Sawah kena lembah
Sawah kena lembah
sewa motor matic murah dibali

GARUT, balipuspanews. com- Kabupaten Garut merupakan Kabupaten yang tidak asing lagi sebagai produksi Jaket kulit. Produksi jaket kulit terbesar di wilayah Kabupaten Garut yakni kawasan Sukaregang. Akan tetapi pengelola jaket kulit Sukaregang sama sekali tidak memikirkan persoalan dampak limbah, baik limbah matrial maupun limbah cair.

Kondisi saat ini, limbah yang dihasilkan dari pengelola kulit semakin parah. Pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan limbah pengelola kulit merugikan masyarakat petani.

Akibat pencemaran limbah meluas ke wilayah Kelurahan Sukamentri diantaranya Kampung Lengkong, Kampung Bojonglarang, Kampung Tanjungpura dan Kampung Copong.

Pasalnya, akibat pencemaran limbah kulit kawasan Sukaregang dinilai masyarakat telah menghancurkan ekonomi, dimana sawah – sawah mereka hasilnya menurun bahkan sering gagal panen.

Dikarenakan air yang untuk mengairi sawah mereka bercampur limbah kulit Sukaregang, air berwarna hitam dan mengeluarkan aroma tidak sedap.

Menurut pengakuan puluhan warga Kelurahan Sukamentri limbah dari pengelolaan kulit kawasan Sukaregang sudah teramat parah. Mencemari saluran air yang dipergunakan untuk mengairi sawah mereka. “saya mengharapkan kepada bapak Bupti Rudy Gunawan tolong perhatikan nasib para petani, industri boleh berjalan, akan tetapi pengelolaan sawah para petani harus benar – benar diperhatikan” ungkap Asef Mulyana (58) warga Kampung Tanjungpura Selasa (9/72019) di Kampung Tanjungpura.

Limbah dari pengelolaan kulit kawasan Sukaregang sudah sedemikian parahnya. Akibatnya kami merasa sangat dirugikan, lantaran hasil panen menurun bahkan sering gagal panen “kalau terus menerus dan dibiarkan hasil panen menurun, sudah barang tentu sangat berpengaruh pendapatan dan buruknya perekonomian para petani” ungkap Mulyana.

Sementara itu Dadang Kosasih (49) warga kampung Bojonglarang pada hari yang sama menuturkan. Pengelolaan kulit kawasan Sukaregang berdampak pada kehidupan para petani, masyarakat Kelurahan Sukamentri mayoritas sebagai petani dan berladang. Sedangkan air yang dipergunakan untuk mengairi sawah dan ladang bercampur limbah bau dan hitam lekap.

“saya jujur saja sudah lebih dari 2 tahun tidak mampu bayar Pajak Bumi dan Bangunan. Bukan berarti saya warga yang tidak mentaati peraturan dan kewajiban, melainkan kami tidak punya unga untuk membayar pajak. Bapak bayangkan, hasil panen padi terus menurun dan sering gagal panen, saya tidak punya uang, buat makan sehari – hari saja kewalahan” memaparkan.

Terkait dengan perekonomian masyarakat Kelurahan Sukamentri Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut Jawa Barat. Dibenarkan oleh petugas pemungut pajak lapangan Kelurahan Sukamentri D. Herdiana. Banyak warga yang tidak mau membayar pajak. Apa boleh buat, karena warga tidak mau membayar pajak karena tidak punya uang.

Kondisi ekonomi para petani sangat dirasakan, mereka adalah warga sadar pajak. Akan tetapi dengan kondisi hasil panen padi mereka menurun drastis akibat gagal panen, sangat memprihatinkan. “Dari empat kampung sejumlah 90 hektare sawah, dari luas 90 hektare sawah 30 persen memenuhi kewajiban membayar pajak dan 60 persen tidak memenuhi kewajiban pajak. Hasil panen para petani tidak berkecukupan penyebab pencemaran limbah pengelolaan kulit, limbah pengelolaan kulit mencemari juga air sumur” ungkap Herdiana. (M.Yadi/Bpn/tim)