Pelaku KP (47) saat digiring ke Mapolres Buleleng.
sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com — Pemilik panti asuhan Benih Kasih berinisial KP (47) akhirnya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Pelaku pun kini telah resmi ditahan dan harus meringkuk di balik jeruji besi Mapolres Buleleng.

Dugaan perbuatan cabul dilakukan pelaku KP juga seorang pendeta itu, terjadi di panti asuhan Benih Kasih Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Pelaku KP saat digelandang di Mapolres Buleleng, Senin (7/10) pagi, hanya tertunduk malu dan terus menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya.

Seizin Kapolres Buleleng, KBO Reskrim Polres Buleleng, Iptu Dewa Sudiasa mengakui, penanganan dugaan kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur sempat terkatung-katung beberapa bulan lamanya. Pasalnya, penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng masih mengumpulkan sejumlah bukti untuk menjerat pelaku.

Setelah cukup bukti, KP merupakan mantan seorang Caleg tingkat Kabupaten Buleleng tahun 2019 lalu, akhirnya resmi ditahan.

Lanjut Iptu Sudiasa, kasus dugaan pencabulan itu, pertama kali dilaporkan oleh Sokhinitona Hulu selaku pendamping salah satu anak asuh di panti asuhan. Tak dinyana, Hulu juga menjadi korban dari aksi bejat pelaku.

Pun terungkap bahwa aksi bejat yang dilakukan pelaku bukan hanya dilakukan terhadap satu orang saja, N (16), R (14) dan S juga turut menjadi korban nafsu bejat pelaku. Saat kejadian, ketiga kotban masih berumur 12 tahun dan ketiga korban sudah berumur 20 tahun.

“Dugaan pencabulan itu terjadi dengan waktu yang berbeda-beda. Dimana perbuatan dilakukan pelaku terhadap ketiga korban dimulai tahun 2011 terhadap korban S, kemudian sampai Desember 2018 terhadap korban N. Dan terhadap korban R dilakukan pada bulan Februari 2019 lalu,” ungkapnya.

Lalu apa motif pencabulan itu?

Iptu Sudiasa menjelaskan, cara dilakukan oleh pelaku yakni, dengan membujuk dan merayu para korban. Selain itu, korban tak bisa berkelit ini lantaran dibawah tekanan pelaku.

“Korban dirayu dulu, selanjutnya alat kelamin pelaku dielus-eluskan ke vagina korban. Hanya satu orang yang melapor, dan ada satu korban sudah menikah,” terangnya.

Sementara, pelaku KP tidak menampik perbuatannya. Meski begitu pelaku mengaku, perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka.

“Semua (korban) nggak berontak kok, mau dia. Saya nggak ingat berapa kali,” singkatnya.

Akibat perbuatannya, KP dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2014 perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman pidana paling lama 15 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 5 Miliar.