SINGARAJA, balipispanews.com — Gelaran Buleleng Festival (Bulfest)  ke-VII di tahun 2019 kali ini, terlihat sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Yang membedakan disini adalah pemberian ruang kepada zona millennial untuk menunjukkan kreatifitas serta membantu dalam menunjang produk-produk lokal Buleleng.

Zona millennial ini digelar pada serangkaian acara Bulfest 2019 pada soft opening Bulfest ke-VII tahun 2019 yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG yang bertempat di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Minggu (4/8).

Usai membuka acara, Wabup Sutjidra mengatakan dalam  zona millennial ini, aspirasi dari anak-anak muda di Buleleng akan diserap agar dapat menampilkan sesuatu yang berbeda sesuai dengan inovasi dan kreasi yang dimiliki. Wirausaha muda di Singaraja dilihat sangat membutuhkan tempat untuk mengekspresikan ide dalam menjalankan usahanya seperti makanan, minuman, serta distro lokal Buleleng agar semakin dikenal masyarakat luas.

“Maka dari itu di Bulfest 2019  kita buatkan tempat dan zona khusus untuk generasi millennial,” ujarnya.

Konsep ini, masih kata Wabup Sutjidra baru pertama kalinya diciptakan sejak Bulfest pertama digelar. Jika selama 7 hari kedepan dilihat ramai dan sukses, rencananya konsep zona millennial ini akan terus diadakan, serta tidak menutup kemungkinan akan dibuat lebih megah lagi demi mendorong generasi muda untuk melakukan hal-hal yang positif.

“Konsep ini termasuk ide-ide dadakan yang diserap melalui aspirasi generasi millennial di Buleleng,” tambahnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan sebanyak 8,9% dari penduduk Buleleng usia produktif atau sekitar 90 ribu dari 500 ribu orang merupakan generasi millennial. Untuk itu, diperlukan perhatian yang lebih serius untuk membentuk generasi millennial yang berketuhanan, berilmu dan berbudi pekerti luhur. Sehingga di zona millennial ini, wirausaha muda bisa melihat peluang-peluang bisnis yang lebih luas lagi. Ia berharap melalui gelaran ini, timbul pikiran-pikiran positif untuk menghindari berita hoax, menghindari fitnah, agar tetap dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Saya sempat berkeliling tadi untuk melihat apa saja yang tersedia, dan saya lihat semuanya sangat inovatif,” tutupnya.