Sabtu, Juli 20, 2024
BerandaNasionalJakartaBuntut Merah Putih Tak Berkibar di Piala Thomas, DPR Desak Pemerintah Perkuat...

Buntut Merah Putih Tak Berkibar di Piala Thomas, DPR Desak Pemerintah Perkuat LADI

JAKARTA, balipuspanews.com – Kasus bendera Merah Putih yang tidak bisa berkibar ketika tim beregu putra Indonesia menjuarai Piala Thomas 2020 menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah untuk segera memperkuat keberadaan Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI).

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan insiden tidak berkibarnya bendera Merah Putih karena sanksi yang dijatuhkan World Anti-Doping Agency (WADA) kepada kontingen Indonesia tidak perlu terjadi jika LADI serius mengirimkan sampel bebas doping para atlet kontingen Indonesia di Piala Thomas sebelum partai final.

Akibat kelalaian dari pihak LADI itu, Tim Indonesia yang sukses mengangkat trofi juara Piala Thomas 2020 setelah mengalahkan China 3-0 pada laga final yang dihelat di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021) malam WIB, harus menahan malu karena ketika Lagu Indonesia Raya berkumandang tidak diiikuti beekibarnya bendera Merah Putih. Karena bendera Merah Putih diganti bendera berlambang PBSI.

“Anti doping menjadi perhatian Komisi X DPR RI. Semestinya, pada saat Indonesia bisa lolos dari sanksi jika LADI serius mengirimkan sampel pengiriman doping dalam tenggat waktu 21 hari seperti yang diminta oleh Badan Anti-Doping Dunia atau World Anti-Doping Agency (WADA) untuk pengiriman sampel doping,” ucap Syaiful Huda saat menjadi narasumber dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Sukses Tim Thomas Cup Tanpa Kibaran Merah Putih, Ada Apa?” di Media Center Parlemen, Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Kamis (21/10/2021).

BACA :  Diduga Depresi, Seorang Kakek Ditemukan Gantung Diri

Kalau saja, LADI dapat mengirimkan sampel doping tim bulutangkis Indonesia maka seharusnya Indonesia dalam Piala Thomas Cup dapat mengibarkan bendera Merah Putih.

Hadir secara virtual sebagai nara sumber Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian serta hadir secara fisik eks-Ketua LADI Dr. Zaini Khadafi.

Huda, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) ini menambahkan pasal 85 Undang-undang (UU) No. 3 Tahun 2005 tentang. Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) mengatur tentang doping. Khususnya ayat 3 secara tegas menyatakan bahwa pengawasan doping dilakukan pemerintah.

Kendati demikian, Huda tetap mengapresiasi langkah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali yang langsung membentuk tim akselerasi dan investigasi terkait pertimbangan penanganan WADA terhadap LADI tersebut.

“Saya mengharapkan, dalam investigasi tersebut menghasilkan kemajuan untuk Indonesia dapat segera keluar dari sanksi atau dilarang WADA ini,” tegas Huda.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian berpendapat ada komunikasi yang kurang baik antara LDAI dengan Kemenpora. Hetidah menekankan investigasi yabg dijanjikan Menpora Zainuddin Amali diharapkan dapat mengungkap masalah yang dihadapi LADI.

BACA :  Jalan Santai Meriahkan Peringatan Hari Koperasi ke-77 di Badung

“Kenapa LADI tidak mampu memenuhi harapan tersebut, dengan berbagai persoalan yang dihadapi? Kementerian harus menjembatani memberikan informasi yang lebih jelas tentang situasi yang dihadapi LADI,” tegas Hetifah.

Pembicara lainnya, mantan Ketua Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) dokter Zaini Khadafi mengungkapkan insiden tiska berkibarnya bendera Merah Putih meski Tim Piala Thomaa Indonesia juara bukanlah insiden pertama kali.

“Ini sudah kejadian kedua, kalau kita mundur dari 2016 ke bawah LADI itu didirikan tahun 2004, dari 2004 ke 2016 di sanksi pertama, itu juga tak terlalu nyata kegiatannya,” sebut dr Zaini.

Dalam pandangannya belum bisa dikatakan organisasi yang betul-betul permanen sifatnya.

“Dan memang bentuknya kalau kita lihat secara peraturan keundang-undangan hanya bersifat kepanitiaan atau adhoc. Itu yang menjadi satu kelemahan,” ujarnya.

Mantan atlet buluangkis juara dunia, Lilik Sudarwati menyayangkan insiden bendera Merah Putih tak bisa berkibar saat Indonesia menjadi juara Piala Thomas atau Thomas Cup 2020 (2021), pada Minggu (17/10/2021) malam WIB.

“Ini sesuatu kejadian yang miris. Saya merasakan bahwa Atlet itu pekerja keras. Setiap hari kami latihan di lapangan. Jika melihat insiden ini tentu prihatin. Padahal itu event besar hal yang kami cari yaitu berkibar merah putih,” tutur Lilik.

BACA :  Kejari Jembrana Serahkan Puluhan Paket Sembako

Lilik menyesalkan insiden tersebut terjadi karena bila dirunut kronologinya pada 7 Oktober 2021, WADA menyatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak patuh dalam menerapkan program uji doping.

Lantaran tak mematuhi program tersebut, muncul tiga sanksi dari WADA. Selain pelarangan pengibaran bendera di berbagai ajang olahraga selain Olimpiade, Indonesia juga disebut tidak memenuhi syarat menjadi tuan rumah dalam kejuaraan tingkat regional, kontinental, atau dunia.

Satu sanksi lainnya adalah perwakilan Indonesia tidak memenuhi syarat menempati posisi anggota dewan di dalam sebuah komite olahraga.

Mesti begitu, Lilik yang pernah berhasil menyabet gelar Juara Dunia Ganda Putri bersama Susy Susanti pada 1986 itu mengatakan momentum larangan kibarkan merah putih tersebut merupakan pembelajaran bagi semua stakeholder olehraga di tanah air.

“Saya kira masalah doping cukup merepotkan. Pelaku olahraga rata-rata kita sekarang belum memahami. Untuk itu perlu sosialisasi terhadap atlet di seluruh cabang olahraga kita. Apa yang terjadi hari ini menjadi pembelajaran bagi kita bersama,” pungkas Lilik Sudarwati.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular