Calon Wakil Gubernur Bali Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati MSi (Cok Ace)
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Ubud, balipuspanews.com – Calon Wakil Gubernur Bali Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati MSi (Cok Ace) menegaskan komitmen untuk membangkitkan kepariwisataan Bali dengan mempertahankan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat.

Cok Ace yang pada Pilgub Bali 2018 mendatang berpasangan dengan Dr Ir Wayan Koster MM, menyatakan pihaknya selama ini banyak mencermati dunia kepariwisataan di Bali, terkait jabatannya sebagai Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali selama tiga kali periode.

“Permasalahan mendasar yang selama ini terjadi ialah tidak meratanya pembangunan kepariwisataan di Bali, sehingga menjadi timpang,” ujar Cok Ace.

Berpijak dari permasalahan ini, lanjutnya, maka ke depan pihaknya berkomitmen untuk membangkitkan kepariwisataan di Bali dengan tetap memepertahankan filosofi dan makna yang terkandung dalam kearifan lokal yang berlaku.

Bahkan, Cok Ace memandang perlunya penataan kawasan dengan mengacu pada konsep pengider-ider Panca Dewata yang mengibaratkan Bali sebagai rumah tinggal. Alam makrokosmos adalah Pulau Bali, dan manusia sebagai komponen terkecil.

Apabila mengacu pada konsep Panca Dewata, maka Bali dapat dibagi menjadi lima zona pembangunan, yakni bagian utara, selatan, timur, barat dan tengah.

Zona tengah adalah Siwa, sebagai daerah pusat kesenian dan kebudayaan berkembang. Di sinilah kekuatan seni dan budaya muncul sebagai taksu Bali yang sesungguhnya. Seni dan budaya ini yang sebenarnya menjadi jati diri Bali, sehingga kemudian dikenal sebagai destinasi wisata yang selalu membuat wisatawan ingin kembali datang.

Selanjutnya, ada zona utara sebagai Wisnu, yang merupakan pusat pemerintahan Sunda Kecil di masa lampau. Zona utara ini menjadi kawasan pendidikan, mencakup wilayah Buleleng dan Bangli.

Zona barat perlambang Mahadewa, yang mencakup wilayah Tabanan dan Jembrana. Pada dua kawasan ini, sektor perikanan dan agronomi berkembang pesat. Salah satunya, kawasan terasering Jati Luwih yang sudah diakui keberadaannya oleh dunia internasional.

Zona selatan adalah Brahma, yang jika diibaratkan dalam rumah tinggal maka sebagai wujud dari dapur. Di mana dapur ini mengolah dari bahan pangan menjadi makanan siap konsumsi dan tinggal disajikan. Wilayah zona selatan ialah Denpasar dan Badung, yang menjadi pusat pertumbuhan pariwisata di Bali. Bahkan, dari PAD Badung ini yang mayoritas didapatkan dari bidang pariwisata ini, maka kabupaten ini dapat ‘ngejot’ ke wilayah lain di Bali.

“Terakhir adalah zona timur sebagai kawasan spiritual. Jadi kalau kelima zona ini dikembalikan fungsinya dengan mempertahankan kearifan lokal, maka Bali menjadi ‘balance’ atau seimbang,” kata pria yang pernah menjadi Bupati Gianyar dua periode, yakni 2003-2008 dan 2008-2013.

Pasangan Dr Ir Wayan Koster MM – Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati MSi (Koster- Ace)

Dikatakannya, penguatan zonasi ini juga bisa berdampak signifikan terhadap pergerakan perekonomian di Bali. Hal ini dikarenakan, dengan keseimbangan zonasi maka dapat mempengaruhi masa tinggal wisatawan yang rata-rata selama tiga hari, sehingga dapat diperpanjang.

“Kalau masa tinggal wisatawan diperpanjang, maka penyerapan produk lokal menjadi lebih maksimal. Selama ini yang menjadi acuan adalah jumlah wisatawan yang datang ke Bali, ini harusnya direvisi menjadi berapa lama masa tinggal wisatawan. Sebagai contoh, jika ada turis 20 orang datang dan menginap 2-3 hari. Lantas jika dibandingkan dengan wisatawan 10 orang tapi masa tinggalnya 5-6 hari, maka tentu secara kualitas lebih bagus yang 10 orang itu. Ini berkaitan dengan okupansi dan penyerapan produk lokal,” katanya panjang lebar.

Ke depan, apabila dapat mengemban dan ngayah sekala niskala bersama Wayan Koster sebagai pemimpin di Bali, maka Cok Ace berharap dapat lebih memaksimalkan zonasi di Pulau Dewata ini. (Vivi)

Tinggalkan Komentar...