengan pemukulan gong.

Dari tahun-ketahun, Penyelenggaraan Bulfest selalu menampilkan kesenian baik modern maupun tradisional. Ini terbukti banyakanya kesenian tradisional dan modern disuguhkan selama 5 hari berturut-turut di semua zona yang ditetepkan panitia.

Hal ini menandakan Pemkab Buleleng sangat peduli dengan seni budaya yang ada di Kabupaten Buleleng.

Tercatat, ada sebanyak 76 sekaa atau sanggar seni dilibatkan dalam pementasan. Sebanyak 20 sekaa diantaranya adalah sekaa baleganjur yang tampil pada pembukaan, serta sepuluh sekaa lainnya ialah sekaa ngoncang yang juga tampil saat pembukaan. Buleleng Festival juga menghadirkan beberapa kesenian tua. Seperti Janger Menyali yang notabene kesenian hasil rekonstruksi, drama gong, hingga gambuh. Ada pula beberapa seni yang bersifat eksperimental, seperti kolaborasi antara wayang dengan bondres yang dilakukan oleh Dalang Sembroli. Serta kolaborasi kesenian genjek dengan bondres yang dirancang oleh Bondres Rare Kual.

Bukan hanya itu, Bulfest juga menyuguhkan berbagai macam kuliner khas Kabupaten Buleleng. Mulai dari Belayag, Syobak hingga makanan tradisional yang dimiliki dari berbagai macam Kecamatan yang ada di Buleleng. Hal ini juga merupakan kiat Pemkab Buleleng untuk melestarikan kuliner khas Buleleng. Usaha ini tampak berhasil dengan ramainya pengunjung yang selalu memenuhi stand kuliner yang terdapat di Bulfest tahun 2017.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Putu Tastra Wijaya mengatakan, Buleleng Festival terbukti menjadi wahana yang sangat dinanti oleh para seniman untuk membuktikan kemampuannya. Tastra menyebut ada banyak kejutan dan harapan yang terungkap sepanjang pelaksanaan Bulfest 2017.

Selain itu Tastra juga mengklaim bahwa Bulfest 2017 memberikan multiplier effect yang cukup besar. Terbukti ada 181 stand pameran, 133 stand kuliner, dan 240 pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Ngurah Rai yang turut kecipratan dampak dari Buleleng Festival.

“Khusus untuk stand kaki lima, berhasil berjualan dengan nilai Rp 960 juta, stand UMKM dengan nominal Rp 851 juta, dan stand kuliner senilai Rp 665 juta. “Total transaksi sebanyak Rp 2,4 miliar,” kata Tastra.

Sementara itu Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra, Sp.OG mengungkapkan, animo masyarakat begitu besar untuk hadir dan berpartisipasi dalam Bulfest. Transaksi ekonomi di arena Bulfest juga memberikan dampak yang cukup besar. Terbukti transaksi selama Bulfest 2017 tahun ini mengalami peningkatan dua kali lipat, jika dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 1,2 miliar.

Sutjidra memastikan Buleleng Festival akan kembali dilangsungkan tahun 2018 mendatang dan dirancang lebih meriah lagi.

“Tahun depan, Bapak Bupati Buleleng, Bapak Putu Agus Suradnyana sudah merancang Bulfest dilaksanakan selama tujuh hari. Semoga ikhtiar mengembangkan kesenian ini bisa terus terwujud agar seniman terus mengembangkan prestasi dan melakukan aktualisasi diri lewat seni,” tandas Sutjidra.

Dalam acara penutupan Bulfest 2017, dilagsungkan juga penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba yang diselenggarakan selama Bulfest berlangsung.